TRENGGALEK– Dalam beberapa pekan terakhir, linimasa media sosial dipenuhi tren unik yang disebut “Party Jamu”.
Fenomena ini ramai dibahas oleh kalangan Generasi Z (Gen Z), terutama di platform X, TikTok, hingga Instagram.
Tren tersebut muncul ketika banyak anak muda secara kompak mengunggah momen menikmati jamu bersama teman, baik dari pedagang keliling, kafe tradisional, hingga gerai modern yang menjual jamu kekinian.
Fenomena yang awalnya hanya berupa unggahan santai itu kini berubah menjadi gelombang tren nasional, bahkan mengundang respons dari berbagai komunitas, pelaku UMKM, hingga pemerhati budaya.
Party Jamu dinilai sebagai bentuk baru kecintaan anak muda terhadap minuman tradisional yang selama ini identik dengan budaya Jawa.
Baca Juga: Kasus Pemukulan Guru di Trenggalek, Jaksa Masih Pelajari Berkas Awang, Polisi Telah Limpahkan Kasus
Trend yang Dimulai dari Media Sosial
Tren Party Jamu berawal dari unggahan spontan beberapa Gen Z yang menikmati jamu bersama rombongan, seolah-olah sedang berada di pesta.
Alih-alih minuman bersoda atau minuman kekinian, mereka memegang botol jamu berisi kunyit asam, temulawak, beras kencur, hingga kunci suruh.
Video-video itu kemudian viral dan dianggap sebagai bukti bahwa budaya lokal bisa kembali populer lewat kreativitas anak muda.
Setelah viral, banyak Gen Z lain yang ikut mengunggah momen serupa sehingga jumlah konten Party Jamu meningkat pesat dalam waktu singkat.
“Ini bukan hanya soal minum jamu, tapi jadi gerakan bersama untuk bangga terhadap budaya sendiri,” tulis salah satu pengguna X yang mendukung tren tersebut.
Baca Juga: Kasus Pencabulan Santriwati di Trenggalek Kembali Masuk Pengadilan dengan Pelaku Bapak Anak
Gen Z Anggap Party Jamu sebagai Tren Positif
Salah satu Gen Z yang ikut merespons tren itu adalah Putri Mahardika (22), mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika.
Menurutnya, Party Jamu merupakan tren yang sangat positif karena mampu menjaga tradisi minum jamu tetap hidup di tengah dominasi minuman modern.
“Selain melestarikan budaya, tren ini juga mengangkat produk lokal Indonesia ke mancanegara.
Bahkan bisa membantu menghidupkan UMKM,” kata Putri saat ditemui tvOnenews.com, Sabtu (22/11/2025).
Putri menilai, keberadaan Party Jamu memberi peluang besar bagi penjual jamu tradisional, terutama mbok jamu gendong yang selama ini bergantung pada pelanggan dari lingkungan sekitar.
“Kalau ini viral, bisa membantu perekonomian ibu-ibu pedagang jamu.
Mereka tetap eksis dan kita juga jadi lebih mudah menemukan bakul jamu,” ujarnya.
Menurutnya, Gen Z cenderung cepat bosan dengan sesuatu yang monoton.
Karena itu, tren seperti Party Jamu sangat efektif untuk mengajak anak muda kembali mencintai budaya lokal dengan cara yang menyenangkan.
Baca Juga: Kejati Sumsel Tetapkan 7 Tersangka Kasus KUR dan Pengelolaan Aset Bank Sumsel Babel
Didukung Komunitas Milenial dan Pemerhati UMKM
Tak hanya dari kalangan mahasiswa, fenomena Party Jamu juga mendapat respon dari berbagai komunitas dan pemerhati bisnis lokal.
Ketua Umum Komunitas Milenial Berkarya Indonesia (MBI), Aqmarul Akhyar, melalui Sekretaris Jenderal MBI, Reza Perdana, mengapresiasi tren tersebut dan mendorong pemerintah ikut mengambil peran.
“Ketika para Gen Z datang dengan ide kreatif seperti ini, pemerintah harus hadir untuk mendukung.
Tren yang berkembang perlu direspons sebagai peluang, bukan sekadar hiburan,” jelas Reza.
Menurut Reza, tren Party Jamu berpotensi membuka ruang ekonomi baru.
Pemerintah dapat memfasilitasi pelatihan, sertifikasi, hingga pengembangan produk jamu modern yang sesuai tren pasar generasi muda.
“Bisa dibayangkan jika Party Jamu berkembang menjadi industri kreatif berbasis budaya.
Dampaknya besar untuk UMKM jamu tradisional,” tambahnya.
Baca Juga: Viral, Guru SMPN 1 Trenggalek Dianiaya Kakak Murid Gara-Gara Tegur Adik Main HP di Kelas
Jamu Kembali Naik Kelas Berkat Kreativitas Anak Muda
Fenomena Party Jamu menunjukkan bahwa budaya tradisional tidak selalu identik dengan hal kuno.
Melalui kemasan konten yang kreatif, Gen Z berhasil mengangkat jamu ke panggung populer dengan cara yang sederhana namun efektif.
Harum kunyit asam dan beras kencur yang dulu dianggap minuman orang tua kini menjadi gaya hidup baru.
Beberapa kafe dan toko jamu modern juga mulai memanfaatkan momen ini dengan membuat jamu mocktail, jamu cold brew, hingga jamu dalam botol ramah lingkungan.
Produk itu disambut positif dan banyak dibagikan di TikTok sebagai aesthetic drink.
Bagi para pedagang jamu, tren ini memberi harapan baru.
Banyak pedagang yang mengaku mulai kebanjiran pesanan dari mahasiswa dan komunitas anak muda yang mengadakan party kecil-kecilan bertema jamu.
Baca Juga: Narapidana Lampung Utara Tak Mau Bebas, Ungkap Alasan Pilu yang Bikin Publik Tersentuh
Masa Depan Party Jamu
Pengamat budaya menilai Party Jamu bisa menjadi gerakan kebudayaan yang berkelanjutan jika mendapat dukungan dari semua pihak mulai dari pemerintah daerah, UMKM, hingga brand minuman sehat.
Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin jamu bisa menjadi ikon gaya hidup sehat khas Indonesia di mata dunia.
Di tengah banyaknya minuman modern yang terus bermunculan, kehadiran Party Jamu menjadi bukti bahwa minuman tradisional tetap bisa eksis selama ada kreativitas dan kebanggaan terhadap budaya lokal. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah