Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Naga Dina dan Patine Dina: Rahasia Kekuatan Hari dalam Hitungan Weton Jawa, Jangan Sampai Salah Arah

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Sabtu, 14 Februari 2026 | 09:13 WIB
Naga dina dan patine dina adalah hitungan weton Jawa untuk menentukan arah kekuatan dan arah pantangan hari. Simak cara hitung lengkapnya. Pinterest
Naga dina dan patine dina adalah hitungan weton Jawa untuk menentukan arah kekuatan dan arah pantangan hari. Simak cara hitung lengkapnya. Pinterest

Trenggalek Jenggelek – Dalam tradisi Jawa, perhitungan weton tidak hanya digunakan untuk mengetahui karakter seseorang. Lebih jauh, masyarakat Jawa juga mengenal konsep naga dina dan patine dina, yakni hitungan penting untuk menentukan arah kekuatan dan arah pantangan pada suatu hari.

Pemahaman tentang naga dina dan patine dina dipercaya sangat menentukan keberhasilan berbagai hajat besar, mulai dari pernikahan, pindahan rumah, hingga urusan mencari rezeki. Salah langkah arah, menurut kepercayaan Jawa, bisa membuat usaha seret atau hajat tidak berjalan lancar.

Naga dina sendiri dimaknai sebagai “kekuatan hari”. Dalam istilah Jawa disebut juga jayane dina atau lungguhe dina, yakni arah yang menjadi pusat energi terbaik pada hari tersebut. Sementara patine dina diartikan sebagai “matinya hari” atau arah kuburan hari, yang sebaiknya dihindari saat melakukan aktivitas penting.

Apa Itu Naga Dina?

Secara sederhana, naga dina adalah arah mata angin yang menjadi pusat kekuatan sebuah hari berdasarkan weton. Arah inilah yang dianggap paling baik untuk melangkah, memulai usaha, berdagang, atau melakukan kegiatan penting.

Kepercayaan Jawa menyebut, bila seseorang bergerak menuju arah naga dina, maka langkahnya akan lebih mudah, rezekinya lancar, dan usahanya cenderung membawa hasil. Sebaliknya, melawan arah ini dipercaya membuat usaha berat dan sering menemui hambatan.

Karena itu, memahami naga dina menjadi bekal penting bagi masyarakat yang masih memegang hitungan weton dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Menghitung Naga Dina

Untuk menghitung naga dina dan patine dina, langkah awal yang harus diketahui adalah neptu hari dan neptu pasaran.

Neptu hari:

Neptu pasaran:

Contoh perhitungan:
Jika hari Sabtu Legi, maka neptunya adalah 9 (Sabtu) + 5 (Legi) = 14.

Angka 14 ini kemudian dihitung dari arah timur (wetan), karena timur dianggap sebagai kawitan atau awal. Hitungan dilakukan berputar ke selatan (kidul), barat (kulon), dan utara (lor).

Dengan hitungan berulang hingga angka 14, hasilnya jatuh di arah selatan. Artinya, naga dina Sabtu Legi berada di selatan. Arah inilah yang dianggap paling kuat dan membawa keberuntungan.

Makna Patine Dina dan Bahayanya

Selain naga dina, masyarakat Jawa juga wajib memahami patine dina. Patine dina dimaknai sebagai arah kematian hari atau kuburannya hari. Arah ini pantang digunakan untuk hajat besar.

Patine dina sangat dihindari untuk kegiatan seperti:

Melangkah ke arah patine dina dipercaya sama dengan “menuju kuburan”, yang maknanya adalah usaha buntu, rezeki mati, atau hasil nihil.

Contoh Menghitung Patine Dina

Masih dengan contoh Sabtu Legi. Neptunya adalah 14.
Langkah pertama, hitung hari Sabtu sebanyak 14 kali hingga kembali ke Sabtu.
Langkah kedua, hitung pasarannya Legi sebanyak 14 kali hingga jatuh di Kliwon.

Hasilnya, patine dina Sabtu Legi jatuh pada Sabtu Kliwon.
Neptu Sabtu Kliwon adalah 9 + 8 = 17.

Angka 17 ini kembali dihitung dari arah timur. Dengan hitungan berputar, angka 17 jatuh di arah timur. Artinya, patine dina Sabtu Legi berada di timur.

Jika pada hari Sabtu Legi seseorang berdagang atau bepergian ke arah timur, dipercaya hasilnya nihil atau tidak membawa keuntungan.

Tujuan Hitungan Naga Dina dan Patine Dina

Perhitungan naga dina dan patine dina bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai patokan agar seseorang lebih berhati-hati dalam melangkah. Dengan mengetahui arah kekuatan dan arah pantangan, seseorang diharapkan bisa memilih jalan yang selaras dengan energi hari tersebut.

Dalam falsafah Jawa, hidup yang selaras dengan waktu dan arah diyakini akan lebih tentrem, lancar, dan minim benturan. Itulah sebabnya, hitungan naga dina dan patine dina masih dijaga dan diwariskan hingga kini.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#naga dina #hitungan weton Jawa #patine dina #neptu hari pasaran #Primbon Jawa