Secara geografis, Kabupaten Trenggalek berjarak sekitar 180 kilometer dari Surabaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo di utara, Tulungagung di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Pacitan di barat. Letaknya yang strategis di pesisir selatan menjadikan wilayah ini memiliki karakter budaya khas yang dikenal sebagai subkultur Mataraman.
Dalam sejarah Kabupaten Trenggalek, pengaruh Kerajaan Mataram masih terasa kuat hingga kini. Hal itu tercermin dari penggunaan bahasa Jawa halus dalam kehidupan sehari-hari, serupa dengan dialek Yogyakarta dan Solo. Masyarakat Trenggalek dikenal menjunjung nilai unggah-ungguh, tata krama, serta filosofi hidup yang berakar dari budaya Mataram.
Asal-usul nama Trenggalek memiliki beberapa versi. Salah satu versi yang dianggap paling ilmiah menyebutkan bahwa nama Trenggalek berasal dari istilah “Traning Gale” yang diberikan oleh Ki Ageng Sinawang. Istilah tersebut bermakna “terangnya hati” atau kejernihan batin, yang melambangkan harapan agar wilayah ini selalu diberkahi kebajikan dan ketenteraman.
Versi lain berkembang dari legenda Mbok Rondo yang memelihara seekor gajah putih. Dalam kisah rakyat tersebut, pengorbanan sang gajah demi keselamatan masyarakat menjadi simbol keikhlasan dan kejernihan hati. Dari sinilah muncul tafsir bahwa Trenggalek berasal dari kata “terang” dan “galih” yang berarti hati yang bersih dan bercahaya.
Namun, dalam manuskrip Keraton Kasunanan Surakarta, kata Trenggalek justru dimaknai secara sederhana sebagai “kota gaplek”. Pada masa lampau, Trenggalek dikenal sebagai daerah penghasil gaplek atau ketela pohon yang dikeringkan.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa istilah Trenggalek telah digunakan sejak masa Raja Mataram Kuno Rakai Dyah Wawa sekitar abad ke-10. Pada masa itu, gaplek menjadi bahan pangan penting, baik bagi rakyat jelata maupun lingkungan keraton. Gaplek diolah menjadi makanan menyerupai nasi dan disajikan bersama gula merah.
Jenis gaplek yang paling terkenal adalah gaplek berwarna putih, bersih, dan terang. Daerah penghasil gaplek unggulan ini meliputi Kecamatan Bendungan, Munjungan, Panggul, Pule, dan Watulimo. Gaplek dari lereng Gunung Wilis bahkan dianggap memiliki kualitas terbaik. Dari sebutan gaplek yang “terang” inilah, kata Trenggalek diyakini mengalami perubahan bunyi hingga dikenal seperti sekarang.
Nama Trenggalek juga dipopulerkan melalui tembang dan wangsalan Jawa, yang memperkuat posisinya dalam tradisi lisan masyarakat.
Menariknya, dalam sejarah Kabupaten Trenggalek, wilayah ini disebut sebagai daerah yang sejak dulu tidak sepenuhnya dikuasai oleh kerajaan besar. Trenggalek dikenal sebagai daerah swatantra atau wilayah otonom yang bebas pajak. Status ini pertama kali disebutkan dalam Prasasti Kamsyaka atau Prasasti Kamulan.
Pengakuan atas kemandirian Trenggalek juga tercatat pada masa Raja Airlangga yang berkuasa pada 1019–1045 Masehi. Selain itu, status tersebut kembali ditegaskan pada masa Kerajaan Kediri dan diperkuat melalui piagam yang ditemukan di kawasan Bendungan, Kedunglurah, serta Candi Brongkah.
Kini, Trenggalek dikenal sebagai kabupaten yang kaya akan sejarah, budaya, dan alam. Julukan sebagai bumi Menak Sopal tidak lepas dari karakter masyarakatnya yang santun dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Dari kota gaplek hingga tanah merdeka sejak masa kerajaan, sejarah Kabupaten Trenggalek menjadi fondasi kuat bagi identitas daerah yang terus bertahan hingga era modern.
Editor : Anggi Septiani