TRENGGALEK NJENGGELEK-Runtuhnya Kerajaan Majapahit menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara. Kerajaan Hindu-Buddha terbesar sekaligus terakhir ini pernah mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14, namun perlahan kehilangan kekuatannya hingga akhirnya benar-benar tumbang pada abad ke-15. Sejumlah faktor internal dan eksternal menjadi penyebab utama melemahnya Majapahit.
Dalam runtuhnya Kerajaan Majapahit, masa keemasan kerajaan tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Raja Hayam Wuruk yang didampingi Mahapatih Gajah Mada. Di bawah kepemimpinan keduanya pada periode 1350–1389, wilayah kekuasaan Majapahit membentang luas hampir ke seluruh Nusantara. Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung lama setelah dua tokoh sentral itu wafat.
Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali dengan meninggalnya Gajah Mada pada 1364, disusul Hayam Wuruk pada 1389 di usia 55 tahun. Kepergian dua figur besar ini meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang sulit diisi. Tidak ada penerus yang mampu menyatukan kekuatan politik, militer, dan ekonomi seperti sebelumnya.
Hayam Wuruk dikenal sebagai raja keempat Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara. Semasa hidupnya, ia berhasil menjaga stabilitas kerajaan bersama Gajah Mada. Namun setelah wafat, Majapahit justru memasuki masa penuh konflik. Para penerus takhta gagal mempertahankan soliditas internal kerajaan.
Penerus kekuasaan Hayam Wuruk adalah Wikramawardhana, suami dari putri mahkota Kusumawardhani. Masa pemerintahannya justru diwarnai gejolak politik yang serius. Salah satu konflik terbesar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk dari selirnya.
Konflik antara Wikramawardhana dan Wirabhumi dikenal sebagai Perang Paregreg. Dalam perang saudara ini, wilayah Majapahit terbelah dua. Wikramawardhana menguasai wilayah Keraton Barat, sementara Wirabhumi menguasai wilayah Timur. Perebutan kekuasaan ini menunjukkan rapuhnya struktur politik Majapahit.
Perang Paregreg yang berlangsung sekitar pertengahan abad ke-15 berakhir dengan tewasnya Wirabhumi. Meski Wikramawardhana keluar sebagai pemenang, perang saudara tersebut justru mempercepat runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kerajaan kehilangan banyak sumber daya, kekuatan militer melemah, dan kepercayaan daerah taklukan semakin menurun.
Pasca perang saudara, banyak wilayah kekuasaan Majapahit memilih memerdekakan diri. Daerah-daerah tersebut menilai Majapahit tidak lagi memberikan keuntungan politik maupun ekonomi. Kondisi ini menyebabkan wilayah kekuasaan Majapahit menyusut drastis.
Kemunduran ekonomi juga semakin terasa setelah munculnya Kesultanan Malaka sebagai pusat perdagangan maritim baru. Sebelumnya, Malaka hanyalah pelabuhan persinggahan. Namun setelah berkembang menjadi kerajaan Islam yang kuat, Malaka berubah menjadi pusat perdagangan internasional. Hal ini menghambat jalur perdagangan Majapahit dan memperlemah ekonomi kerajaan.
Faktor terakhir dalam runtuhnya Kerajaan Majapahit adalah serangan dari Kesultanan Demak. Kerajaan Islam ini didirikan oleh Raden Patah pada 1475. Raden Patah sendiri merupakan putra dari Raja Majapahit, Brawijaya V. Demak berkembang pesat dan menjadi kekuatan baru di Jawa.
Serangan pertama Demak ke Majapahit terjadi pada 1517 dan dipimpin oleh Pati Unus, raja kedua Demak. Serangan ini menyebabkan kondisi ekonomi dan militer Majapahit semakin terpuruk. Puncaknya terjadi pada 1527, saat Sultan Trenggana memimpin serangan kedua. Serangan inilah yang membuat Majapahit benar-benar lumpuh dan berakhir sebagai kerajaan besar.
Runtuhnya Majapahit menandai berakhirnya era kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara dan menjadi titik awal dominasi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Editor : Anggi Septiani