TRENGGALEK NJENGGELEK-Ilmu Kejawen kembali menjadi perbincangan setelah sebuah video YouTube beredar luas dan memicu diskusi di media sosial. Video tersebut membahas keyakinan bahwa dalam ajaran Ilmu Kejawen, perbuatan jahat seperti fitnah, santet, atau niat buruk diyakini bisa kembali kepada pelakunya sendiri tanpa perlu dibalas secara langsung.
Dalam tayangan berdurasi lebih dari 11 menit itu, sang pembuat konten menyampaikan narasi spiritual Jawa tentang konsep “balik badan”, yakni keyakinan bahwa energi negatif akan kembali ke sumbernya apabila seseorang berada di pihak yang benar. Ilmu Kejawen dalam konteks ini tidak diposisikan sebagai sarana menyerang, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri secara batiniah.
Sejak diunggah, video tersebut ramai ditonton dan dibagikan ulang. Banyak warganet menilai isi video itu merepresentasikan pandangan leluhur Jawa yang menekankan kesabaran, laku prihatin, dan keyakinan bahwa setiap perbuatan akan menuai balasan setimpal.
Dalam penjelasannya, narator video menekankan bahwa Ilmu Kejawen tidak dapat digunakan sembarangan. Ajaran ini diyakini hanya “bekerja” bila seseorang benar-benar berada dalam posisi didzolimi atau disakiti secara berulang. Jika seseorang justru berada di pihak yang salah, maka ilmu tersebut dipercaya tidak akan memberi dampak apa pun.
Pandangan ini sejalan dengan falsafah Jawa yang menempatkan moral dan niat sebagai faktor utama. Ilmu Kejawen tidak dipahami sebagai alat balas dendam, tetapi sebagai jalan batin untuk menyerahkan keadilan kepada Tuhan dan hukum alam.
Dalam video itu juga dijelaskan bahwa ajaran leluhur Jawa selalu menempatkan tirakat atau laku prihatin sebagai syarat utama dalam menjalani laku spiritual. Tirakat dipahami sebagai proses pengendalian diri, kesabaran, dan pembersihan batin, bukan sekadar ritual simbolik.
Narasi ini menegaskan bahwa dalam Ilmu Kejawen, kekuatan batin tidak datang secara instan. Semua harus “ditebus” dengan kesungguhan, kejujuran niat, dan keteguhan hati. Tanpa itu, ajaran tersebut dipercaya tidak akan memberikan hasil apa pun.
Seiring viralnya video tersebut, respons publik pun terbelah. Sebagian warganet mengaku merasa terwakili karena pernah mengalami perlakuan tidak adil dan percaya bahwa kejahatan akan kembali kepada pelakunya. Mereka menilai ajaran tersebut sebagai penguat mental agar korban tidak membalas dengan cara kekerasan.
Namun, tidak sedikit pula yang mengingatkan agar masyarakat menyikapi konten seperti ini dengan bijak. Beberapa warganet menilai narasi spiritual semacam itu seharusnya dipahami sebagai kearifan budaya, bukan ditelan mentah-mentah apalagi dipraktikkan tanpa pemahaman mendalam.
Menariknya, di bagian akhir video, sang narator justru menyarankan agar kesabaran tetap menjadi jalan utama. Ilmu Kejawen disebut bukan solusi pertama, melainkan jalan terakhir ketika seseorang benar-benar berada dalam kondisi terdzolimi dan telah berusaha bersabar.
Pesan ini menegaskan bahwa inti ajaran Jawa bukan pada kesaktian, melainkan pada kebijaksanaan. Dalam falsafah Kejawen, orang yang mampu menahan amarah dan menyerahkan balasan kepada Tuhan justru dianggap memiliki kekuatan batin yang lebih tinggi.
Sebagai warisan budaya, Ilmu Kejawen hingga kini masih hidup di tengah masyarakat Jawa, baik sebagai keyakinan spiritual maupun nilai filosofis. Viral atau tidak, ajaran tersebut terus menjadi bagian dari diskursus tentang etika, kesabaran, dan hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia.
Editor : Anggi Septiani