TRENGGALEK NJENGGELEK-Sejarah Kota Trenggalek menyimpan kisah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Kota kecil di pesisir selatan Jawa Timur ini bukan sekadar wilayah administratif, tetapi saksi perjalanan peradaban dari masa kerajaan, kolonialisme, hingga era Indonesia merdeka. Setiap sudut Trenggalek menyimpan jejak sejarah yang membentuk identitas masyarakatnya hingga hari ini.
Nama Trenggalek diyakini berasal dari gabungan kata terang dan galih. Dalam bahasa Jawa, galih berarti hati atau batin. Gabungan makna tersebut melambangkan harapan agar wilayah ini memiliki hati yang terang benderang, hidup dalam ketenteraman, kesejahteraan, dan kedamaian. Filosofi tersebut menjadi dasar nilai kebersamaan yang masih dijunjung masyarakat Trenggalek hingga kini, sekaligus menjadi bagian penting dalam sejarah Kota Trenggalek.
Sejak masa lampau, wilayah Trenggalek telah dihuni masyarakat agraris yang menggantungkan hidup pada bercocok tanam. Kondisi geografis yang dikelilingi Pegunungan Wilis di utara dan Pegunungan Kapur di selatan menjadikan tanahnya subur. Aliran sungai yang melimpah mendukung sistem pertanian tradisional, sehingga Trenggalek tumbuh sebagai daerah penyangga pangan sejak masa awal peradaban.
Dalam catatan sejarah, Trenggalek pernah berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram Kuno Gunung. Seiring perkembangan politik di Jawa Timur, wilayah ini kemudian masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Kediri dan Singhasari. Puncak peran penting Trenggalek terjadi pada abad ke-14 ketika menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Majapahit.
Keberadaan Majapahit di Trenggalek dibuktikan dengan ditemukannya berbagai peninggalan berupa arca, situs purbakala, serta cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah-kisah tersebut menjadi penanda bahwa wilayah ini memiliki posisi strategis dalam jaringan kekuasaan Majapahit di Jawa Timur bagian selatan.
Setelah runtuhnya Majapahit, sejarah Kota Trenggalek tidak berhenti. Daerah ini tetap berkembang sebagai wilayah perdikan atau daerah mandiri yang dipimpin oleh para adipati. Sistem pemerintahan lokal tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk mengelola wilayahnya secara mandiri, terutama dalam bidang pertanian dan pengairan.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah Trenggalek adalah Adipati Menak Sopal. Ia dikenal sebagai pemimpin yang peduli terhadap kesejahteraan rakyat. Salah satu jasanya yang paling dikenang adalah pembangunan Bendungan Tugu. Bendungan ini berfungsi untuk mengairi sawah-sawah warga dan meningkatkan hasil pertanian.
Keberadaan Bendungan Tugu menjadi simbol kepemimpinan yang berpihak pada rakyat. Hingga kini, nama Adipati Menak Sopal masih dikenang sebagai bagian dari tokoh lokal yang berkontribusi besar dalam perjalanan Trenggalek.
Memasuki masa penjajahan Belanda, Trenggalek dikenal sebagai daerah penghasil hasil bumi. Padi, kopi, dan hasil hutan menjadi komoditas utama yang menarik perhatian pemerintah kolonial. Belanda membangun infrastruktur seperti jalan dan sistem pemerintahan untuk mendukung eksploitasi ekonomi.
Meski demikian, semangat perlawanan rakyat Trenggalek tidak pernah padam. Masyarakat turut terlibat dalam berbagai gerakan melawan kolonialisme, baik secara terbuka maupun melalui perlawanan kultural. Nilai kebersamaan dan keberanian menjadi ciri khas warga Trenggalek dalam menghadapi tekanan penjajah.
Setelah Indonesia merdeka, Trenggalek terus berkembang menjadi kota dan kabupaten yang dikenal dengan kekayaan alam serta budayanya. Pantai Prigi yang indah, Goa Lowo yang megah, hingga tradisi Larung Sembonyo menjadi daya tarik wisata sekaligus identitas budaya daerah.
Kini, sejarah Kota Trenggalek tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi muda. Dari masa kerajaan, penjajahan, hingga era modern, Trenggalek selalu memiliki cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Editor : Anggi Septiani