Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Kejawen: Makna Saudara Gaib Sejak Lahir hingga Jalan Penyatuan Sejati Manusia Jawa

Anggi Septiani • Selasa, 13 Januari 2026 | 21:45 WIB

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Kejawen: Makna Saudara Gaib Sejak Lahir hingga Jalan Penyatuan Sejati Manusia Jawa
Sedulur Papat Lima Pancer dalam Kejawen: Makna Saudara Gaib Sejak Lahir hingga Jalan Penyatuan Sejati Manusia Jawa

TRENGGALEK NJENGGELEK-Sedulur Papat Lima Pancer merupakan salah satu ajaran penting dalam tradisi Kejawen yang hingga kini masih dipercaya dan dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Jawa. Ajaran ini memandang bahwa manusia tidak pernah lahir sendirian ke dunia, melainkan selalu ditemani oleh empat saudara gaib sejak keluar dari rahim ibu hingga akhir hayatnya.

Dalam kepercayaan Sedulur Papat Lima Pancer, keempat saudara gaib tersebut dikenal sebagai Kakang Kawah, Adi Ari-ari, Getih, dan Puser. Sementara pancer adalah diri manusia itu sendiri, yang berada di tengah sebagai pusat kesadaran dan pengendali. Ajaran ini bukan semata-mata untuk mencari kesaktian, melainkan sebagai sarana eling marang sangkan paraning dumadi, mengingat asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia.

Sedulur Papat Lima Pancer dipercaya berperan sebagai penjaga batin dan penuntun hidup. Dengan menyadari kehadiran mereka, manusia diharapkan mampu hidup lebih waspada, tenang, dan tidak tersesat dalam laku kehidupan. Namun, ajaran ini menekankan bahwa semua laku harus dilandasi niat yang lurus dan dijauhkan dari pamrih duniawi.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Hindu Buddha dan Islam di Indonesia: Dari Kutai hingga Mataram Islam, Ini Jejak Kejayaan Nusantara

Dalam Kauruh Jawa kuno, Kakang Kawah dihubungkan dengan air ketuban, memiliki arah timur dan warna putih. Adi Ari-ari atau plasenta berada di selatan dengan warna merah. Getih atau darah menempati arah barat dengan warna kuning, sementara Puser atau tali pusar berada di utara dengan warna hitam. Keempatnya diyakini selalu mengelilingi pancer dan menjaga keseimbangan lahir batin manusia.

Pancer berada di tengah sebagai pemimpin yang menyatukan empat saudara tersebut. Dalam ajaran Sedulur Papat Lima Pancer, pancer memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan hawa nafsu dan menjaga keselarasan antara rasa, pikiran, dan perbuatan. 

Pemanggilan Sedulur Papat Lima Pancer tidak dilakukan sembarangan. Syarat utamanya adalah membersihkan niat dan menjaga perilaku. Mulut dijaga dari ucapan kotor, pikiran dijauhkan dari iri dan dengki, serta tubuh disucikan melalui mandi khusus sebagai simbol pembersihan lahir.

Baca Juga: Awal Mula VOC di Indonesia: Dari Niat Dagang Rempah hingga Awal Penjajahan Belanda yang Kejam

Tirakat ringan seperti puasa mutih—hanya makan nasi putih dan minum air putih—menjadi latihan awal untuk mengendalikan diri. Proses pemanggilan biasanya dilakukan di tempat yang hening pada malam hari, ketika suasana alam tenang dan batin mudah terfokus.

Dalam keadaan duduk bersila, penempuh mengatur napas, memanjatkan doa kepada Gusti, lalu memanggil sedulur papat dengan mantra sederhana dalam batin. Kehadiran mereka biasanya ditandai rasa sejuk, hangat, atau ketenangan mendalam, bukan penampakan fisik yang menakutkan.

Setelah tahap pengenalan, hubungan dengan Sedulur Papat Lima Pancer diperdalam melalui tirakat lanjutan. Selain puasa mutih, dikenal pula puasa ngowot dan tapa bisu, yakni menahan diri dari berbicara kecuali hal penting. Tirakat dipahami sebagai cara menipiskan kabut hawa nafsu yang menghalangi cahaya batin.

Baca Juga: Pendaftaran Tamtama PK TNI AD 2025 Gelombang 1 Dibuka, Begini Cara Daftar Online Lengkap hingga Cetak Blangko Dinas

Komunikasi dengan sedulur papat dilakukan melalui rasa dan keheningan. Jawaban tidak selalu berupa suara, melainkan bisikan batin, getaran halus, atau petunjuk lewat mimpi. Kunci utamanya adalah niat yang tulus, karena nafsu dan pikiran pribadi bisa menipu bila batin belum bersih.

Puncak laku Sedulur Papat Lima Pancer disebut nyawiji, yakni penyatuan sejati antara sedulur papat dan pancer. Pada tahap ini, manusia mencapai keseimbangan antara lahir dan batin, antara nafsu dan kesadaran. Kunci utamanya adalah rasa suwung, kosong dari pamrih dan kesombongan.

Tanda nyawiji bukan pada kemampuan gaib, melainkan perubahan batin. Penempuh menjadi lebih sabar, bijak, dan welas asih. Namun, ujian justru datang setelahnya, berupa godaan untuk memamerkan kemampuan. Leluhur menekankan sikap eling lan waspada agar penyatuan tetap terjaga.

Baca Juga: Persib Bandung vs Persija Jakarta: Drama Akhir Laga El Clasico, Maung Bandung Puncaki Klasemen BRI Super League

Ajaran Sedulur Papat Lima Pancer pada akhirnya membawa manusia kembali kepada kesadaran asalnya, yakni menyatu dengan Gusti Kang Murbeng Dumadi, sebagai tujuan akhir laku kehidupan.

Editor : Anggi Septiani
#kejawen #ajaran leluhur Jawa #Laku Tirakat #kebatinan Jawa #Sedulur Papat Lima Pancer