TRENGGALEK – Setelah sempat menjadi ikon gaya hidup yang diburu kolektor di seluruh dunia, tren boneka Labubu perlahan menunjukkan tanda-tanda meredup.
Harga jual kembali (resale) boneka produksi Pop Mart itu kini anjlok di berbagai negara seiring melimpahnya stok dan bergesernya minat penggemar.
Baca Juga: Cara Memetik Gingseng dengan Benar agar Kualitasnya Tetap Terjaga
Dari Puncak Popularitas ke Penurunan Minat
Labubu pernah menjadi simbol tren global.
Desainnya yang unik, wajah lucu dengan gigi runcing membuat boneka ini cepat viral, apalagi setelah dibawa sejumlah selebriti internasional seperti Lisa BLACKPINK, Rihanna, hingga David Beckham.
Momen kehadiran Labubu dalam gaya hidup para figur publik itu membuat permintaan melonjak tajam di pasar kolektor.
Namun, situasinya berbeda pada pertengahan 2025.
Banyak kolektor mulai melepas koleksinya dengan harga lebih rendah karena nilai pasar turun.
Baca Juga: Tips Merawat Emas agar Tetap Berkilau: Cara Sederhana tapi Efektif untuk Jaga Nilai dan Keindahannya
Penjual Internasional Akui Harga Resale Anjlok
Penjual asal Thailand, Kasidit Teerawiboosin, yang sudah memperdagangkan Labubu sejak 2024, mengakui perubahan besar pada pasar.
“Harga resale di Thailand turun sangat sangat cepat,” kata Kasidit.
Menurutnya, penurunan ini terjadi hampir serentak di berbagai negara Asia, terutama setelah pasokan semakin mudah ditemukan.
Baca Juga: Gaya Hidup Anti Lembur Muncul sebagai Pilihan Kerja Sehat di Kalangan Generasi Muda
Pop Mart Tingkatkan Produksi, Harga Justru Melemah
Peningkatan kapasitas produksi secara masif menjadi alasan utama merosotnya harga di pasar sekunder.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Sid Si, Direktur Eksekutif sekaligus Co-Chief Operating Officer (Co-COO) Pop Mart.
“Fenomena ini mirip dengan tiket konser,” ujar Sid Si, menggambarkan kondisi di mana permintaan besar pada awalnya memicu kelangkaan, tetapi ekspansi produksi akhirnya menurunkan nilai jual kembali.
Pop Mart menegaskan bahwa lonjakan produksi dilakukan untuk memenuhi permintaan global yang sebelumnya menumpuk.
Namun, langkah itu secara tidak langsung membuat nilai eksklusivitas Labubu memudar.
Baca Juga: Bangun Tidur Leher Langsung Kaku? Ini Cara Mengatasinya Tanpa Rasa Nyeri
Tren Global Mulai Bergeser
Meski masih memiliki penggemar fanatik, tanda-tanda bahwa tren Labubu mulai mencapai fase jenuh makin terlihat.
Banyak kolektor kini mulai melirik figur-figur terbaru yang dianggap lebih langka dan memiliki potensi investasi lebih tinggi.
Ke depan, pasar koleksi seperti Labubu diprediksi bergerak mengikuti pola siklus tren: naik cepat saat viral, lalu menurun ketika pasokan melimpah dan hype mereda. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah