TRENGGALEK NJENGGELEK – Sepak bola modern bukan lagi sekadar soal taktik dan prestasi di lapangan. Di balik gemerlap stadion dan sorak suporter, ada kekuatan finansial besar yang menopang roda kompetisi. Musim Liga 1 Indonesia 2025–2026 kembali memperlihatkan fakta menarik: klub-klub elite Tanah Air dimiliki para “sultan” dengan latar belakang pengusaha, pejabat, hingga figur publik papan atas.
Biaya operasional klub profesional yang tinggi membuat hanya orang-orang dengan kekuatan modal luar biasa yang mampu bertahan. Mulai dari gaji pemain, fasilitas latihan, perjalanan tandang, hingga pengembangan akademi, semuanya menuntut dana besar. Tak heran, daftar pemilik klub Liga 1 Indonesia 2025–2026 diisi nama-nama berpengaruh.
Pengusaha Tajir dan Sponsor Raksasa
Di Persijap Jepara, nama Arman Gunawan menjadi sorotan. Pengusaha muda ini dikenal sebagai salah satu pemilik klub sekaligus pemegang saham utama PT Oasis Waters International, perusahaan air minum besar yang menjadi sponsor utama Persijap sejak era Liga 3. Kehadiran Arman membuat Persijap memiliki fondasi finansial yang stabil untuk bersaing.
Sementara di PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno tampil sebagai figur sentral. Ia menjabat CEO PSIM sekaligus direktur utama klub. Perannya sangat krusial dalam mengantarkan PSIM promosi ke Liga 1 musim 2025–2026, menjadikannya salah satu pemilik klub perempuan paling berpengaruh di Indonesia.
Politisi dan Pejabat Negara
Persita Tangerang dimiliki Ahmed Zaki Iskandar, politisi senior Partai Golkar yang juga pernah menjabat Bupati Tangerang dua periode. Berdasarkan laporan LHKPN, kekayaannya mencapai miliaran rupiah. Kombinasi pengalaman politik dan manajerial membuat Persita stabil di Liga 1.
Nama Ahsanul Qosasi juga masuk dalam daftar sultan pemilik klub Liga 1 Indonesia. Pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini diketahui menjadi salah satu bos Madura United. Meski nilai kekayaannya tak dipublikasikan, pengaruh dan kapasitas finansialnya tak diragukan.
Klub Milik Artis dan Pengusaha Muda
Persik Kediri menjadi contoh kolaborasi unik. Klub ini dimiliki Rawindra Ditya, CEO PT Astar Asia Global, dengan Gading Marten sebagai presiden klub. Kehadiran Gading, aktor dan presenter ternama, membuat Persik memiliki daya tarik komersial sekaligus perhatian media yang besar.
Di Persis Solo, Kaesang Pangarep menjadi pemilik saham mayoritas bersama Kevin Nugroho. Putra mantan Presiden Joko Widodo itu menguasai sekitar 40 persen saham klub. Persis pun menjelma menjadi klub modern dengan branding kuat di kalangan anak muda.
Konglomerat dan Investor Besar
Borneo FC dimiliki Nabil Hussein, konglomerat asal Kalimantan Timur yang mengambil alih klub demi membawa Pesut Etam ke level lebih tinggi. Sementara itu, Persib Bandung berada di bawah kendali Glen Timothy Sugita, pendiri Northstar Group. Kekayaan Glen diperkirakan mencapai Rp29,7 triliun, menjadikannya salah satu pemilik klub terkaya di Indonesia.
Persija Jakarta tak kalah kuat secara finansial. Klub ibu kota ini dimiliki Nirwan Bakrie melalui PT Persija Jaya Jakarta. Di tangannya, Persija mampu membangun training ground megah di Sawangan, Depok, sebagai simbol keseriusan manajemen.
Media Mogul hingga Raja Bali United
Persebaya Surabaya dimiliki Asrul Ananda, CEO sekaligus presiden klub. Putra Dahlan Iskan ini dikenal sebagai pendiri DBL, liga basket pelajar terbesar di Indonesia. Meski kekayaannya tak diungkap, kapasitas bisnis Asrul sudah teruji.
Bali United dikuasai kakak-beradik Peter Tanuri dan Yabes Tanuri. Peter juga merupakan anggota Exco PSSI dan pendiri PT Trimegah Securities. Bali United menjadi contoh klub dengan manajemen modern dan valuasi bisnis tertinggi di Indonesia.
Pendatang Baru Kaya Raya
Malut United dimiliki David Glenoy, pengusaha tambang nikel yang mendanai pembangunan Malut United Arena. Sementara Dewa United berada di tangan Tommy Hermawan Lo, putra konglomerat properti Jerry Hermawan. Investasinya membuat Dewa United menjelma jadi runner-up Liga 1 2024–2025.
Deretan pemilik klub Liga 1 Indonesia 2025–2026 ini menunjukkan bahwa sepak bola nasional telah masuk era industri. Dengan sokongan finansial para sultan, Liga 1 semakin kompetitif. Tinggal satu pertanyaan besar: apakah kekuatan uang akan selalu berbanding lurus dengan prestasi di lapangan?
Editor : Findika Pratama