TRENGGALEK NJENGGELEK-Kisah pilu datang dari pedalaman Kabupaten Majene dan Sidrap, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Di tengah melimpahnya hasil bumi seperti minyak nilam dan durian, warga Desa Panggalo dan Tanah Toro justru masih hidup dalam keterbatasan. Akses jalan rusak parah membuat harga minyak nilam anjlok dan durian dibeli murah oleh pengepul.
Perjalanan menuju Desa Panggalo, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, menjadi gambaran nyata sulitnya akses infrastruktur. Dari Desa Kabiraan, kendaraan roda empat tak bisa melintas. Jalan tanah berlubang dan licin akibat hujan memaksa warga mengandalkan ojek motor. Medan berat dan rawan longsor membuat perjalanan sejauh 15 kilometer bisa ditempuh hingga dua jam.
Padahal, jalan itu menjadi satu-satunya akses warga menjual hasil bumi, termasuk minyak nilam yang selama ini menjadi andalan ekonomi desa.
Desa Tertinggal Penghasil Minyak Nilam Dunia
Desa Panggalo dihuni sekitar 1.000 jiwa dengan pendapatan rata-rata warga hanya sekitar Rp300 ribu per bulan. Berdasarkan indeks desa membangun, statusnya masih desa tertinggal.
Komoditas utama warga adalah nilam, tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan dalam industri parfum, kosmetik, hingga dupa. Indonesia sendiri memasok sekitar 70–90 persen kebutuhan minyak nilam dunia.
Namun ironi terjadi. Di tingkat petani, harga minyak nilam justru merosot. Saat ini pengepul hanya membeli sekitar Rp380 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga sempat menyentuh Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per kilogram.
Satu kali penyulingan membutuhkan sekitar 340 kilogram nilam kering dan menghasilkan sekitar 4 kilogram minyak. Prosesnya memakan waktu hingga sembilan jam. Sayangnya, Desa Panggalo hanya memiliki satu ketel penyulingan, sementara lahan nilam cukup luas.
Saat musim hujan, tanaman nilam rentan terserang hama. Harga obat mahal membuat petani tak mampu melakukan perawatan maksimal. Gagal panen pun menjadi risiko yang kerap dihadapi.
“Harapan kami harga minyak nilam bisa naik. Pemerintah bisa melihat kondisi kami di pegunungan ini,” ujar salah satu petani.
Buruh Petik Dibayar Rp7.000 Sehari
Tak hanya petani, buruh petik nilam juga menghadapi nasib serupa. Upah harian berkisar Rp7.000 hingga Rp30.000, tergantung durasi kerja. Dalam sebulan, penghasilan rata-rata hanya sekitar Rp150 ribu.
Sebagian warga bahkan terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok. Dengan akses jalan yang sulit, roda ekonomi nyaris tak bergerak.
Tanah Toro: Rotan dan Durian Terjepit Infrastruktur
Kisah serupa juga terjadi di Desa Tanah Toro, wilayah pegunungan yang dikelilingi hutan lindung. Warga mengandalkan hasil rotan dan durian untuk bertahan hidup.
Untuk mengambil rotan, warga harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer melewati tebing curam. Rotan yang didapat diolah menjadi keranjang tradisional bernama poro. Satu poro dikerjakan selama dua hari, tetapi hanya dihargai sekitar Rp50 ribu oleh pengepul. Padahal di kota, harga jualnya bisa mencapai Rp150 ribu.
Durian pun bernasib sama. Saat panen, harga di desa hanya Rp2.000 hingga Rp5.000 per buah. Di tingkat pengepul kecamatan, harga dipatok sekitar Rp10.000. Ongkos ojek untuk mengangkut durian bahkan bisa mencapai Rp1.000 per buah, atau minimal Rp100 ribu sekali jalan.
Akses menuju ibu kota kecamatan harus ditempuh sejauh 17 kilometer melalui jalur curam dan licin. Risiko kecelakaan menjadi ancaman sehari-hari.
Dampok Durian, Cara Warga Bertahan
Ketika harga durian anjlok dan banyak yang tak laku, warga berinisiatif mengolahnya menjadi dampok durian. Daging buah dimasak bersama gula merah tanpa tambahan air hingga mengental kecokelatan.
Produk olahan ini bisa bertahan hingga satu tahun jika dikeringkan atau disimpan dengan baik. Dampok durian dijual sekitar Rp3.500 per bungkus, menjadi alternatif agar buah tak terbuang percuma.
Namun upaya tersebut belum mampu mendongkrak kesejahteraan secara signifikan.
Harapan pada Infrastruktur dan Stabilitas Harga
Baik warga Desa Panggalo maupun Tanah Toro memiliki harapan yang sama: perbaikan infrastruktur jalan dan campur tangan pemerintah dalam menstabilkan harga komoditas.
Tanpa akses yang layak, hasil bumi bernilai tinggi seperti minyak nilam dan durian tetap tak mampu mengangkat taraf hidup masyarakat. Ironi di tanah yang kaya sumber daya ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah maupun pusat.
Selama puluhan tahun, desa-desa ini seolah terlupa. Warga hanya bisa bertahan dan berharap suatu hari akses terbuka, harga membaik, dan kesejahteraan benar-benar bisa mereka rasakan.
Editor : Ichaa Melinda Putri