Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Morowali dan Suku Bajo: Di Balik Industri Besar, Angka Stunting Tinggi Disorot Lewat Aksi Masak Sapi Lada Hitam di Desa Bungintende

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:40 WIB
Morowali dan Suku Bajo: Di Balik Industri Besar, Angka Stunting Tinggi Disorot Lewat Aksi Masak Sapi Lada Hitam di Desa Bungintende
Morowali dan Suku Bajo: Di Balik Industri Besar, Angka Stunting Tinggi Disorot Lewat Aksi Masak Sapi Lada Hitam di Desa Bungintende

TRENGGALEK NJENGGELEK-Kabupaten Morowali di Sulawesi Tengah dikenal sebagai kawasan industri dengan upah minimum relatif tinggi. Namun di balik geliat investasi dan pertumbuhan ekonomi, angka stunting di wilayah kepulauan justru masih menjadi persoalan serius. Kondisi ini terlihat nyata di Desa Bungintende, pemukiman mayoritas Suku Bajo yang berada di gugusan pulau terpencil Morowali.

Isu stunting di Morowali menjadi perhatian dalam sebuah kegiatan sosial yang melibatkan relawan Bakti BUMN dan Bank Mandiri. Mereka hadir langsung ke Desa Bungintende untuk memberikan edukasi kesehatan dan gizi sekaligus menggelar aksi masak besar bersama warga.

Desa Bungintende hanya bisa diakses melalui perjalanan panjang. Dari Makassar, rombongan harus terbang menuju Morowali, lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam ke pelabuhan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan speedboat selama 1 hingga 2 jam menuju pulau tujuan. Akses yang sulit inilah yang menjadi tantangan utama distribusi layanan kesehatan dan edukasi gizi di kawasan tersebut.

Industri Besar, Kepulauan Masih Tertinggal

Meski Morowali dikenal sebagai pusat industri nikel, kawasan kepulauan seperti Bungintende masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses ekonomi. Mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan. Produk unggulan UMKM setempat berupa abon ikan dan ikan asin yang dipasarkan hingga Kendari dengan waktu tempuh 3 sampai 6 jam, tergantung kondisi laut.

Menurut keterangan kepala desa setempat, persoalan utama warga adalah akses dan keterbatasan fasilitas. Listrik sebelumnya hanya menyala hingga pukul 21.00 menggunakan genset. Kini, bantuan panel surya dari program Mandiri Sahabat Desa membantu menghadirkan listrik mandiri yang lebih stabil.

Edukasi dan Aksi Nyata Tekan Stunting

Program sosial yang diusung Bank Mandiri bersama Kementerian BUMN tak hanya fokus pada bantuan fasilitas, tetapi juga edukasi pencegahan stunting. Relawan mengadakan sosialisasi kepada para ibu mengenai pentingnya asupan gizi dan makanan tambahan untuk anak.

Sebagai simbol kampanye gizi, digelar aksi memasak 100 kilogram daging sapi lada hitam untuk dibagikan kepada warga. Menu tersebut dipilih sebagai sumber protein hewani guna meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konsumsi protein dalam mencegah stunting.

Kegiatan ini turut dihadiri Asisten Deputi Bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Kementerian BUMN, yang menegaskan komitmen pemerataan pembangunan hingga wilayah terluar Indonesia. Harapannya, intervensi jangka pendek seperti pemberian makanan tambahan dapat berdampak pada penurunan angka stunting di Morowali, khususnya di desa terpencil.

Kehidupan Suku Bajo di Pulau Terluar

Morowali memiliki banyak gugusan pulau kecil yang dihuni komunitas Suku Bajo. Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut. Kehidupan mereka sederhana, penuh kebersamaan, namun masih minim akses terhadap fasilitas modern.

Di Desa Bungintende, warga menyambut hangat kedatangan relawan. Kegiatan diisi dengan bernyanyi, menari, hingga perayaan kebersamaan. Antusiasme warga terlihat saat pembagian makanan, bahkan sebagian warga menambah porsi hingga dua kali.

Selain edukasi gizi, relawan juga membantu kegiatan lingkungan seperti bersih pantai. Sampah yang terdampar di pesisir bukan sepenuhnya berasal dari pulau tersebut, melainkan kiriman arus laut dari wilayah lain.

Tantangan Akses dan Harapan Pemerataan

Akses menjadi isu krusial. Untuk mencapai desa, terdapat dua jalur utama: perjalanan darat menuju dermaga selama sekitar empat jam, lalu dilanjutkan penyeberangan sekitar satu setengah jam; atau kombinasi penerbangan dan perjalanan laut yang tetap memakan waktu panjang.

Kondisi ini memengaruhi distribusi layanan kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi. Anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi harus keluar daerah. Sementara distribusi pangan bergizi dan layanan medis juga bergantung pada kondisi cuaca laut.

Meski demikian, kehadiran program Mandiri Sahabat Desa membawa harapan. Selain panel surya, bantuan juga mencakup pelatihan UMKM, akses kesehatan, serta perbaikan fasilitas umum.

Kegiatan di Desa Bungintende menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap industri Morowali, masih ada saudara-saudara di pulau terpencil yang membutuhkan perhatian lebih serius. Upaya kolaboratif antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat diharapkan mampu menekan angka stunting di Morowali secara berkelanjutan.

Di tengah hujan yang sempat turun saat kegiatan memasak berlangsung, semangat warga tetap tinggi. Kebersamaan hari itu menjadi simbol bahwa pemerataan pembangunan bukan sekadar wacana, melainkan harus hadir nyata hingga ke pelosok negeri.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Desa Bungintende #morowali #Suku Bajo #Bakti BUMN #Stunting Morowali