TRENGGALEK- Di balik layar media sosial yang menampilkan senyum ramah dan panorama indah dari berbagai tempat, ada sosok muda asal Trenggalek yang sederhana namun penuh semangat.
Namanya Fifturia Rifatulhusna, akrab disapa Ria Husna, seorang guru muda berusia 28 tahun yang tinggal di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.
Meski dikenal luas sebagai selebgram di Trenggalek dengan konten inspiratif dan penuh warna, Ria tetap menegaskan bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa, bukan sekadar profesi.
“Dedikasi saya untuk menjadi guru, Insyaallah 99 persen karena hati. Sisanya, 1 persen baru untuk mencari nafkah lewat media sosial,” ujarnya.
Sejak kecil, Ria dikenal aktif dan penuh rasa ingin tahu. Hobinya yang beragam mulai dari travelling, memasak, hingga menari menjadi bagian dari cara dirinya mengekspresikan semangat hidup.
Bagi Ria, perjalanan bukan sekadar melangkahkan kaki ke tempat baru, tetapi juga cara memperkaya jiwa dan memperluas pandangan hidup.
Dia sering membagikan pengalamannya di media sosial, lengkap dengan ulasan tentang tempat wisata, kafe, atau produk yang digunakannya saat bepergian.
Dari situlah muncul peluang. Melalui kerja sama endorse dan affiliate, Ria mulai menggabungkan passion-nya dengan penghasilan tambahan menjadikan hobi yang produktif dan bernilai ekonomi.
Sebagai seorang guru SD Negeri di Kecamatan Tugu, Ria tidak hanya mengajar mata pelajaran, tapi juga menanamkan nilai kepercayaan diri dan keberanian mengejar impian kepada murid-muridnya.
“Saya ingin anak-anak tahu bahwa guru juga bisa berkarya di luar sekolah. Asal niatnya baik dan tetap tanggung jawab, semua bisa berjalan berdampingan,” jelasnya.
Meski sebagian orang beranggapan bahwa profesi guru hanyalah “sampingan” bagi seorang selebgram, Ria menanggapinya dengan bijak.
“Bagi saya, mengajar itu bukan pekerjaan sampingan, tapi ladang pahala. Justru lewat media sosial, saya bisa memperluas dampak positif dari dunia pendidikan,” ungkapnya.
Dengan semangatnya yang tulus, Ria Husna menjadi teladan bagi banyak anak muda di Trenggalek.
Dia membuktikan bahwa menjadi guru bukan berarti berhenti bermimpi, dan bahwa passion bisa berjalan beriringan dengan profesi.
“Kuncinya adalah keseimbangan antara bekerja dengan hati dan menikmati hidup dengan rasa syukur,” tutupnya. (bim/rka)
Editor : Didin Cahya Firmansyah