TRENGGALEK NJENGGELEK– Gunung Slamet merupakan gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut. Keberadaan Gunung Slamet bukan hanya penting secara geografis dan vulkanologi, tetapi juga sarat sejarah, legenda, hingga mitos ramalan Jawa kuno yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini.
Secara administratif, Gunung Slamet berada di wilayah lima kabupaten, yakni Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal, dan Pemalang. Posisi strategis ini menjadikannya salah satu gunung paling dominan di Pulau Jawa, sekaligus yang tertinggi kedua setelah Gunung Semeru. Tak heran jika gunung ini menjadi ikon alam Jawa Tengah sekaligus magnet bagi pendaki dan peneliti kebencanaan.
Sebagai gunung berapi aktif, Gunung Slamet memiliki Kawah IV yang hingga kini masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Catatan letusan Gunung Slamet sudah ada sejak abad ke-19 dengan skala erupsi yang relatif kecil namun berulang. Aktivitas terakhir yang cukup signifikan tercatat pada Mei hingga Juni 2009, ketika gunung ini mengeluarkan lava pijar dan sempat berstatus siaga.
Pada Maret 2014, aktivitas vulkanik kembali meningkat. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ratusan gempa letusan dalam satu hari, yang membuat status Gunung Slamet naik menjadi waspada. Meski demikian, hingga kini gunung ini masih berada dalam pengawasan ketat dan menjadi salah satu gunung api aktif di Jawa.
Di kaki Gunung Slamet, terdapat kawasan wisata Baturaden yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Purwokerto. Kawasan ini menjadi destinasi unggulan Kabupaten Banyumas dengan panorama alam, udara sejuk, dan sumber air panas alami. Meski jalur pendakian Gunung Slamet dikenal berat dan menantang, popularitasnya di kalangan pendaki tak pernah surut.
Baturaden juga menyimpan kisah sejarah dan legenda yang erat kaitannya dengan asal-usul nama Gunung Slamet. Cerita ini diwariskan secara turun-temurun dan masih hidup dalam budaya masyarakat setempat.
Menurut sejarawan Belanda, J.L. Edwin, nama Slamet tergolong relatif baru dan muncul setelah masuknya Islam ke Jawa. Kata “slamet” diduga berasal dari bahasa Arab “salamat” yang berarti keselamatan. Dalam naskah Sunda kuno tentang perjalanan Bujangga Manik, gunung yang disebut sebagai “Gunung Agung” diyakini merujuk pada Gunung Slamet berdasarkan deskripsi lokasinya.
Legenda lokal menyebutkan bahwa nama Gunung Slamet diberikan oleh Syekh Maulana Maghribi, seorang penyebar agama Islam asal negeri Rum atau Turki. Dalam kisahnya, Syekh Maulana melakukan perjalanan spiritual hingga tiba di lereng gunung yang kala itu bernama Gunung Gora. Setelah sembuh dari penyakit gatal berkat sumber air panas dengan tujuh pancuran, beliau menamai tempat itu Pancuran Tujuh dan gunung tersebut menjadi Gunung Slamet sebagai simbol keselamatan.
Nama Gunung Slamet juga kerap dikaitkan dengan ramalan Prabu Jayabaya tentang “Jawa patah kaping pindho” atau Jawa terbelah untuk kedua kalinya. Banyak yang mengaitkan peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 sebagai realisasi ramalan pertama, ketika daratan yang menghubungkan Jawa dan Sumatra terpisah.
Dalam kepercayaan masyarakat sekitar, jika Gunung Slamet meletus dahsyat, maka Pulau Jawa diyakini akan benar-benar terbelah, bahkan disebut-sebut laut utara dan selatan Jawa akan bertemu. Letak Gunung Slamet yang berada hampir di tengah Pulau Jawa semakin memperkuat mitos tersebut.
Meski secara ilmiah hal ini masih sebatas kemungkinan geologis, keberadaan Gunung Slamet di jalur Cincin Api Pasifik membuat potensi aktivitas vulkanik besar tetap harus diwaspadai. Namun, sebagian kalangan menilai ramalan Jayabaya lebih bersifat simbolik dan dapat dimaknai sebagai peringatan tentang persatuan dan kondisi sosial masyarakat Jawa.
Gunung ini dinamai Slamet bukan tanpa alasan, melainkan sebagai doa agar Pulau Jawa dan masyarakatnya selalu diberi keselamatan di tengah kondisi geografis yang rawan bencana.
Editor : Anggi Septiani