TRENGGALEK NJENGGELEK- Legenda Aji Saka merupakan salah satu cerita paling monumental dalam khazanah budaya Jawa. Kisah ini tidak hanya sarat unsur kepahlawanan dan kesaktian, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang kesetiaan, tanggung jawab, dan pentingnya musyawarah dalam kepemimpinan.
Aji Saka digambarkan sebagai kesatria muda yang tampan, sakti, dan berbudi luhur. Dalam pengembaraannya menegakkan keadilan, ia selalu didampingi dua punggawa setia, Dora dan Sembada. Hubungan mereka bukan sekadar tuan dan abdi, melainkan persaudaraan yang terikat sumpah kesetiaan.
Suatu ketika, Sembada merasakan panggilan batin untuk menyepi di Pulau Majeti. Aji Saka mengizinkan kepergian itu, namun menitipkan keris pusaka dengan pesan tegas: keris tersebut tidak boleh diberikan kepada siapa pun kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya.
Kedatangan Aji Saka ke Medang Kamulan
Dalam perjalanannya bersama Dora, Aji Saka tiba di sebuah desa yang menderita di bawah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar, raja Medang Kamulan yang dikenal kejam dan gemar memangsa manusia. Rakyat hidup dalam ketakutan, tanah tandus, dan upeti mencekik.
Aji Saka memilih menetap sementara. Ia membantu rakyat mengolah tanah, memperbaiki irigasi, dan membangkitkan harapan. Perlahan, desa kembali makmur. Namun kemakmuran itu justru memicu amarah Prabu Dewata Cengkar yang merasa kekuasaannya terancam.
Sang raja menantang Aji Saka beradu kesaktian. Menyadari kekuatan lawannya, Aji Saka memerintahkan Dora untuk mengambil keris pusaka yang dititipkan kepada Sembada.
Tragedi Kesetiaan Dora dan Sembada
Di Pulau Majeti, Dora meminta keris pusaka kepada Sembada. Namun Sembada menolak, berpegang teguh pada titah awal Aji Saka. Dora setia pada perintah terbaru demi menyelamatkan tuannya, sementara Sembada setia pada sumpah lama menjaga amanat.
Dua kesatria yang sama-sama benar itu akhirnya bertarung. Kesaktian mereka seimbang. Pertarungan berakhir tragis ketika Dora dan Sembada saling menikam dan gugur bersamaan, dengan keris pusaka menjadi saksi bisu.
Ketika Aji Saka menyusul ke Pulau Majeti, ia mendapati dua sahabatnya telah tewas. Kesedihan dan penyesalan mendalam menyelimuti hatinya. Ia menyadari kesalahan fatalnya: memberikan dua perintah bertentangan tanpa mencabut perintah sebelumnya.
Lahirnya Aksara Jawa Hanacaraka
Untuk mengenang pengorbanan Dora dan Sembada, Aji Saka mengukir rangkaian aksara di atas batu. Aksara itu kelak dikenal sebagai aksara Jawa hanacaraka, yang mengisahkan tragedi dua utusan setia yang gugur karena memegang amanat.
Hanacaraka melambangkan adanya dua utusan. Datasawala menggambarkan pertentangan karena menjalankan perintah. Padhajayanya menandakan kekuatan yang seimbang. Magabathanga menandai keduanya gugur bersama.
Kejatuhan Dewata Cengkar dan Kisah Naga Linglung
Dengan keris pusaka, Aji Saka akhirnya mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang terlempar ke Laut Selatan dan berubah menjadi buaya putih. Medang Kamulan pun terbebas dari tirani.
Kisah berlanjut dengan kemunculan Naga Linglung, makhluk yang berasal dari telur ayam titipan Aji Saka. Setelah menjalankan tugas membunuh buaya putih, Naga Linglung diperintahkan bertapa agar menjadi manusia. Namun karena kelalaian yang menewaskan sembilan anak gembala, ia gagal menyempurnakan tapanya.
Sebagai hukuman, Naga Linglung dikutuk tinggal di perut bumi. Konon, gerakan tubuhnya melahirkan letupan lumpur panas yang kini dikenal sebagai Bleduk Kuwu di Grobogan, Jawa Tengah.
Legenda Aji Saka bukan sekadar dongeng. Ia adalah cermin nilai luhur Jawa tentang kepemimpinan, keadilan, dan akibat dari perintah tanpa musyawarah. Kisah ini terus hidup sebagai pengingat bahwa kesetiaan tanpa kebijaksanaan dapat berujung tragedi.
Editor : Ichaa Melinda Putri