Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Teror Sambal Non Halal, Lesung Tua, dan Perjanjian Gaib yang Menghancurkan Satu Keluarga Jawa

Anggi Septiani • Selasa, 20 Januari 2026 | 20:15 WIB
Teror Sambal Non Halal, Lesung Tua, dan Perjanjian Gaib yang Menghancurkan Satu Keluarga Jawa
Teror Sambal Non Halal, Lesung Tua, dan Perjanjian Gaib yang Menghancurkan Satu Keluarga Jawa

TRENGGALEK NJENGGELEK-Film Perewangan menghadirkan kisah horor bernuansa kental budaya Jawa yang dibangun dari cerita kelam sebuah keluarga dengan masa lalu penuh perjanjian gaib. Berlatar tahun 2008 di sebuah kota di Pulau Jawa, film ini membuka cerita dengan suasana rumah tua yang sepi, gelap, dan menyimpan rahasia mengerikan.

Dalam Film Perewangan, sosok Sudarsih diperkenalkan sebagai pemilik restoran ayam goreng yang selalu ramai pembeli. Namun, kesuksesan usaha itu ternyata tidak datang secara wajar. Pada suatu malam, Sudarsih terlihat menumbuk sambal di lesung tua sambil mencampurkan bahan non halal berupa burung gagak, disertai pembacaan mantra misterius. Sambal itulah yang kemudian disajikan kepada para pelanggan tanpa mereka sadari asal-usulnya.

Popularitas sambal buatan Sudarsih membuat restoran mereka tak pernah sepi. Yadi, sang suami, menikmati keberhasilan tersebut tanpa mengetahui konsekuensi gaib yang perlahan menggerogoti keluarganya. Kejanggalan mulai terasa ketika kemunculan burung gagak di dapur dianggap sebagai pertanda kematian, sesuai kepercayaan Jawa kuno yang diyakini Sudarsih.

Gangguan semakin intens saat Sudarsih kerap mengalami kesurupan. Ia berbicara dalam bahasa Jawa kuno dengan posisi tubuh tidak wajar di depan pangilon atau cermin besar di rumah. Yadi yang sering menyaksikan kejadian tersebut perlahan kehilangan kewarasan hingga akhirnya mengalami gangguan mental serius.

Dua tahun berselang, Yadi dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit tempat ia dirawat oleh Roni, kakak ipar Sudarsih yang berprofesi sebagai dokter. Di rumah, Yadi disambut oleh kedua anak perempuannya, Maya dan Wulan, yang selama ini merawat sang ibu dalam kondisi sakit dan tidak stabil.

Tragedi kembali terjadi ketika Yadi melihat halusinasi Sudarsih yang tampak sehat dan mengajaknya berdansa. Malam itu, seekor burung gagak menabrak jendela rumah. Tak lama kemudian, Yadi ditemukan tewas secara mengenaskan di halaman rumah, memperkuat simbol kematian yang sejak awal dibangun dalam Film Perewangan.

Usai pemakaman, tiga adik Sudarsih datang dengan dalih belasungkawa, namun menyimpan niat membahas pembagian warisan rumah tua peninggalan kakek mereka. Maya menolak tegas permintaan itu karena rumah tersebut masih ditempati ibunya, meski sakit parah.

Situasi semakin mencekam saat Maya menemukan luka-luka aneh di punggung ibunya. Roni yang datang menjenguk akhirnya membuka rahasia keluarga. Kakek Maya, yang dikenal sebagai Yangkung, ternyata memelihara makhluk gaib bernama perewangan demi kesuksesan usaha. Sebagai imbalannya, perewangan harus diberi “jamuan” berupa nyawa orang-orang terdekat.

Roni mengungkapkan bahwa perewangan itu pernah dikurung di dalam cermin besar setelah menewaskan Yangkung. Ia pun memperingatkan Maya agar memindahkan atau menutup cermin tersebut karena diduga menjadi sumber malapetaka keluarga.

Peringatan itu terlambat. Maya menyaksikan bayangan perewangan menjilati luka ibunya dari dalam cermin. Anehnya, luka tersebut sembuh seketika, dan Sudarsih kembali terlihat sehat. Ia berdandan dengan kebaya hijau dan berdiri di depan pangilon seolah hendak melakukan ritual.

Di saat bersamaan, Roni mengalami kematian tragis setelah berjalan tanpa sadar menuju rel kereta api. Kematian beruntun ini membuat keluarga besar menyadari bahwa perewangan kembali menuntut tumbal.

Film Perewangan tidak hanya menyuguhkan teror visual, tetapi juga mengangkat kritik tentang ambisi, keserakahan, serta dampak perjanjian gaib yang diwariskan lintas generasi. Sebuah kisah horor lokal yang menegaskan bahwa harga dari pesugihan selalu dibayar mahal.

 

Editor : Anggi Septiani
#horor jawa timur #Pesugihan Jawa #Film horor indonesia #film perewangan #Perewangan