Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Asal Usul Pulau Jawa Menurut Legenda: Tanah Kayangan, Gunung Mahameru, dan Perjanjian Dewa dengan Dunia Gaib

Anggi Septiani • Selasa, 20 Januari 2026 | 20:00 WIB
Asal Usul Pulau Jawa Menurut Legenda: Tanah Kayangan, Gunung Mahameru, dan Perjanjian Dewa dengan Dunia Gaib
Asal Usul Pulau Jawa Menurut Legenda: Tanah Kayangan, Gunung Mahameru, dan Perjanjian Dewa dengan Dunia Gaib

TRENGGALEK NJENGGELEK- Asal usul Pulau Jawa bukan sekadar catatan geologis, melainkan kisah panjang yang hidup dalam legenda dan kepercayaan Jawa kuno. Dalam narasi turun-temurun, Pulau Jawa diyakini bukan terbentuk secara alamiah seperti pulau lain, melainkan berasal dari bongkahan tanah suci yang dijatuhkan para dewa dari kahyangan ke samudra purba.

Legenda ini mengisahkan masa ketika dunia masih berupa lautan luas tanpa daratan. Langit dipenuhi badai, dan tak ada satu pun tempat berpijak bagi makhluk hidup. Melihat ketidakseimbangan tersebut, Batara Guru, penguasa kahyangan, menyadari bahwa manusia membutuhkan daratan untuk hidup, belajar, dan membangun peradaban.

Upaya pertama menciptakan daratan dilakukan dengan menancapkan tanah duniawi ke lautan. Namun, arus samudra purba terlalu kuat. Setiap bongkahan tanah hancur atau hanyut. Dari kegagalan itu, para dewa menyimpulkan bahwa hanya tanah kayangan—tanah dengan energi kosmik murni—yang cukup berat untuk menahan kuasa laut.

Rencana besar pun disusun. Batara Guru menunjuk Antaboga, naga penjaga alam bawah, dan Baruna, dewa penguasa lautan, untuk menjalankan tugas suci. Antaboga membawa bongkahan tanah kayangan yang memancarkan cahaya, sementara Baruna berusaha menenangkan gelombang samudra.

Ketika bongkahan tanah itu dijatuhkan ke lautan, ia tidak tenggelam, namun juga tidak stabil. Tanah tersebut bergeser dan berputar seolah memiliki kesadaran sendiri. Ombak terus mengguncang, membuat daratan baru itu belum mampu menetap.

Melihat kondisi tersebut, Batara Guru memanggil Batara Narada dan Batara Wisnu. Keempat dewa itu bermeditasi hingga memperoleh wangsit: Gunung Mahameru, pusat kahyangan, harus dipindahkan dan dijadikan pasak agar daratan bisa kokoh.

Dengan kekuatan luar biasa, Batara Narada dan Batara Wisnu mengangkat Gunung Mahameru dan menancapkannya tepat di tengah bongkahan tanah kayangan. Saat Mahameru tertanam, bumi berhenti berguncang. Titik itulah yang dipercaya menjadi pusat Pulau Jawa.

Namun, berat Mahameru menyebabkan daratan melengkung dan memanjang. Getaran besar memecah tanah menjadi serpihan-serpihan yang kemudian menjelma menjadi gunung-gunung lain seperti Semeru, Merapi, Lawu, Sumbing, Sindoro, dan puluhan puncak lainnya.

Menurut kepercayaan Jawa, gunung-gunung tersebut berfungsi sebagai penyangga Pulau Jawa. Masing-masing memiliki peran gaib. Semeru dianggap sebagai pusat spiritual, Merapi sebagai pelindung manusia, dan gunung lain sebagai penjaga keseimbangan alam.

Setelah daratan mengeras, Batara Guru mengundang manusia purba Jawa, keturunan setengah dewa dan setengah manusia. Mereka mulai menanam padi, membangun pemukiman, serta mendirikan tugu batu dan tempat suci sebagai simbol empat elemen kehidupan: tanah, air, api, dan udara.

Dari sinilah lahir tradisi sedekah bumi, ruwatan, dan tirakatan yang masih dijalankan hingga kini. Kepercayaan Jawa juga mencatat hadirnya Nyai Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan, yang kemudian menjalin perjanjian pembagian wilayah dengan para dewa gunung dan manusia.

Laut selatan menjadi wilayah kekuasaannya, gunung dan hutan dijaga roh alam, sementara manusia menempati dataran sebagai penyeimbang. Para raja Jawa sejak era Mataram rutin mengirim sesaji sebagai bentuk penghormatan agar harmoni tetap terjaga.

Dalam kosmologi Jawa, alam terbagi menjadi tiga lapis: jagat alit (dunia manusia), jagat ageng (dunia gaib), dan jagat langgeng (kahyangan). Pulau Jawa dipercaya menjadi penghubung ketiganya. Gunung mengarah ke langit, pantai selatan menjadi gerbang dunia bawah, dan hutan menjadi lorong misteri.

Legenda asal usul Pulau Jawa ini bukan hanya cerita masa lalu, tetapi pesan tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia tak kasat mata yang hingga kini masih dijaga dalam budaya Nusantara.

Editor : Anggi Septiani
#gunung mahameru #nyai roro kidul #asal usul Pulau Jawa #mitologi jawa #legenda Jawa kuno