TRENGGALEK NJENGGELEK – Kekayaan kopi Nusantara kembali menghadirkan cerita menarik dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kali ini datang dari kawasan Menoreh, tepatnya di Sidoharjo, tempat Kopi Menoreh dikembangkan secara organik oleh seorang petani sekaligus penggiat kopi bernama Pak Rahmat. Kopi khas perbukitan Menoreh ini dikenal memiliki karakter rempah yang kuat dan dibudidayakan tanpa bahan kimia.
Pak Rahmat menuturkan, Kopi Menoreh ditanam di ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut, ketinggian yang dinilai ideal untuk pertumbuhan kopi robusta berkualitas. Sejak awal, ia konsisten menerapkan sistem pertanian organik dengan tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida. Seluruh proses perawatan tanaman dilakukan secara alami demi menjaga kualitas rasa dan kesehatan lingkungan.
Dibangun dari Kebun dan Petani Lokal
Pengembangan Kopi Menoreh tidak berdiri sendiri. Pak Rahmat menjalin kerja sama dengan petani-petani lokal di kawasan Menoreh untuk membangun ekosistem kopi berkelanjutan. Selain mengelola kebun sendiri, ia juga berperan sebagai penghubung antara petani, proses pengolahan, hingga pemasaran melalui kedai kopi yang dikelolanya.
“Awalnya kami fokus di kebun dan petani, lalu berkembang ke pengolahan dan kedai kopi. Semuanya masih belajar,” ujarnya. Model kolaborasi ini membuat Kopi Menoreh menjadi produk lokal yang tumbuh bersama masyarakat sekitar.
Keunikan Kopi Lanang Menoreh
Salah satu varian yang menarik perhatian adalah kopi lanang. Kopi ini berasal dari biji tunggal dalam satu buah kopi, berbeda dari kopi pada umumnya yang memiliki dua biji. Menurut Pak Rahmat, kopi lanang memiliki karakter rasa lebih kuat dan dipercaya memiliki khasiat tertentu bagi kesehatan, sehingga banyak dicari penikmat kopi.
Selain itu, Kopi Menoreh dikenal memiliki aroma rempah yang khas. Hal ini tidak lepas dari kondisi alam kebun kopi yang berdampingan dengan tanaman lain seperti cengkeh dan kapulaga. Persilangan akar tanaman tersebut diyakini memberi pengaruh pada aroma dan cita rasa kopi.
Proses Panen Petik Merah untuk Jaga Kualitas
Dalam menjaga kualitas, petani Kopi Menoreh menerapkan metode petik merah. Buah kopi hanya dipanen ketika sudah benar-benar matang berwarna merah. Proses panen dilakukan secara bertahap, biasanya dua minggu sekali, agar kualitas biji tetap terjaga.
Musim panen berlangsung satu kali dalam setahun, antara April hingga September. Dari lahan sekitar 6.000 meter persegi, produksi kopi Menoreh bisa mencapai sekitar 300 kilogram buah kopi, yang setelah proses pengeringan menghasilkan sekitar 60–70 persen biji kopi siap olah.
Pengolahan Tradisional dengan Cita Rasa Khas
Hingga kini, pengolahan Kopi Menoreh masih dilakukan secara tradisional. Mulai dari penjemuran hingga pengolahan biji dilakukan secara manual. Meski demikian, cara ini justru mempertahankan karakter rasa khas Kopi Menoreh yang tidak mudah ditiru.
Pak Rahmat berharap ke depan ada dukungan berupa pelatihan dan peralatan modern untuk meningkatkan kualitas pasca panen tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya. “Kalau alatnya lebih modern, rasa bisa makin konsisten dan bersaing dengan kopi-kopi besar,” katanya.
Kopi yang Tak Pernah Kehilangan Pasar
Alasan Pak Rahmat tetap setia mengembangkan kopi karena melihat kopi sebagai komoditas yang tidak pernah kehilangan pasar. Tradisi minum kopi sudah ada sejak generasi terdahulu dan terus berkembang hingga sekarang. Bahkan, Kopi Menoreh disebut-sebut pernah menjadi salah satu kopi favorit kalangan Keraton.
Dengan potensi besar yang dimiliki, Kopi Menoreh diharapkan dapat menyusul popularitas kopi-kopi nasional seperti Gayo, Toraja, dan Kintamani. Sejak mulai dikembangkan pada 2014, Kopi Menoreh terus berbenah agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Editor : Findika Pratama