TRENGGALEK NJENGGELEK-Ramalan Jayabaya tidak hanya berbicara tentang masa depan Pulau Jawa, tetapi juga mengisahkan bagaimana tanah Jawa pertama kali dihuni manusia. Kisah ini tertuang dalam Kitab Sapta Pujangga dan Primbon Jayabaya yang disusun oleh Ronggowarsito, berdasarkan wejangan Prabu Jayabaya setelah berguru kepada Syekh Syamsuddin Al-Wasil.
Dalam naskah tersebut, Ramalan Jayabaya menceritakan kondisi Pulau Jawa sejak masih kosong, sunyi, hingga akhir zaman atau kiamat kubra. Prabu Jayabaya bahkan memerintahkan agar kisah itu ditulis dalam Kitab Musarar, yang kemudian menjadi babon atau induk dari Jangka Jayabaya yang dikenal luas hingga kini.
Menurut cerita, seorang raja bernama Sri Sultan Al Gabah dari wilayah utara tanah Arab yang masih termasuk lingkungan Turki Aziz menerima perintah gaib. Ia diminta mengisi sebuah pulau panjang di sebelah timur laut Hindustan yang diketahui memiliki lebih dari 20 gunung tinggi serta ratusan bukit beraneka warna, namun belum berpenghuni.
Setelah mendapat laporan dari para nahkoda berpengalaman, Sultan Al Gabah memerintahkan persiapan besar-besaran. Sebanyak 20 ribu orang dipilih dan dibekali senjata serta kebutuhan hidup untuk dijadikan bibit manusia di Pulau Jawa. Rombongan besar ini berlayar selama 40 hari 40 malam sebelum akhirnya mendarat di kaki Gunung Kendang.
Menurut penanggalan Romawi, pendaratan pertama ini terjadi pada tahun 437 Masehi. Namun, Pulau Jawa kala itu masih berada dalam masa yang disebut zaman Sangkala, yakni periode ketika penyakit dan binatang buas merajalela.
Dari 20 ribu pendatang yang diturunkan ke tanah Jawa, hanya 20 orang yang berhasil bertahan hidup. Sisanya meninggal akibat wabah penyakit dan serangan binatang buas. Kondisi ini membuat rombongan yang tersisa memutuskan kembali ke Persia untuk melaporkan kegagalan tersebut kepada Sultan Al Gabah.
Mendengar kabar itu, Sultan dilanda kesedihan sekaligus kemarahan. Ia kemudian mengumpulkan para pendeta sakti untuk menyiapkan tumbal dan jimat, dengan tujuan menantang kekuatan gaib yang diyakini menguasai Pulau Jawa saat itu.
Tak berhenti di situ, Sultan Al Gabah kembali mengirim 20 ribu orang untuk kedua kalinya. Kali ini mereka berasal dari berbagai bangsa, seperti Keling dan Candi, dan dibagi menjadi 20 rombongan. Setiap rombongan dipimpin oleh Sing Linangkung Kusmanadji, seorang pendeta sakti dari Bani Israil.
Rombongan kedua ini tiba di Pulau Jawa sekitar tahun 444 Masehi. Setibanya di sana, Sing Linangkung Kusmanadji segera menanam tumbal dan jimat di empat penjuru mata angin serta satu titik di bagian tengah pulau.
Tak lama setelah ritual dilakukan, turun hujan sangat lebat yang digambarkan seperti kondisi menjelang kiamat. Dalam kepercayaan Jawa kuno, hujan dahsyat itu menandai terusirnya jin, setan, dan dedemit yang sebelumnya menghuni Pulau Jawa. Makhluk-makhluk gaib tersebut disebut melarikan diri ke lautan karena tidak tahan dengan kekuatan tumbal dan doa yang ditanamkan.
Setelah keadaan dianggap aman, para pendatang mulai menetap dan bercocok tanam dengan bibit yang mereka bawa dari Persia. Inilah yang dalam Ramalan Jayabaya disebut sebagai pengisian Pulau Jawa untuk kedua kalinya, yang kemudian menjadi awal kehidupan manusia di tanah Jawa.
Dalam Jangka Jayabaya disebutkan, sejak Pulau Jawa dihuni manusia kedua kalinya hingga datangnya kiamat kubra, waktu yang tersedia adalah 2.100 tahun surya atau 2.163 tahun chandra. Rentang waktu ini dibagi menjadi tiga periode besar, masing-masing berdurasi 700 tahun surya.
Setiap periode besar tersebut masih dibagi lagi ke dalam Sapta Maloko atau tujuh zaman kecil. Pembagian zaman inilah yang kerap dijadikan rujukan oleh masyarakat Jawa dalam menafsirkan perubahan sosial, politik, dan alam yang terjadi dari masa ke masa.
Meski kisah ini bersifat legenda dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, Ramalan Jayabaya tentang awal mula Pulau Jawa dihuni manusia tetap menjadi bagian penting dari khazanah budaya dan sejarah tutur masyarakat Jawa hingga saat ini.
Editor : Anggi Septiani