TRENGGALEK NJENGGELEK- Ilmu pengembali santet kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sebuah video berbahasa Jawa membahas keyakinan bahwa perbuatan jahat, fitnah, dan energi negatif akan kembali kepada pelakunya. Video tersebut menarik perhatian warganet karena mengangkat ajaran kejawen lama yang diyakini sebagian masyarakat sebagai bentuk perlindungan diri bagi orang yang terdzolimi.
Dalam video tersebut, narator menegaskan bahwa ilmu pengembali santet bukan ditujukan untuk balas dendam, melainkan sebagai bentuk kepasrahan agar kejahatan kembali kepada sumbernya. Penekanan utama disampaikan bahwa ajaran ini hanya dipercaya bekerja jika seseorang benar-benar berada di pihak yang benar dan telah berusaha bersabar.
Dalam tradisi kejawen, ilmu pengembali santet dikenal sebagai konsep pengembalian energi. Leluhur Jawa meyakini bahwa setiap perbuatan memiliki akibat. Jika seseorang mengirimkan niat jahat, fitnah, atau energi negatif, maka akibat tersebut lambat laun akan kembali kepada pelakunya sendiri tanpa perlu dibalas secara langsung.
Keyakinan ini sejalan dengan falsafah Jawa tentang keseimbangan alam, di mana manusia, lingkungan, dan batin saling terhubung. Narator dalam video menegaskan bahwa ilmu ini tidak akan bekerja jika seseorang justru menjadi pelaku kejahatan atau berniat mencelakai orang lain.
Salah satu pesan utama yang ditekankan adalah bahwa ilmu pengembali santet hanya diyakini bekerja bagi mereka yang benar-benar terdzolimi. Dalam konteks kejawen, orang yang difitnah, disakiti secara batin, atau menjadi korban niat jahat disebut harus lebih dulu menahan diri dan bersabar.
Jika kesabaran telah dilakukan namun perlakuan buruk terus berulang, maka menurut kepercayaan tersebut, kejahatan akan “dipulangkan” oleh hukum alam dan kehendak Tuhan, bukan oleh tangan manusia.
Dalam tradisi Jawa, laku tirakat sering dipahami sebagai bentuk pengendalian diri dan penyucian batin. Video tersebut menggambarkan tirakat sebagai sarana introspeksi dan penyerahan diri, bukan semata ritual. Tirakat diyakini bertujuan memperkuat niat agar hati tidak dikuasai amarah, dendam, atau kebencian.
Pesan ini menegaskan bahwa kekuatan batin dianggap lebih penting dibanding tindakan fisik. Leluhur Jawa mengajarkan bahwa niat yang bersih menjadi tameng utama dari gangguan energi negatif.
Narasi dalam video menolak konsep balas dendam langsung. Ilmu pengembali santet digambarkan sebagai proses alamiah, di mana perbuatan jahat akan membawa konsekuensi bagi pelakunya sendiri, seperti terhambatnya rezeki, rusaknya hubungan sosial, atau kegelisahan batin.
Dalam pandangan kejawen, manusia tidak dianjurkan mencelakai sesama. Sebaliknya, keseimbangan dipercaya akan terjadi dengan sendirinya seiring waktu.
Menariknya, di bagian akhir video, narator justru menekankan bahwa sikap terbaik tetaplah bersabar dan mendoakan agar orang yang berbuat jahat diberikan kesadaran. Ilmu pengembali santet disebut sebagai jalan terakhir ketika semua upaya kebaikan tidak membuahkan hasil.
Pesan ini memperlihatkan bahwa ajaran kejawen tidak selalu identik dengan mistik ekstrem, melainkan sarat nilai etika, pengendalian diri, dan kepercayaan pada keadilan semesta.
Fenomena viralnya video ini menunjukkan bahwa kepercayaan tradisional Jawa masih hidup dan menarik perhatian generasi digital. Meski demikian, para pemerhati budaya mengingatkan agar masyarakat menyikapi konten semacam ini dengan bijak, memaknainya sebagai kearifan lokal, bukan pedoman mutlak dalam menyelesaikan konflik.
Editor : Anggi Septiani