Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perang Bubat: Ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada yang Memicu Tragedi Majapahit dan Kerajaan Sunda

Anggi Septiani • Jumat, 16 Januari 2026 | 22:45 WIB
Perang Bubat: Ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada yang Memicu Tragedi Majapahit dan Kerajaan Sunda
Perang Bubat: Ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada yang Memicu Tragedi Majapahit dan Kerajaan Sunda

TRENGGALEK NJENGGELEK-Perang Bubat menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Nusantara. Peristiwa berdarah ini bukan sekadar konflik militer, tetapi simbol benturan ambisi politik, harga diri kerajaan, dan perbedaan pandangan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda. Konflik tersebut terjadi pada masa kejayaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk, ketika kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara berada di puncak kekuasaannya.

Dalam catatan Perang Bubat, Majapahit dikenal sebagai kerajaan besar yang berdiri sejak 1293, didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara dari Singosari. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dengan wilayah kekuasaan yang meliputi hampir seluruh Nusantara, bahkan hingga Semenanjung Malaya, Singapura, dan sebagian Filipina. Kejayaan tersebut tidak lepas dari peran Mahapatih Gajah Mada dengan Sumpah Palapa yang legendaris.

Namun, di tengah ambisi penyatuan Nusantara itu, Perang Bubat justru menjadi titik balik hubungan Majapahit dengan Kerajaan Sunda. Kerajaan Sunda atau Pajajaran merupakan kerajaan merdeka yang tidak pernah tunduk pada Majapahit. Meski wilayahnya relatif lebih kecil, Sunda dikenal kuat, stabil, dan maju dalam bidang ekonomi melalui perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kerajaan Sunda memiliki posisi strategis di Jawa Barat dan kekuatan budaya yang menonjol. Seni pertunjukan seperti wayang golek, tari jaipongan, serta seni tekstil batik Sunda berkembang pesat. Dalam bidang keagamaan, pengaruh Hindu dan Buddha membentuk budaya Sunda yang khas dan kuat.

Stabilitas wilayah Sunda membuat Majapahit segan untuk menyerang secara terbuka. Bahkan ketika wilayah timur Majapahit sering dilanda konflik dan perebutan kekuasaan, wilayah Sunda tetap aman dan tenteram. Menurut Naskah Wangsakerta, Raden Wijaya disebut memiliki darah Sunda Galuh dari garis ayahnya. Faktor inilah yang membuat Majapahit menganggap Sunda sebagai wilayah keramat yang seharusnya dihormati.

Meski hubungan politik kedua kerajaan terbilang baik, ambisi Gajah Mada untuk menuntaskan Sumpah Palapa menjadi pemicu utama konflik. Perseteruan memuncak saat Raja Hayam Wuruk berniat menikahi Putri Diah Pitaloka, putri Raja Linggabuana dari Kerajaan Sunda. Pernikahan ini sejatinya dimaksudkan sebagai ikatan politik dan simbol persahabatan antarkerajaan.

Rombongan Kerajaan Sunda datang ke Bubat, kawasan dekat ibu kota Majapahit di Trowulan, dengan niat menghadiri pernikahan tersebut. Namun, situasi berubah drastis ketika Gajah Mada menuntut agar pernikahan itu dimaknai sebagai tanda penaklukan Sunda terhadap Majapahit. Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh pihak Sunda karena dianggap merendahkan martabat kerajaan.

Puncak Perang Bubat terjadi ketika pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada menyerang rombongan Kerajaan Sunda di Bubat. Pertempuran berlangsung tidak seimbang. Rombongan Sunda hanya membawa sedikit prajurit dan tidak dipersiapkan untuk perang besar. Akibatnya, Raja Linggabuana beserta seluruh prajurit Sunda gugur dalam pertempuran tersebut.

Putri Diah Pitaloka yang menyaksikan tragedi itu memilih melakukan bela pati sebagai bentuk mempertahankan kehormatan ayah dan kerajaannya. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dan mengakhiri hubungan harmonis antara Majapahit dan Sunda.

Setelah perang berakhir, Raja Hayam Wuruk disebut sangat kecewa terhadap tindakan Gajah Mada. Perang Bubat tidak hanya meretakkan hubungan Majapahit dan Sunda, tetapi juga memengaruhi dinamika politik Nusantara. Kerajaan-kerajaan lokal semakin menegaskan sikap independen dan tidak tunduk pada dominasi Majapahit.

Dampak budaya dari Perang Bubat juga sangat besar. Kerajaan Sunda semakin meneguhkan identitasnya dan menolak pengaruh budaya Jawa. Keteguhan ini membuat adat, budaya, dan bahasa Sunda tetap lestari hingga kini, dengan karakter yang berbeda dari budaya Jawa pada umumnya.

 

Editor : Anggi Septiani
#kerajaan sunda #Kerajaan Majapahit #perang bubat #hayam wuruk #gajah mada