Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Runtuhnya Kerajaan Majapahit Terungkap: Bukan Karena Demak, Perebutan Tahta hingga Perang Saudara Jadi Pemicu Utama

Anggi Septiani • Rabu, 14 Januari 2026 | 21:15 WIB
Runtuhnya Kerajaan Majapahit Terungkap: Bukan Karena Demak, Perebutan Tahta hingga Perang Saudara Jadi Pemicu Utama
Runtuhnya Kerajaan Majapahit Terungkap: Bukan Karena Demak, Perebutan Tahta hingga Perang Saudara Jadi Pemicu Utama

TRENGGALEK NJENGGELEK-Runtuhnya Kerajaan Majapahit selama ini kerap dikaitkan dengan serangan Kesultanan Demak dan perubahan agama di Jawa. Namun, penelusuran berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa runtuhnya Kerajaan Majapahit lebih disebabkan konflik internal, perebutan tahta, dan lemahnya tata pemerintahan di akhir masa kejayaannya.

Setelah Perang Paregreg, yakni perang suksesi antara Bhre Wirabhumi dari wilayah timur dan Prabu Wikramawardhana penguasa Majapahit pusat, kerajaan memasuki fase kemunduran. Perang yang memuncak pada 1401 Masehi itu berakhir tragis dengan tewasnya Bhre Wirabhumi, yang kepalanya dipenggal oleh pengawal kerajaan. Peristiwa ini menjadi titik awal ketidakstabilan politik yang berujung pada runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit juga tak lepas dari lemahnya sistem suksesi setelah wafatnya para penguasa besar. Konflik elite istana semakin mempercepat keruntuhan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara tersebut.

Usai konflik Paregreg, tahta Majapahit jatuh ke tangan Ratu Suhita, putri Prabu Wikramawardhana. Ia memerintah pada paruh awal abad ke-15 dan dikenal berusaha memulihkan stabilitas kerajaan. Namun, setelah Ratu Suhita wafat tanpa keturunan, Majapahit kembali dilanda krisis kepemimpinan.

Kekuasaan kemudian beralih kepada adiknya, Diah Kertawijaya, yang naik tahta dengan gelar Prabu Kertawijaya. Ia merupakan penguasa laki-laki kelima dalam garis raja-raja Majapahit. Salah satu hal penting dari masa pemerintahannya adalah hubungan keluarga dengan Raden Patah, yang kelak menjadi pendiri Kesultanan Demak.

Prabu Kertawijaya wafat pada 1451 Masehi dan dimakamkan di Kertawijayapura, Trowulan, Mojokerto. Sepeninggalnya, Majapahit memasuki masa ketidakpastian yang ditandai dengan munculnya penguasa-penguasa di luar garis resmi kerajaan.

Kekuasaan sempat dipegang Bhre Pamotan, menantu Prabu Kertawijaya, yang berkuasa di wilayah Kediri. Namun pemerintahannya singkat dan berakhir tragis. Setelah itu, terjadi kekosongan kekuasaan selama beberapa tahun hingga akhirnya Bhre Wengker, putra Prabu Kertawijaya, naik sebagai raja.

Dalam pemerintahannya, Bhre Wengker memberi ruang kepada kerabat Muslim untuk menduduki jabatan penting, termasuk mengangkat Raden Patah sebagai penguasa wilayah Demak. Kebijakan ini memicu penentangan dari kelompok lain di internal Majapahit.

Puncaknya terjadi ketika Bhre Kertabhumi memberontak dan memproklamirkan diri sebagai Maharaja Majapahit. Situasi ini menciptakan dualisme kekuasaan antara Kertabhumi dan Girindrawardhana atau Ranawijaya.

Konflik dua penguasa ini berujung pada pertempuran besar yang dikenal sebagai Yuda Lawaning Majapahit pada 1478 Masehi. Dalam pertempuran tersebut, Bhre Kertabhumi tewas, dan peristiwa inilah yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai penanda runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Sejumlah sumber seperti Kitab Pararaton dan Prasasti Petak menyebutkan bahwa keruntuhan Majapahit terjadi akibat serangan internal antarkerabat istana, bukan serangan dari Demak. Klaim bahwa Raden Patah menyerang Majapahit sebagaimana tercantum dalam naskah Dogandul hingga kini masih diperdebatkan karena minim bukti konkret.

Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, para bangsawan mendirikan kerajaan baru di Daha atau Kediri, sementara Demak berkembang sebagai kekuatan baru di pesisir utara Jawa. Hubungan Demak dengan kerajaan-kerajaan sisa Majapahit lebih banyak diwarnai konflik politik dan ekonomi, bukan semata konflik agama.

Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, memiliki latar belakang yang kompleks. Ia disebut sebagai putra Raja Brawijaya V dari seorang putri Dinasti Ming. Perjalanannya dari Palembang, Tuban, hingga Demak menunjukkan bahwa perubahan kekuasaan di Jawa berlangsung melalui proses panjang, bukan revolusi mendadak.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit pada akhirnya menjadi pelajaran penting bahwa kejayaan sebuah imperium dapat runtuh dari dalam ketika persatuan elite, tata pemerintahan, dan kesejahteraan rakyat tidak lagi terjaga.

 

 

Editor : Anggi Septiani
#sejarah Majapahit #Raden Patah #Runtuhnya Kerajaan Majapahit #Kerajaan Demak #perang paregreg