Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal Usul Pulau Jawa Menurut Legenda Kuno: Tanah Kayangan Dijatuhkan Dewa, Gunung Mahameru Jadi Pasak Alam

Anggi Septiani • Senin, 19 Januari 2026 | 20:40 WIB
Asal Usul Pulau Jawa Menurut Legenda Kuno: Tanah Kayangan Dijatuhkan Dewa, Gunung Mahameru Jadi Pasak Alam
Asal Usul Pulau Jawa Menurut Legenda Kuno: Tanah Kayangan Dijatuhkan Dewa, Gunung Mahameru Jadi Pasak Alam

TRENGGALEK NJENGGELEK-Asal usul Pulau Jawa tidak hanya dipahami melalui kajian geologi modern, tetapi juga hidup dalam legenda dan kepercayaan kuno masyarakat Nusantara. Dalam cerita Jawa purba, Pulau Jawa diyakini bukan terbentuk secara alamiah seperti pulau lain, melainkan berasal dari sebongkah tanah suci yang dijatuhkan langsung dari kayangan oleh para dewa.

Legenda asal usul Pulau Jawa menyebutkan, pada mulanya dunia hanyalah samudra luas tanpa daratan. Langit dipenuhi badai, dan laut purba bergelora tanpa henti. Para dewa di kahyangan memandang keadaan itu dengan keprihatinan. Batara Guru, penguasa para dewa, menyadari bahwa kehidupan tidak akan seimbang tanpa daratan tempat manusia berpijak.

Upaya pertama menciptakan daratan dilakukan dengan menancapkan bongkahan tanah biasa ke tengah lautan. Namun, arus samudra terlalu kuat. Tanah duniawi terus terhempas, terpecah, dan hanyut. Dari kegagalan itu, para dewa menyimpulkan bahwa hanya tanah kayangan yang memiliki bobot dan energi kosmik cukup kuat untuk menahan kuasa laut purba.

Rencana besar pun disusun. Sebongkah tanah suci dari kahyangan akan dijatuhkan ke titik yang telah ditentukan. Tugas berat ini dipercayakan kepada Antaboga, naga penjaga alam bawah, serta Baruna, dewa penguasa lautan. Antaboga yang tercipta dari tetesan air mata Batara Guru memancarkan cahaya lembut, sementara Baruna menenangkan gelombang laut maha dahsyat.

Ketika tanah kayangan dijatuhkan, bongkahan itu tidak tenggelam. Ia justru berputar dan bergeser di atas ombak seolah memiliki kesadaran sendiri. Meski Baruna berusaha meredam gelombang, daratan baru itu tetap bergoyang dan sulit menetap.

Melihat kondisi tersebut, Batara Guru memanggil Batara Narada dan Batara Wisnu. Keempat dewa itu bermeditasi hingga mendapat wangsit: Gunung Mahameru, pusat alam para dewa, harus diangkat dan dijadikan pasak agar daratan tidak terus bergerak.

Dengan kekuatan luar biasa, Mahameru diangkat dari kahyangan dan ditancapkan tepat di tengah bongkahan tanah suci. Seketika bumi berhenti bergetar. Titik itulah yang diyakini menjadi pusat Pulau Jawa. Namun, beban Mahameru yang sangat berat membuat daratan melengkung dan memanjang, membentuk pulau seperti yang dikenal saat ini.

Gempa kecil dan retakan pun muncul. Pecahan batu terlempar ke berbagai arah, lalu menjelma menjadi gunung-gunung lain seperti Semeru, Merapi, Sumbing, Sindoro, Lawu, dan puluhan puncak vulkanik lainnya. Gunung-gunung ini dipercaya sebagai penyangga Pulau Jawa sekaligus tempat bersemayam kekuatan gaib.

Setelah daratan mengeras, Batara Guru mengundang makhluk hidup pertama, manusia purba Jawa yang digambarkan sebagai keturunan setengah dewa. Mereka membuka lembah, menanam padi, dan mendirikan permukiman awal. Tugu batu dan sumur suci didirikan sebagai simbol empat elemen: tanah, air, api, dan udara.

Dalam perjalanan waktu, Pulau Jawa juga menarik perhatian penguasa laut selatan, Nyai Roro Kidul. Terjadilah perjanjian kosmis: laut dikuasai penjaga samudra, gunung menjadi wilayah roh dan dewa, sementara manusia menempati dataran sebagai penyeimbang. Tradisi labuhan, sedekah bumi, ruwatan, dan tirakatan dipercaya sebagai upaya menjaga keseimbangan ketiga alam tersebut.

Dalam kepercayaan Jawa kuno, alam terbagi menjadi tiga lapisan: jagat alit (dunia manusia), jagat ageng (dunia gaib), dan jagat langgeng (kahyangan). Pulau Jawa berperan sebagai penghubung ketiganya. Puncak gunung menuju langit, pantai selatan menjadi gerbang dunia bawah, dan hutan lebat menjadi lorong misteri antar alam.

Hingga kini, misteri asal usul Pulau Jawa terus hidup dalam budaya, ritual, dan cerita rakyat. Ia bukan sekadar daratan padat penduduk, melainkan tanah legenda yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan dunia tak kasatmata.

 

Editor : Anggi Septiani
#gunung mahameru #cerita dewa Jawa #legenda Pulau Jawa #mitos Jawa kuno #asal usul Pulau Jawa