Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kelihatannya Ramah, Tapi Bisa Menyinggung! 10 Pertanyaan Basa-Basi yang Harus Kamu Hindari

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Jumat, 24 Oktober 2025 | 05:00 WIB
Tidak semua basa-basi terdengar menyenangkan. Hati-hati, satu pertanyaan yang salah bisa mengubah kesan pertama Anda selamanya.(Pinterest)
Tidak semua basa-basi terdengar menyenangkan. Hati-hati, satu pertanyaan yang salah bisa mengubah kesan pertama Anda selamanya.(Pinterest)

TRENGGALEK  - Dalam kehidupan sosial, kesan pertama memiliki peranan yang sangat penting.

Baik dalam dunia profesional, pertemanan, maupun perkenalan sehari-hari, cara seseorang memulai percakapan sering kali menentukan bagaimana hubungan tersebut akan berlanjut.

Banyak orang berusaha menampilkan diri dengan ramah dan sopan melalui basa-basi, namun tanpa disadari, ada sejumlah pertanyaan yang justru dapat menimbulkan kesan negatif di mata lawan bicara.

Basa-basi yang tampak ringan bisa saja dianggap tidak sopan, terlalu pribadi, atau bahkan menyinggung perasaan.

Berikut ini adalah 10 pertanyaan yang sebaiknya dihindari agar Anda tidak merusak kesan pertama tanpa sadar:

1. “Kamu kerja di mana?” atau “Gajinya berapa, kalau boleh tahu?”

Pertanyaan ini terdengar umum, namun sering kali dianggap terlalu pribadi, terutama bagi orang yang baru dikenal.

Dalam beberapa budaya, membicarakan pekerjaan atau penghasilan pada pertemuan pertama bisa dinilai tidak sopan dan menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan.

Lebih baik arahkan percakapan ke topik yang lebih netral, seperti hobi atau ketertarikan umum.

2. “Kapan nikah?” atau “Kok belum punya pasangan?”

Ini mungkin pertanyaan yang paling sering membuat orang merasa tidak nyaman.

Status hubungan seseorang merupakan hal yang sangat pribadi.

Alih-alih menunjukkan kepedulian, pertanyaan ini justru dapat menimbulkan tekanan, terlebih bagi mereka yang tengah berjuang dengan kehidupan pribadinya.

3. “Kamu asli mana?”

Meskipun tampak biasa, pertanyaan ini terkadang membuat lawan bicara merasa dikotakkan atau dinilai berdasarkan asal daerahnya.

Jika ingin mengenal lebih jauh, sebaiknya mulai dengan menanyakan hal-hal umum seperti “Kamu sudah lama di sini?” atau “Bagaimana kesanmu tentang kota ini?”

4. “Umur kamu berapa sih?”

Usia sering kali dianggap hal sensitif. Ada orang yang merasa tidak nyaman jika usia dijadikan topik awal pembicaraan, terutama jika perbedaan umur dijadikan bahan perbandingan atau candaan.

Dalam konteks profesional, yang lebih penting adalah kemampuan dan pengalaman, bukan angka usia.

5. “Kok kamu kelihatan capek/sakit/gemuk/kurus, sih?”

Komentar mengenai penampilan fisik, bahkan jika tidak bermaksud buruk, dapat menyinggung perasaan orang lain.

Setiap individu memiliki kepekaan tersendiri terhadap tubuhnya.

Jika ingin menunjukkan kepedulian, gunakan kalimat yang lebih lembut seperti “Semoga kamu sedang baik-baik saja, ya.”

6. “Keluarganya gimana?” atau “Orang tua masih lengkap?”

Pertanyaan ini bisa menjadi ranjau emosional bagi sebagian orang.

Tidak semua individu memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya, dan ada pula yang mungkin telah kehilangan orang terdekat.

Oleh karena itu, sebaiknya hindari pembahasan keluarga saat pertama kali berkenalan.

Baca Juga: Temui Presiden Prabowo, Presiden Afsel Kenang Dukungan Indonesia dalam Perjuangan Anti-Apartheid

7. “Kok bisa sendirian?” atau “Lagi nunggu siapa?”

Banyak orang menikmati waktu sendirian, dan bukan berarti mereka kesepian.

Pertanyaan semacam ini dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang dianggap aneh hanya karena datang tanpa teman.

Lebih baik mulai percakapan dengan sapaan ringan atau komentar netral seperti “Tempat ini cukup ramai, ya.”

8. “Kamu lulusan mana?”

Meskipun terdengar wajar, pertanyaan ini terkadang menimbulkan kesan menilai seseorang berdasarkan latar pendidikan.

Padahal, kecerdasan dan kemampuan seseorang tidak selalu diukur dari universitas atau sekolah tempat ia belajar.

Hindari kesan membandingkan, apalagi jika tujuannya hanya untuk mencari kesamaan strata pendidikan.

9. “Kamu tinggal di mana?”

Pertanyaan ini dapat terasa terlalu pribadi bagi orang yang baru dikenal.

Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, beberapa orang mungkin merasa terganggu karena menganggapnya sebagai bentuk pelacakan atau rasa ingin tahu berlebihan.

Cobalah menggantinya dengan “Kamu sering ke daerah sini?” yang terdengar lebih sopan.

10. “Kamu dulu sekolahnya jurusan apa? Kok bisa kerja di bidang ini?”

Walau tampak seperti pertanyaan umum, nada yang salah dapat membuatnya terdengar seperti bentuk meremehkan.

Banyak orang berpindah karier karena berbagai alasan, bukan karena kurang kompeten.

Gunakan pertanyaan terbuka yang lebih positif, seperti “Bagaimana awalnya kamu tertarik di bidang ini?”

Menjaga Kesan Pertama dengan Empati dan Kesadaran Kunci utama dalam menjaga kesan pertama adalah empati dan kesadaran diri.

Sebelum mengajukan pertanyaan, pikirkan terlebih dahulu apakah topik tersebut pantas dan nyaman untuk dibicarakan.

Bersikap sopan bukan berarti kaku, tetapi tahu batas mana yang seharusnya tidak dilampaui.

Gunakan kalimat yang menunjukkan minat tanpa menyinggung, misalnya:

Percakapan ringan yang berfokus pada pengalaman dan minat akan jauh lebih efektif menciptakan hubungan yang menyenangkan daripada basa-basi yang justru menimbulkan jarak.

 

ANTUSIAS: Siswa SMA Kristen Petra Surabaya sangat antusias melihat tampilan tarian dari anak-anak lingkungan sekitar.
ANTUSIAS: Siswa SMA Kristen Petra Surabaya sangat antusias melihat tampilan tarian dari anak-anak lingkungan sekitar.
Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Etika berbicara #Sosial tips #Basa basi