TRENGGALEK NJENGGELEK- Sebuah kampung kecil di puncak perbukitan Gresik, Jawa Timur, menyimpan kisah sejarah, spiritualitas, dan keteguhan hidup warganya. Kampung itu dikenal dengan nama Kampung Surowiti, sebuah permukiman yang kerap disebut warga sebagai kampung paling dekat dengan langit karena letaknya berada di puncak bukit dengan tebing curam di sekelilingnya.
Untuk mencapai kampung ini, pengunjung harus menempuh perjalanan menanjak yang cukup menguras tenaga. Dari area loket, perjalanan dilanjutkan dengan ojek menuju kaki tangga, lalu dilanjutkan berjalan kaki menaiki ratusan anak tangga yang berkelok dan curam. Sepanjang perjalanan, panorama alam terbuka perlahan tersingkap, memperlihatkan hamparan wilayah Gresik dari ketinggian.
Meski aksesnya tidak mudah, rasa lelah seakan terbayar saat tiba di permukiman warga. Rumah-rumah berdiri berjajar di kanan kiri jalan utama, sebagian besar sudah permanen dan tampak terawat. Suasana kampung terasa hening, sejuk, dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Aktivitas warga pun berlangsung tenang, mencerminkan kehidupan desa yang sederhana namun tertata.
Kampung Surowiti diyakini memiliki keterkaitan erat dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa. Berdasarkan cerita turun-temurun, kawasan ini disebut sebagai salah satu tempat persinggahan Sunan Kalijaga semasa hidupnya. Kepercayaan tersebut diperkuat dengan keberadaan petilasan dan kompleks makam kuno di sekitar kampung.
Salah satu warga setempat, Rustam, menyebutkan bahwa Surowiti memang dikenal sebagai kampung yang memiliki jejak sejarah panjang. “Di sini ada petilasan, tempat singgah Sunan Kalijaga. Makanya kampung ini juga sering diziarahi,” ujarnya.
Tak jauh dari permukiman warga, berdiri Masjid Raden Said, nama lain dari Sunan Kalijaga. Masjid ini menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak melalui TPQ. Pemandangan anak-anak mengaji di sore hari menjadi potret hidup keberlanjutan nilai-nilai religius yang telah berakar sejak ratusan tahun lalu.
Di sekitar kampung juga terdapat sejumlah makam tokoh penting, seperti makam Raden Bagus Mataram, kerabat Kesultanan Mataram dan santri Sunan Kalijaga, serta makam Empu Supo, yang disebut sebagai putra Temunggung Majapahit dan juga bagian dari lingkaran murid Sunan Kalijaga. Kompleks pemakaman ini dipenuhi nisan-nisan kuno yang sebagian dibungkus kain mori untuk menjaga keutuhan batu kapur dari pelapukan.
Puncak spiritual Kampung Surowiti berada di area pesarean Sunan Kalijaga. Lokasi makam terletak di tepi tebing dengan panorama jurang yang dalam dan pemandangan alam terbuka. Meski makam utama berada di ruang tertutup dan hanya bisa diakses dengan izin juru kunci, kawasan sekitarnya tetap ramai diziarahi peziarah yang datang untuk berdoa dan mengenang jasa sang wali.
Menariknya, kehidupan warga Surowiti juga mencerminkan perjuangan ekonomi yang tidak ringan. Karena akses kendaraan terbatas, material bangunan harus diangkut secara manual. Seorang warga bernama Sutin mengisahkan bahwa pembangunan rumah di kampung ini bisa memakan waktu bertahun-tahun karena kendala logistik. “Material dipikul satu per satu. Dulu bangun rumah habis sekitar Rp150 juta, tapi bertahap hampir tiga tahun,” tuturnya.
Baca Juga: Persita vs Persija BRI Super League 2026 Pekan 19: Derby Panas Jabotabek, Head to Head, Klasemen Memanas, Macan Kemayoran Mengintai PuncakMeski berada di lokasi ekstrem, Kampung Surowiti kini telah dilengkapi infrastruktur dasar, termasuk jaringan sinyal yang cukup baik berkat keberadaan menara telekomunikasi di sekitar bukit. Hal ini menjadi penopang penting bagi warga, sebagian di antaranya bekerja di luar daerah bahkan luar negeri.
Kampung Surowiti bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan ruang hidup yang memadukan sejarah, spiritualitas, dan keteguhan manusia dalam beradaptasi dengan alam. Dari puncak bukit yang sunyi ini, jejak Sunan Kalijaga dan denyut kehidupan masyarakat terus berdampingan, seolah menjadi pengingat bahwa kearifan masa lalu masih bernafas di antara kabut dan tebing tinggi Gresik.
Editor : Ichaa Melinda Putri