Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menyusuri Dusun Wonomulyo Magetan, Kampung Lereng Pegunungan yang Dijuluki Jeblok dan Menyimpan Jejak Sejarah Ki Hajar Wonokoso

Ichaa Melinda Putri • Minggu, 8 Februari 2026 | 12:05 WIB
Menyusuri Dusun Wonomulyo Magetan, Kampung Lereng Pegunungan yang Dijuluki Jeblok dan Menyimpan Jejak Sejarah Ki Hajar Wonokoso
Menyusuri Dusun Wonomulyo Magetan, Kampung Lereng Pegunungan yang Dijuluki Jeblok dan Menyimpan Jejak Sejarah Ki Hajar Wonokoso

TRENGGALEK NJENGGELEK- Dusun Wonomulyo Magetan merupakan salah satu perkampungan lereng pegunungan yang berada di Desa Genilangit, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Dusun ini dikenal unik karena memiliki julukan lama bernama Jeblok, sebuah sebutan yang lekat dengan kondisi geografis dan sejarah wilayahnya.

Dusun Wonomulyo Magetan terletak di kawasan pegunungan dengan suhu udara relatif sejuk hingga dingin. Karakter rumah-rumah warga di wilayah ini berbeda dengan perkampungan dataran rendah. Lahan hunian cenderung sempit, tanpa halaman luas, menyesuaikan kontur tanah lereng pegunungan.

Kampung Lereng dengan Seribu Lebih Penduduk

Berdasarkan data warga, Dusun Wonomulyo Magetan terdiri dari delapan RT dengan jumlah kepala keluarga sekitar 300 KK dan total penduduk lebih dari 1.000 jiwa. Mayoritas masyarakatnya dahulu berprofesi sebagai petani sayuran. Namun, seiring perkembangan zaman, sebagian warga kini telah beralih ke berbagai bidang pekerjaan lain.

Dari sisi sosial keagamaan, Dusun Wonomulyo Magetan dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Sekitar 70 hingga 75 persen penduduk beragama Islam, sementara 20 hingga 25 persen lainnya merupakan pemeluk agama Buddha. Meski berbeda keyakinan, kehidupan warga berjalan rukun dan berdampingan.

Asal-usul Julukan Jeblok

Nama Jeblok bukan sekadar julukan tanpa makna. Istilah ini merujuk pada sebuah titik di tengah dusun yang tanahnya selalu basah dan berlumpur, bahkan mengeluarkan air. Jika diinjak, tanah di lokasi tersebut seolah ambles atau “jeblok”. Fenomena alam inilah yang kemudian melekat sebagai identitas lama Dusun Wonomulyo.

Lokasi tanah basah tersebut hingga kini masih dikenal warga dan berada di sekitar area Masjid Baiturrahman, tepatnya di wilayah Wonomulyo bagian tengah.

Pembagian Wilayah Dusun Wonomulyo

Secara administratif dan sosial, Dusun Wonomulyo Magetan dibagi menjadi tiga wilayah utama, yakni Wonomulyo bagian timur, tengah, dan barat.

Di bagian timur terdapat wilayah Muning atau Tunggangan yang masuk RT 13. Area ini masih cukup renggang, dikelilingi lahan sayur, serta dilengkapi mushola, kamar mandi umum, WC umum, warung kelontong, dan toko pertanian. Masih di bagian timur, wilayah Nglorokan RT 14 menjadi kawasan yang sedikit masuk dari jalan utama dan memiliki pemakaman dusun.

Pusat Aktivitas di Bagian Tengah

Wonomulyo bagian tengah merupakan kawasan paling padat. Wilayah ini mencakup RT 14, 15, dan 16 dengan jarak antar rumah yang rapat serta banyak gang kecil. Fasilitas umum seperti warung kelontong, kamar mandi umum, WC umum, dan punden dapat ditemukan di area ini.

Wilayah Centong RT 17 disebut sebagai pusat aktivitas atau “ibukota” Dusun Wonomulyo Magetan. Di sinilah berdiri SDN 2 Wonomulyo, TK Siti Mulyo, Polindes, pasar sayur, Masjid Baiturrahman, pesantren, serta berbagai warung dan fasilitas umum lainnya. Lokasi Jeblok juga berada di kawasan ini.

Wilayah Barat hingga Makam Pendiri Dusun

Memasuki Wonomulyo bagian barat, terdapat wilayah Gedangan atau Membeli RT 18 yang memiliki warung makan, PAUD, serta fasilitas umum lainnya. Menariknya, warung nasi di wilayah ini hanya buka pagi hari hingga sekitar pukul 08.00 atau 09.00 WIB, dengan alasan khusus yang akan dibahas warga di kesempatan lain.

Wilayah Jeblok Kulon RT 19 dan Templek RT 20 menjadi kawasan paling barat Dusun Wonomulyo. Di ujung barat inilah berdiri Vihara sebagai tempat ibadah umat Buddha, serta makam Ki Hajar Wonokoso, tokoh yang dipercaya sebagai pendiri Dusun Wonomulyo Magetan.

Kampung Lereng dengan Banyak Cerita

Selain keindahan alam dan kehidupan sosialnya, Dusun Wonomulyo Magetan juga menyimpan berbagai cerita budaya, kebiasaan masyarakat desa, hingga lokasi-lokasi yang dianggap unik, mistis, bahkan dikenal sebagai tempat pesugihan oleh sebagian orang.

Dusun ini menjadi gambaran kehidupan kampung pegunungan yang sederhana, penuh kearifan lokal, serta kaya cerita yang masih terus hidup di tengah masyarakatnya.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Jeblok Magetan #Poncol Magetan #Desa Genilangit #Kampung Lereng Pegunungan #Dusun Wonomulyo Magetan