TRENGGALEK – Di tengah derasnya kemajuan teknologi fotografi, tren baru justru datang dari masa lalu.
Kamera digital lawas alias digicam jadul yang dulu sempat tergantikan oleh smartphone kini kembali populer di kalangan anak muda.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari kerinduan akan keaslian, nostalgia, dan keinginan untuk merayakan momen secara lebih nyata.
Kamera digital yang sempat menjadi primadona pada awal 2000an kini mendapat tempat baru di hati generasi muda, terutama Gen Z.
Model-model seperti Canon Ixus, Sony Cybershot, hingga Nikon Coolpix, yang dulu hanya digunakan untuk mendokumentasikan liburan keluarga atau acara sekolah, kini kembali diburu.
Banyak orang mulai mencari kamera digital lama bukan karena spesifikasinya, tapi karena karakter khas hasil fotonya yang berbeda dengan smartphone masa kini.
Secara teknis, kamera digital lawas memang kalah jauh dibanding ponsel pintar modern.
Resolusinya kecil, sensornya menggunakan teknologi CCD yang sudah jarang dipakai, dan warnanya sering kali terlihat tidak akurat.
Namun, justru di situlah daya tariknya.
Foto yang dihasilkan digicam jadul tampak lebih lembut, sedikit buram, dan memiliki tekstur khas yang sulit ditiru bahkan dengan filter digital.
Cahaya flash nya yang kuat sering menghasilkan foto dengan nuansa overexposure atau pantulan cahaya putih khas foto-foto tahun 2000an.
Tren ini juga tidak bisa dilepaskan dari bangkitnya gaya visual Y2K, sebuah estetika yang merayakan kembali nuansa tahun 1999-2005.
Dari mode pakaian, musik pop, hingga cara orang mendokumentasikan hidup, semuanya kembali menoleh ke masa di mana teknologi digital baru mulai berkembang.
Banyak anak muda mengunggah foto bergaya jadul ke media sosial.
Hasilnya terlihat lebih autentik, jujur, dan apa adanya, sangat berbeda dengan foto beresolusi tinggi dan penuh filter yang sering kita lihat hari ini.
Media sosial turut berperan besar dalam menghidupkan kembali tren ini.
Di TikTok dan Instagram, banyak kreator yang menampilkan hasil foto dari kamera digital lawas dan membandingkannya dengan hasil kamera ponsel.
Komunitas online pun bermunculan, berisi para pecinta kamera digital yang saling berbagi pengalaman, tips perawatan, hingga tempat berburu kamera second.
Menariknya, fenomena ini bukan hanya sebatas tren gaya hidup, tapi juga membuka peluang ekonomi baru untuk pasar kamera bekas, dan toko perbaikan alat elektronik lawas.
Banyak anak muda yang menjadikan hobi fotografi retro ini sebagai bagian dari ekspresi diri, bahkan ada yang memanfaatkannya untuk proyek kreatif seperti pembuatan zine, vlog bergaya 2000an, atau dokumentasi perjalanan dengan nuansa vintage digital.
Bagi sebagian orang, terutama yang tumbuh besar di era 2000an, digicam adalah simbol kenangan.
Suara klik khas tombol rana, layar kecil di belakang bodi, hingga tali pergelangan tangan yang selalu tergantung di sisi kamera, semuanya membangkitkan rasa rindu akan masa yang lebih sederhana.
Sedangkan bagi generasi muda yang baru mengenalnya, digicam adalah sesuatu yang baru tapi klasik, alat untuk mengekspresikan diri dengan cara yang unik di tengah dunia yang seragam secara digital.
Pada akhirnya, kembalinya digicam jadul bukan sekadar tren fotografi, melainkan bentuk nostalgia kolektif yang menghubungkan dua generasi, mereka yang dulu memotret masa kecil dengan kamera digital, dan mereka yang kini ingin merasakan lagi kehangatan foto hasil nuasansa masa lalu.
Dalam setiap kilatan cahaya dan warna yang sedikit pudar, tersimpan kerinduan pada masa di mana setiap jepretan menjadi kenangan yang sungguh hidup.