TRENGGALEK NJENGGELEK- Ilmu kuno puasa mutih kembali ramai diperbincangkan setelah sebuah video YouTube mengulas secara detail tata cara spiritual untuk menghadapi orang yang kerap memfitnah, menyakiti hati, hingga mengirim energi negatif seperti santet. Ritual ini dipercaya mampu mengembalikan niat jahat kepada pelakunya, asalkan dilakukan oleh orang yang benar-benar berada di pihak yang terdzolimi.
Dalam video tersebut, sang narator menegaskan bahwa ilmu kuno puasa mutih bukanlah amalan sembarangan. Ritual ini hanya akan bekerja jika seseorang memang berada dalam posisi benar, bukan pelaku kezaliman. Jika digunakan untuk main-main atau dengan niat jahat, maka ilmu ini diyakini tidak akan bereaksi sama sekali.
Ilmu kuno puasa mutih disebut sebagai laku tirakat tingkat berat dalam tradisi spiritual Jawa. Leluhur Jawa mengenal konsep laku prihatin sebagai sarana membersihkan batin sekaligus memperkuat doa. Puasa mutih sendiri dilakukan dengan hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih, tanpa lauk apa pun, selama tujuh hari tujuh malam.
Dalam praktiknya, puasa mutih dilakukan penuh disiplin. Pada siang hari, pelaku berpuasa total tanpa makan dan minum. Saat malam, hanya diperbolehkan makan nasi putih dan minum air putih. Tirakat ini diyakini sebagai “tebusan” agar doa dan niat spiritual dapat terkabul.
Selain puasa mutih, ritual ini juga menggunakan media berupa sapu lidi. Sapu lidi dipilih karena dianggap memiliki filosofi penyatuan dan kekuatan dalam tradisi Jawa. Sebelum puasa dimulai, sapu lidi harus disiapkan terlebih dahulu.
Setiap malam setelah pukul 12.00, pelaku ritual diwajibkan membaca mantra khusus sebanyak tujuh kali dan meniupkannya ke sapu lidi. Mantra tersebut diawali dengan bacaan basmalah dan diikuti rangkaian kalimat Jawa kuno yang bermakna penolakan serta pengembalian energi jahat kepada pemiliknya atas kehendak Tuhan.
Proses ini dilakukan selama tujuh malam berturut-turut bersamaan dengan puasa mutih. Konsistensi dan keyakinan menjadi kunci utama agar ritual berjalan sesuai tujuan.
Setelah puasa mutih selesai pada hari ketujuh, ritual dilanjutkan dengan penancapan sapu lidi. Usai waktu Magrib, lidi-lidi yang telah didoakan ditancapkan di empat penjuru rumah, tepatnya di bagian luar pojok rumah arah timur laut, tenggara, barat daya, dan barat laut.
Satu lidi terakhir ditancapkan di halaman depan rumah. Saat menancapkan lidi ini, pelaku diminta membayangkan bahwa semua niat jahat, fitnah, dan kiriman energi negatif yang ditujukan kepadanya akan kembali kepada pengirimnya, bukan sebagai balas dendam, melainkan sebagai bentuk keadilan semesta.
Dalam penjelasannya, sang narator menyebut bahwa hasil dari ritual ilmu kuno puasa mutih ini biasanya akan terlihat dalam waktu tiga hari. Orang yang gemar memfitnah atau menyakiti diyakini akan menerima akibat dari perbuatannya sendiri, mulai dari rezeki yang seret, masalah hidup bertubi-tubi, hingga hilangnya pengaruh buruk yang sebelumnya digunakan untuk mencelakai orang lain.
Meski demikian, ia menekankan bahwa jalan terbaik tetaplah bersabar dan mendoakan agar orang yang berbuat jahat diberi kesadaran. Ritual ini disebut sebagai jalan terakhir jika kezaliman sudah melampaui batas dan doa-doa kebaikan tidak lagi membuahkan perubahan.
Di akhir video, penegasan kembali disampaikan bahwa ilmu kuno puasa mutih bukan untuk ajang balas dendam. Ritual ini lebih dimaknai sebagai upaya perlindungan diri secara spiritual. Penggunaan ilmu ini harus disertai niat lurus dan kebijaksanaan agar tidak berbalik menjadi bumerang.
Tradisi spiritual Jawa kembali mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya. Niat baik akan menuai kebaikan, sementara niat jahat pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali.
Editor : Anggi Septiani