Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perang Bubat Majapahit dan Sunda: Fakta Sejarah Terungkap, Mengapa Kerajaan Sunda Tak Pernah Ditaklukkan Gajah Mada

Anggi Septiani • Rabu, 14 Januari 2026 | 20:45 WIB
Perang Bubat Majapahit dan Sunda: Fakta Sejarah Terungkap, Mengapa Kerajaan Sunda Tak Pernah Ditaklukkan Gajah Mada
Perang Bubat Majapahit dan Sunda: Fakta Sejarah Terungkap, Mengapa Kerajaan Sunda Tak Pernah Ditaklukkan Gajah Mada

TRENGGALEK NJENGGELEK- Perang Bubat Majapahit dan Sunda menjadi salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah Nusantara. Konflik berdarah ini bukan sekadar peperangan biasa, melainkan titik balik hubungan dua kerajaan besar yang sebelumnya menjalin relasi politik cukup harmonis. Peristiwa ini juga menegaskan bahwa Kerajaan Sunda tidak pernah benar-benar ditaklukkan oleh Majapahit, meski berada di puncak kejayaannya.

Dalam catatan sejarah, Perang Bubat Majapahit dan Sunda terjadi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, saat Majapahit mencapai era keemasan. Kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri sejak 1293 ini dikenal memiliki pengaruh luas di Nusantara. Namun, pengaruh tersebut tidak serta-merta berarti seluruh wilayah berada di bawah kekuasaan militer Majapahit.

Perang Bubat Majapahit dan Sunda bermula dari ambisi politik Patih Gajah Mada yang ingin mewujudkan Sumpah Palapa, yakni menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara di bawah dominasi Majapahit.

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singasari. Dalam sumber sejarah seperti Kitab Negarakertagama, Majapahit disebut memiliki wilayah pengaruh yang sangat luas, meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, hingga Tumasik atau Singapura.

Pada masa Raja Hayam Wuruk, Majapahit juga menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan asing seperti Champa, Siam, Kamboja, Burma Selatan, Vietnam, dan Tiongkok. Stabilitas politik dan ekonomi menjadikan Majapahit kekuatan dominan di kawasan Asia Tenggara.

Kerajaan Sunda atau Pajajaran merupakan kerajaan merdeka yang berdaulat penuh. Meski wilayahnya hanya mencakup sebagian Pulau Jawa bagian barat, kekuatan ekonomi Sunda sangat menonjol. Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan penting yang menghubungkan Nusantara dengan pedagang asing.

Dalam bidang budaya, Kerajaan Sunda berkembang pesat melalui seni pertunjukan seperti wayang golek, tari jaipongan, serta seni tekstil batik Sunda. Pengaruh Hindu dan Buddha juga kuat dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Sunda.

Stabilitas wilayah yang aman dan damai membuat Majapahit segan melakukan penaklukan secara militer. Bahkan, menurut sejumlah naskah kuno, Majapahit memandang Sunda sebagai wilayah yang harus dihormati.

Menurut Naskah Wangsakerta, Raden Wijaya memiliki garis keturunan Sunda Galuh dari pihak ayah. Fakta ini memperkuat anggapan bahwa hubungan Majapahit dan Sunda sejatinya tidak bersifat permusuhan.

Ikatan genealogis tersebut menjadi alasan mengapa Sunda dianggap sebagai wilayah keramat yang tidak layak ditaklukkan dengan kekerasan. Selain itu, pasukan Kerajaan Sunda dikenal memiliki kemampuan tempur yang tangguh, sehingga musuh harus berpikir dua kali untuk menyerang.

Situasi berubah ketika Patih Gajah Mada tetap berambisi menaklukkan Sunda demi memenuhi Sumpah Palapa. Konflik memuncak saat Raja Hayam Wuruk berniat menikahi Dyah Pitaloka, putri Raja Sunda Linggabuana.

Rombongan Kerajaan Sunda datang ke Majapahit dengan niat baik untuk memenuhi undangan pernikahan. Namun, Gajah Mada menuntut agar pernikahan tersebut dimaknai sebagai tanda penyerahan dan ketundukan Sunda kepada Majapahit.

Penolakan tersebut memicu Perang Bubat yang terjadi di lapangan Bubat, wilayah Trowulan. Pasukan Majapahit menyerang rombongan Sunda yang hanya membawa sedikit prajurit dan tidak dipersiapkan untuk perang.

Pertempuran tidak seimbang itu berakhir tragis. Raja Linggabuana dan seluruh prajurit Sunda gugur, sementara Dyah Pitaloka memilih melakukan bela pati demi menjaga kehormatan kerajaan dan keluarganya.

Peristiwa ini mengejutkan Raja Hayam Wuruk yang baru mengetahui tragedi tersebut setelah perang berakhir. Hubungannya dengan Gajah Mada pun merenggang.

Perang Bubat Majapahit dan Sunda meninggalkan dampak besar bagi dinamika politik Nusantara. Kerajaan Sunda semakin menegaskan sikap independennya dan menolak dominasi Majapahit.

Secara budaya, peristiwa ini turut mempertegas perbedaan identitas antara masyarakat Sunda dan Jawa. Minimnya percampuran budaya membuat adat, bahasa, dan tradisi Sunda tetap lestari hingga kini.

Tragedi Perang Bubat menjadi pengingat bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak selalu berarti mampu menaklukkan semua pihak, terutama mereka yang teguh mempertahankan martabat dan kedaulatan.

 

Editor : Anggi Septiani
#kerajaan sunda #Kerajaan Majapahit #Perang Bubat Majapahit dan Sunda #hayam wuruk #gajah mada