TRENGGALEK– Tahi lalat sering dianggap sebagai tanda kecantikan atau ciri khas seseorang.
Namun di balik itu, munculnya banyak tahi lalat di kulit bisa berkaitan dengan kondisi tertentu pada tubuh.
Bintik kecil berwarna cokelat atau kehitaman ini terbentuk karena adanya penumpukan pigmen melanin di lapisan kulit.
Pada sebagian orang, jumlahnya hanya beberapa, tetapi ada juga yang muncul sangat banyak dan tersebar di berbagai bagian tubuh.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat tahi lalat tumbuh begitu banyak?
1. Pengaruh Genetik
Faktor keturunan menjadi salah satu penyebab utama seseorang memiliki banyak tahi lalat.
Jika orang tua memiliki kulit yang penuh bintik kecil, kemungkinan besar anak juga akan mewarisinya.
Selain itu, warna kulit juga berperan.
Kulit yang cenderung lebih terang lebih mudah membentuk pigmen melanin dibandingkan kulit yang gelap.
Biasanya, tahi lalat mulai tampak sejak masa anak-anak dan bertambah hingga memasuki usia dewasa muda.
2. Sering Terpapar Sinar Matahari
Sinar matahari, terutama sinar ultraviolet (UV), dapat memicu produksi melanin secara berlebihan.
Ketika kulit terus-menerus terpapar sinar UV tanpa perlindungan, sel penghasil pigmen akan bekerja lebih aktif, dan hasilnya muncullah bintik-bintik baru di kulit.
Kondisi ini sering terjadi pada bagian tubuh yang terbuka, seperti wajah, tangan, dan leher.
Karena itu, penggunaan tabir surya menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya tahi lalat baru.
3. Efek dari Obat-obatan Tertentu
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perubahan pada kulit, termasuk munculnya bintik hitam baru.
Obat kemoterapi, antimalaria, dan sejumlah obat pereda nyeri diketahui dapat memicu produksi melanin lebih banyak dari biasanya.
Meski tidak selalu berbahaya, perubahan kulit akibat obat sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter, terutama jika jumlah tahi lalat meningkat secara cepat.
4. Perubahan Hormon
Fluktuasi hormon dalam tubuh juga bisa menjadi penyebab munculnya tahi lalat baru.
Perubahan kadar hormon biasanya terjadi pada masa pubertas, kehamilan, atau menjelang menopause.
Kondisi ini menyebabkan aktivitas sel melanosit meningkat sehingga bintik-bintik di kulit terlihat lebih jelas.
Pada sebagian orang, warna tahi lalat juga bisa menjadi lebih pekat.
5. Bertambahnya Usia
Jumlah tahi lalat biasanya bertambah seiring bertambahnya usia, lalu perlahan memudar saat memasuki usia lanjut.
Meskipun umumnya tidak berbahaya, tetap perlu memperhatikan jika terjadi perubahan bentuk, warna, atau ukuran secara tiba-tiba.
Menurut sejumlah ahli kulit, perubahan semacam itu bisa menjadi tanda adanya pertumbuhan sel yang tidak normal dan perlu diperiksa lebih lanjut.
Kapan Perlu ke Dokter Kulit?
Tidak semua tahi lalat berbahaya, namun penting untuk mengenali ciri-ciri tahi lalat yang perlu diwaspadai.
Segera periksa ke dokter jika:
Warna tahi lalat tidak merata atau semakin gelap.
Bentuknya tidak simetris dan tepinya tampak kabur.
Ukurannya membesar dengan cepat.
Terasa gatal, nyeri, berdarah, atau mengeluarkan cairan.
Muncul tiba-tiba di usia dewasa.
Dokter kulit dapat melakukan pemeriksaan menggunakan alat dermatoskop atau melakukan biopsi jika ditemukan tanda mencurigakan.
Apabila hasilnya menunjukkan potensi kanker kulit, prosedur pengangkatan jaringan akan dilakukan.
Langkah Pencegahan
Untuk menjaga kulit tetap sehat dan menghindari munculnya tahi lalat baru, langkah-langkah berikut dapat diterapkan:
Gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 setiap hari.
Hindari paparan sinar matahari langsung pada pukul 10.00 sampai 15.00.
Kenakan pakaian pelindung saat beraktivitas di luar ruangan.
Periksa kondisi kulit secara rutin, terutama jika memiliki banyak tahi lalat sejak muda.
Dengan memperhatikan perubahan yang terjadi pada kulit, kamu bisa mendeteksi masalah lebih awal dan mencegah risiko penyakit serius seperti melanoma.
Menjaga kulit tetap sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Editor : Didin Cahya Firmansyah