Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Cara Mencari Hari Baik Menanam ala Leluhur Jawa, Petani Percaya Bisa Hindari Wereng dan Panen Lebih Maksimal

Anggi Septiani • Kamis, 22 Januari 2026 | 17:15 WIB
Cara Mencari Hari Baik Menanam ala Leluhur Jawa, Petani Percaya Bisa Hindari Wereng dan Panen Lebih Maksimal
Cara Mencari Hari Baik Menanam ala Leluhur Jawa, Petani Percaya Bisa Hindari Wereng dan Panen Lebih Maksimal

TRENGGALEK NJENGGELEK-Cara mencari hari baik menanam kembali menjadi perbincangan di kalangan petani Jawa setelah sebuah video YouTube membahas pakem perhitungan tradisional yang dipercaya mampu membantu hasil pertanian lebih optimal. Metode ini merupakan warisan leluhur Jawa yang sejak dulu digunakan sebagai ikhtiar agar tanaman terhindar dari hama seperti wereng dan panen berjalan sesuai harapan.

Dalam penjelasannya, cara mencari hari baik menanam tidak berkaitan dengan unsur mistis semata, melainkan bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan kehati-hatian sebelum memulai tanam. Meski di era modern banyak petani meninggalkannya, metode ini tetap relevan sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa, khususnya di sektor pertanian.

Cara mencari hari baik menanam ini juga ditegaskan bukan jaminan mutlak keberhasilan panen. Hasil akhir tetap bergantung pada kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Namun, perhitungan hari baik dianggap sebagai bentuk usaha batin sekaligus perencanaan awal agar petani lebih siap secara mental dan teknis.

Dalam tradisi Jawa, terdapat empat pakem utama dalam menentukan hari baik menanam, yakni oyot, wit, godong, dan woh. Keempatnya disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam, apakah hasilnya berada di dalam tanah, berupa batang, daun, atau buah.

Perhitungan dilakukan menggunakan neptu hari dan pasaran Jawa. Neptu tersebut kemudian dibagi empat, dan sisa pembagian menentukan kategori tanaman yang cocok ditanam pada hari tersebut. Sistem ini telah lama digunakan oleh para sesepuh sebagai panduan bertani.

Oyot merujuk pada akar atau hasil tanaman yang berada di dalam tanah. Contohnya ketela, singkong, dan kacang tanah. Hari baik untuk kategori oyot adalah hari dengan neptu 13, 9, atau 17.

Sebagai contoh, neptu 13 dibagi empat menghasilkan sisa satu, yang jatuh pada kategori oyot. Oleh karena itu, hari seperti Minggu Kliwon atau kombinasi hari lain dengan neptu serupa dianggap cocok untuk menanam tanaman umbi-umbian.

Kategori wit digunakan untuk tanaman yang dimanfaatkan batang atau pohonnya, seperti tebu. Hari yang dianjurkan memiliki neptu 10, 14, atau 18. Misalnya Selasa Pon dengan neptu 10, ketika dibagi empat menghasilkan sisa dua yang masuk kategori wit.

Pemilihan hari ini dipercaya membantu pertumbuhan batang menjadi lebih kuat dan hasil panen lebih maksimal.

Godong diperuntukkan bagi tanaman sayuran yang dipanen daunnya, seperti bayam, kangkung, dan sawi. Hari baiknya berada pada neptu 7, 11, atau 15.

Contohnya Rabu Wage dengan neptu 11. Setelah dibagi empat, sisanya menunjukkan kategori godong. Dengan memilih hari ini, petani berharap tanaman tumbuh subur dan hasilnya melimpah.

Kategori terakhir adalah woh, yakni tanaman buah yang menggantung atau berada di atas tanah, seperti cabai, tomat, dan terong. Hari baiknya adalah neptu 8, 12, atau 16.

Neptu 12, misalnya Rabu Legi, ketika dibagi empat tidak bersisa. Ini menandakan kecocokan untuk menanam tanaman buah agar hasilnya optimal.

Meski sudah menemukan hari baik menanam sesuai pakem, petani tetap diingatkan untuk memperhatikan hari naas pribadi dan geblak orang tua yang telah meninggal. Hari-hari tersebut sebaiknya dihindari meski secara hitungan tergolong hari baik.

Perhitungan mongso atau musim tidak digunakan dalam metode ini karena kondisi cuaca saat ini dinilai sulit diprediksi. Perubahan iklim membuat hujan bisa turun kapan saja, berbeda dengan zaman dahulu.

Selain hari baik menanam, faktor kesuburan tanah juga menjadi perhatian. Leluhur Jawa dulu mengandalkan pupuk alami seperti pupuk kandang dan kompos. Namun di era sekarang, penggunaan pupuk pabrik tidak bisa dihindari.

Solusi terbaik adalah mengombinasikan pupuk alami dan pupuk pabrik. Jika terlalu banyak pupuk kimia, tanah bisa menjadi gersang dan menurun kualitasnya. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan pupuk alami, hasil panen bisa kurang maksimal.

Dengan menjaga keseimbangan tersebut, petani diharapkan tetap mendapatkan hasil optimal tanpa merusak kesuburan tanah jangka panjang.

 

Editor : Anggi Septiani
#tradisi bertani Jawa #neptu Jawa pertanian #hari baik tanam Jawa #cara mencari hari baik menanam