TRENGGALEK NJENGGELEK-Ramalan 2026 Indonesia kembali menjadi sorotan setelah seorang paranormal membeberkan prediksi terkait potensi bencana alam, kebakaran besar, hingga ancaman wabah penyakit yang disebut menyerang saraf kepala. Bulan Agustus 2026 disebut sebagai periode yang perlu diwaspadai.
Dalam penuturannya, ia menyebut adanya visual lahar api, gunung meletus, serta arus air deras yang menyeret korban. Ia juga menyinggung satu daerah dengan inisial “P” yang disebut berpotensi mengalami ujian besar pada Agustus ke atas.
Ramalan 2026 Indonesia ini juga menyoroti sejumlah wilayah seperti Pandeglang dan Serang di Banten, Sulawesi, hingga Lampung. Ia mengingatkan, bila tidak ada perubahan dan perbaikan dalam menjaga alam, bencana bisa datang silih berganti.
Banten dan Sulawesi Masuk Sorotan
Wilayah Pandeglang dan Serang di Banten disebut sebagai daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, Sulawesi juga masuk dalam gambaran visual yang ia lihat.
Ia menyebut potensi gempa akibat aktivitas gunung bawah laut yang bisa memicu kenaikan air laut. Jika skenario terburuk terjadi, dampaknya disebut lebih dahsyat dibandingkan bencana tahun-tahun sebelumnya.
“Air naik, menuju daratan, banyak keluarga terpisah, banyak harta hancur,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap berharap peristiwa tersebut tidak benar-benar terjadi dan masyarakat dijauhkan dari musibah.
Selain gempa dan banjir, visual yang muncul juga memperlihatkan lahar api, kapal terbalik, hingga laki-laki hanyut dan perempuan menggendong anak sambil menangis. Ia menegaskan bahwa gambaran tersebut merupakan bentuk peringatan agar masyarakat lebih waspada.
Kebakaran Besar dan Dugaan Sabotase
Ramalan 2026 Indonesia juga menyinggung kemungkinan kebakaran besar yang terjadi sekitar Agustus ke atas. Kebakaran itu disebut sangat luas dan memakan banyak korban.
Menurutnya, ada unsur sabotase dalam kejadian tersebut. Meski target utamanya hanya satu fokus, dampaknya meluas dan menyebabkan banyak korban, termasuk perempuan.
“Manusia bergelut dengan asap tebal dan sulit menyelamatkan diri,” katanya. Namun ia menambahkan bahwa kejadian itu berada di luar unsur pemerintahan.
Ia juga sempat menyinggung potensi kecelakaan udara yang berkaitan dengan pesawat dari sisi pemerintahan, bukan komersial. Namun dalam pernyataan lanjutannya, ia mengaku belum melihat tanda pasti soal pesawat jatuh pada 2026.
Cuaca Ekstrem dan Gangguan Transportasi
Cuaca ekstrem disebut masih mendominasi hingga akhir tahun 2026. Angin kencang dan gelombang tinggi diprediksi mengganggu penerbangan serta penyeberangan laut.
Ia mengimbau masyarakat tidak memaksakan perjalanan saat kondisi cuaca buruk. Menurutnya, air dan angin memiliki jalannya sendiri, sehingga manusia harus menghormati keseimbangan alam.
“Kalau air ditutup jalannya, dia akan mencari jalannya sendiri. Jangan salahkan kalau terjadi banjir,” tegasnya.
Wabah Penyakit Serang Saraf Kepala
Selain bencana alam, ramalan 2026 Indonesia juga memuat peringatan tentang wabah penyakit misterius. Penyakit ini disebut menyerang saraf kepala dengan gejala mirip flu atau demam, namun rasa sakitnya jauh lebih hebat.
Ia menggambarkan adanya unsur radiasi dan menyebut penyakit tersebut tidak terdeteksi seperti COVID-19. Bahkan, disebut tidak ada vaksin atau vitamin khusus yang dapat mencegahnya.
Meski terdengar mengkhawatirkan, ia kembali mengingatkan bahwa semua yang disampaikan adalah prediksi. Ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan doa serta memperkuat iman sesuai keyakinan masing-masing.
Seruan Jaga Alam dan Hindari Sikap Takabur
Dalam pesannya, ia berulang kali menekankan bahwa bumi sedang “sakit” akibat eksploitasi berlebihan dan minimnya perawatan lingkungan. Ia menyerukan pentingnya menjaga hutan, sungai, serta memperhatikan sistem pembuangan air dalam pembangunan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak bersikap takabur terhadap peringatan bencana, baik dari paranormal maupun lembaga resmi seperti BMKG. Kewaspadaan dan antisipasi disebut sebagai langkah bijak tanpa harus panik atau pindah rumah.
Meski banyak prediksi yang mengkhawatirkan, ia optimistis 2026 tidak akan separah 2025. Bencana disebut tetap ada, namun tidak dalam skala besar yang merata di seluruh wilayah Indonesia.
Ramalan 2026 Indonesia ini pun menuai beragam tanggapan warganet. Sebagian menganggapnya sebagai pengingat untuk lebih peduli pada alam, sementara lainnya menilai sebagai spekulasi yang belum tentu terjadi. Terlepas dari itu, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana tetap menjadi kunci menghadapi berbagai kemungkinan di tahun mendatang.
Editor : Ichaa Melinda Putri