TRENGGALEK NJENGGELEK- Dusun Cemoro Sewu Magetan selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata andalan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terletak di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, dusun tertinggi di lereng Gunung Lawu ini menjadi pintu masuk jalur pendakian sekaligus destinasi favorit wisata alam pegunungan.
Namun, di balik keindahan alam, kabut tebal, dan hawa dingin yang menjadi daya tarik wisata, terdapat sisi lain kehidupan warga Dusun Cemoro Sewu Magetan yang jarang tersorot. Mayoritas masyarakat setempat menggantungkan hidup dari pertanian, khususnya stroberi dan sayuran dataran tinggi.
Kampung Tertinggi di Lereng Lawu
Dusun Cemoro Sewu Magetan berada di ketinggian dengan suhu udara yang sangat dingin, bahkan di siang hari. Saat cuaca mendung, jarak pandang hanya sekitar 20 meter karena kabut tebal yang menyelimuti kawasan. Kondisi tersebut kerap terjadi, terutama pada musim kemarau basah seperti tahun ini.
Selain sebagai permukiman warga, kawasan ini juga dikenal sebagai jalur wisata dan lokasi kebun stroberi petik sendiri yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, mulai dari Semarang, Solo, Surabaya, hingga kota-kota lain di Jawa Timur.
Petani Stroberi Terpukul Cuaca Tak Menentu
Sebagian besar warga Dusun Cemoro Sewu Magetan berprofesi sebagai petani stroberi. Tanaman ini menjadi andalan utama karena cocok dengan kondisi tanah dan iklim pegunungan. Normalnya, bulan Juli hingga Agustus menjadi masa panen raya yang diharapkan mampu mengembalikan modal bahkan memberi keuntungan.
Namun tahun ini, cuaca yang tidak menentu justru membawa petaka. Kabut, hujan, dan minimnya sinar matahari menyebabkan banyak buah stroberi rusak sebelum dipanen. Buah membusuk karena embun dan kelembapan tinggi, sehingga hasil panen menurun drastis.
“Harusnya bulan Agustus ini modal sudah balik. Tapi tahun ini banyak yang gagal,” keluh salah satu petani stroberi setempat.
Meski demikian, para petani tetap bertahan. Bagi mereka, yang terpenting bukan keuntungan besar, melainkan tidak sampai menanggung kerugian terlalu dalam. Sebagian bahkan menyebut kondisi ini sebagai “tekor tapi pasrah”.
Rumah Sederhana di Tengah Kebun
Pemandangan khas Dusun Cemoro Sewu Magetan adalah rumah-rumah sederhana yang berdiri tepat di tepi kebun stroberi dan sayuran. Begitu membuka pintu rumah, warga langsung berhadapan dengan lahan pertanian mereka sendiri.
Aktivitas berkebun dilakukan setiap hari meskipun hasilnya tidak maksimal. Beberapa warga memilih menanam wortel atau kol sebagai alternatif jika stroberi terlalu berisiko ditanam di kondisi cuaca saat ini.
Hidup dari Wisata, Bertahan dari Dagangan Kecil
Selain bertani, sebagian warga dan pendatang dari daerah sekitar memanfaatkan arus wisata dengan berjualan makanan ringan di pinggir jalan. Kacang godok, gorengan, minuman hangat, hingga jajanan tradisional menjadi penghidupan tambahan.
Salah satu pedagang perempuan mengaku setiap hari harus naik ojek dengan ongkos pulang-pergi mencapai Rp50 ribu hanya untuk bisa berjualan di kawasan wisata Cemoro Sewu. Jika dagangan tidak habis, ia harus pulang dengan motor kosong yang kebetulan melintas.
Meski penghasilan tidak menentu, para pedagang kecil ini tetap datang setiap hari dengan harapan rezeki.
Keindahan dan Realita yang Berjalan Bersamaan
Dusun Cemoro Sewu Magetan menjadi gambaran nyata kontras antara wajah wisata dan kehidupan masyarakat lokal. Saat wisatawan menikmati udara dingin dan pemandangan alam, warga setempat justru berjibaku dengan ketidakpastian cuaca dan hasil pertanian.
Namun di tengah keterbatasan, semangat bertahan dan rasa syukur masih menjadi pegangan hidup warga lereng Gunung Lawu. Mereka terus bekerja, berkebun, dan berdagang, sembari berharap cuaca kembali bersahabat dan rezeki berpihak pada mereka.
Editor : Ichaa Melinda Putri