Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Nukunonu, Desa Paling Terisolasi di Samudra Pasifik yang Terancam Tenggelam Akibat Kenaikan Permukaan Laut

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:35 WIB

Nukunonu, Desa Paling Terisolasi di Samudra Pasifik yang Terancam Tenggelam Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Nukunonu, Desa Paling Terisolasi di Samudra Pasifik yang Terancam Tenggelam Akibat Kenaikan Permukaan Laut

TRENGGALEK NJENGGELEK-Nukunonu dikenal sebagai salah satu desa paling terisolasi di dunia yang berada di tengah Samudra Pasifik Selatan. Keindahan pasir putih, birunya laut, serta hijaunya pepohonan kelapa menjadikan wilayah kecil ini tampak seperti surga tropis. Namun di balik pesonanya, Nukunonu menghadapi ancaman serius: kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim global.

Nukunonu merupakan salah satu atol yang termasuk dalam wilayah Tokelau, sebuah teritori dependensi milik New Zealand. Luas daratannya hanya sekitar 4,7 kilometer persegi, bahkan lebih kecil dibandingkan kawasan Ancol di Jakarta. Konsentrasi penduduk hanya berada di satu titik permukiman, sementara bagian lain pulau berupa hutan lebat, kebun kelapa, dan hamparan pasir tanpa penghuni.

Sebagai atol atau pulau cincin, sebagian besar daratan Nukunonu hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Kondisi ini membuatnya sangat rentan terhadap dampak pemanasan global, terutama peningkatan tinggi air laut dan gelombang pasang ekstrem yang semakin sering terjadi.

Terisolasi Tanpa Bandara

Akses menuju Nukunonu tidaklah mudah. Pulau kecil ini tidak memiliki bandara. Satu-satunya cara mencapai daratan adalah menggunakan kapal yang menyusuri luasnya Samudra Pasifik. Isolasi geografis ini membuat arus wisatawan sangat minim dan menjadikan kehidupan masyarakatnya berjalan dalam ritme yang sederhana.

Secara historis, Nukunonu pernah berada di bawah kekuasaan Samoa Barat sebelum akhirnya yurisdiksinya dialihkan kepada New Zealand pada 1925. Pengelolaan resmi di bawah otoritas Selandia Baru kemudian diatur melalui undang-undang pada 1948.

Saat ini, Nukunonu dihuni sekitar 531 jiwa. Mayoritas penduduk merupakan orang Polinesia yang secara budaya dan bahasa memiliki keterkaitan dengan Samoa. Mereka hidup dalam komunitas yang erat dengan kepemimpinan lokal bernama Tulega, yakni dewan tetua yang terdiri dari kepala keluarga dan dua anggota terpilih.

Bertahan dari Kelapa dan Laut

Kehidupan ekonomi Nukunonu bertumpu pada hasil laut dan perkebunan kelapa. Ikan dan krustasea menjadi sumber konsumsi utama masyarakat sehari-hari. Sementara itu, kelapa merupakan komoditas komersial terpenting yang diolah menjadi kopra—daging kelapa kering yang menjadi bahan baku minyak kelapa.

Sebagian kebutuhan pokok seperti makanan olahan, bahan bangunan, hingga bahan bakar masih diimpor dari New Zealand. Ketergantungan ini menjadi salah satu tantangan ekonomi utama akibat keterbatasan sumber daya lokal.

Air tawar juga menjadi persoalan tersendiri. Warga mengandalkan penampungan air hujan melalui tangki yang dipasang di setiap rumah. Curah hujan cukup tinggi, terutama pada musim angin pasat antara April hingga November, sehingga sistem ini masih mampu menopang kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Villa Puncak Watuagung Trenggalek, Penginapan View Laut di Kawasan Pantai Mutiara Watulimo

Fasilitas Dasar dan Energi Surya

Meski terpencil, Nukunonu memiliki fasilitas dasar yang cukup memadai. Terdapat rumah sakit kecil, sekolah, serta layanan internet. Pulau ini bahkan telah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi utama, sebuah proyek yang didanai oleh New Zealand.

Pendidikan di Nukunonu bersifat gratis dan wajib bagi anak-anak usia 5 hingga 14 tahun. Namun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, para pelajar harus merantau ke New Zealand. Beasiswa disediakan bagi mereka yang ingin melanjutkan studi.

Selain pulau utama, terdapat beberapa pulau kecil di sekitarnya yang memiliki fungsi khusus. Dua pulau dialokasikan sebagai tempat pemakaman, satu pulau menjadi lokasi peternakan babi, sementara pulau lainnya digunakan sebagai kebun sayur atau lokasi piknik warga.

Ancaman Nyata Perubahan Iklim

Meski terlihat damai dan eksotis, ancaman terbesar Nukunonu adalah perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut berpotensi menenggelamkan daratan yang hanya beberapa meter di atas permukaan air. Gelombang pasang dan badai tropis juga semakin mengikis garis pantai.

Isolasi geografis membuat akses terhadap layanan kesehatan lanjutan, pendidikan tinggi, dan peluang ekonomi menjadi terbatas. Jika kondisi iklim global terus memburuk, bukan tidak mungkin desa kecil ini suatu saat akan hilang ditelan lautan.

Nukunonu menjadi gambaran nyata bagaimana komunitas kecil di tengah samudra harus berjuang menghadapi dampak krisis iklim global. Di tengah keindahan tropisnya, tersimpan kekhawatiran akan masa depan yang belum pasti.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Nukunonu #Kenaikan Permukaan Laut #New Zealand #Tokelau #perubahan iklim