TRENGGALEK NJENGGELEK-Desa Parikesit Dieng menjadi salah satu permata tersembunyi di kawasan Pegunungan Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Desa ini berdiri di tepian jurang dengan ketinggian ekstrem, menyuguhkan panorama lautan awan yang bergerak dinamis dari bawah lembah hingga punggung gunung, membuat rumah-rumah warga tampak seolah melayang di udara.
Keindahan Desa Parikesit Dieng terekam dalam perjalanan Habib dan Zahwa melalui kanal YouTube Cerita Desa Indonesia. Perjalanan menuju desa ini terasa seperti menembus lapisan awan. Di satu titik, kabut tebal menyelimuti jalan, namun beberapa ratus meter lebih tinggi, langit justru cerah dan menampakkan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing berdiri gagah berdampingan.
Fenomena alam tersebut menjadi ciri khas kawasan dataran tinggi Dieng. Kabut bisa datang dan pergi dengan cepat, menciptakan pemandangan dramatis yang berubah setiap menit. “Rasanya seperti naik pesawat, menembus awan lalu tiba-tiba berada di atasnya,” ujar pemandu dalam perjalanan menuju Desa Parikesit Dieng.
Desa di Atas Awan Lereng Pegunungan Dieng
Desa Parikesit berada di jalur Wonosobo–Dieng Plateau. Lokasinya lebih tinggi dibanding desa-desa di sekitarnya, membuat wilayah ini kerap disebut sebagai “desa di atas awan”. Dari tepi permukiman, jurang curam langsung menganga, memperlihatkan hamparan lembah yang tertutup kabut putih tebal pada pagi hari.
Saat cuaca cerah, warga dan pengunjung dapat menyaksikan Gunung Sindoro di satu sisi dan Gunung Sumbing di sisi lainnya. Posisi geografis inilah yang menjadikan Desa Parikesit memiliki lanskap unik sekaligus menantang.
Pertanian Terasering Ekstrem
Sebagian besar warga Desa Parikesit Dieng menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Lahan pertanian dibangun dengan sistem terasering yang sangat ekstrem, bahkan menyerupai anak tangga. Setiap undakan hanya berjarak sekitar setengah hingga satu meter, mengikuti kontur lereng gunung.
Kentang menjadi komoditas utama. Di beberapa ladang terlihat kentang yang dijemur di bawah sinar matahari, bukan untuk dijual, melainkan sebagai bibit. Bibit kentang sengaja dibiarkan terkena cahaya matahari agar siap ditanam kembali.
Selain kentang, warga juga menanam cabai, sayuran dataran tinggi, dan tanaman hortikultura lain. Aktivitas warga menuju ladang dimulai sejak pagi buta, sekitar pukul 05.30 WIB, dengan mengenakan sarung sebagai penghangat tubuh menghadapi suhu dingin pegunungan.
Kearifan Lokal Transportasi Pegunungan
Mobil pikap menjadi alat transportasi utama di Desa Parikesit. Kendaraan ini digunakan untuk mengangkut hasil pertanian, pupuk kandang, hingga mobilitas warga antar desa. Medan jalan yang sempit dan menanjak membuat pikap lebih efektif dibanding kendaraan lain.
Meski kini sudah tersedia bus kecil menuju kawasan Dieng, pikap tetap menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi warga. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kondisi geografis yang ekstrem tanpa kehilangan produktivitas.
Bahasa dan Budaya yang Unik
Secara kultural, masyarakat Desa Parikesit menggunakan dialek Jawa yang cenderung ke arah Banyumasan atau ngapak. Meski berbeda logat, kehangatan warga terasa kuat. Beberapa warga dengan ramah menyapa dan bahkan mengenali kanal YouTube yang mendokumentasikan kehidupan desa mereka.
Salah satunya adalah warga Dusun Wadas Putih, bagian dari Desa Parikesit, yang dengan bangga memperkenalkan desanya dan menyarankan titik-titik terbaik untuk menikmati panorama gunung.
Potensi Wisata Alam dan Edukasi
Dengan lanskap ekstrem, pertanian terasering, serta fenomena lautan awan, Desa Parikesit Dieng memiliki potensi besar sebagai wisata alam dan edukasi. Desa ini menawarkan pengalaman autentik kehidupan petani pegunungan sekaligus keindahan alam khas Dieng yang jarang ditemui di daerah lain.
Desa Parikesit bukan sekadar titik di peta Pegunungan Dieng, melainkan bukti bahwa setiap desa di Indonesia memiliki cerita, karakter, dan keindahan yang layak dikenal lebih luas.
Editor : Ichaa Melinda Putri