Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Terisolasi Jalur Sungai dan Hutan, Desa Likuwalanapo Kolaka Timur hingga Alue Kejurun Aceh Selatan Bertahan dari Nilam, Siput, dan Coklat

Ichaa Melinda Putri • Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:00 WIB
Terisolasi Jalur Sungai dan Hutan, Desa Likuwalanapo Kolaka Timur hingga Alue Kejurun Aceh Selatan Bertahan dari Nilam, Siput, dan Coklat
Terisolasi Jalur Sungai dan Hutan, Desa Likuwalanapo Kolaka Timur hingga Alue Kejurun Aceh Selatan Bertahan dari Nilam, Siput, dan Coklat

TRENGGALEK NJENGGELEK-Potret keterisolasian kembali terlihat di pelosok Indonesia. Di Desa Likuwalanapo, Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, hingga Desa Alue Kejurun, Aceh Selatan, akses infrastruktur masih menjadi persoalan utama. Terisolasi jalur sungai dan hutan, warga bertahan hidup dari nilam, siput, coklat, hingga ikan sungai.

Perjalanan menuju Desa Likuwalanapo bukan perkara mudah. Dari ibu kota kecamatan, tim harus menyewa motor seharga Rp200 ribu per unit untuk menempuh jarak sekitar 20 kilometer. Medan berlumpur, delapan kali penyeberangan sungai, hingga jembatan gantung lapuk menjadi tantangan awal.

Memasuki jalur hutan, jalan setapak yang hanya muat satu motor diapit jurang ratusan meter dan tebing curam. Beberapa kali penumpang harus turun demi keselamatan. Kecelakaan dan motor mogok disebut sudah biasa terjadi di jalur ini.

Setelah hampir tiga jam perjalanan, barulah tiba di Desa Likuwalanapo yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Luas wilayahnya sekitar 17 kilometer persegi, namun akses sulit membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi.

Bertahan dari Siput Danau

Di desa ini, aktivitas mencari makan kerap dilakukan langsung dari alam. Para ibu menyusuri danau untuk mencari siput yang hidup di lumpur. Dalam sehari, satu orang bisa memperoleh sekitar dua kilogram.

Di kota, siput bisa dihargai hingga Rp10 ribu per kilogram. Namun karena jarak jauh dan ongkos transportasi mahal, warga memilih mengonsumsi sendiri hasil tangkapan mereka.

Mencari siput bukan tanpa risiko. Air danau dingin, berlumpur, dan dipenuhi kayu tajam. Kedalaman di beberapa titik bahkan mencapai dua meter. Namun bagi warga, ini cara paling realistis memenuhi kebutuhan pangan.

Sejak 2015, warga Likuwalanapo beralih menanam nilam. Tanaman ini dinilai paling cocok dengan kondisi geografis desa. Panennya cukup dengan memotong batang setinggi 30 sentimeter, lalu dijemur sebelum disuling.

Dalam sekali panen, warga bisa mendapatkan hingga satu ton daun nilam. Proses penyulingan memakan waktu sekitar 12 jam hingga suhu ketel mencapai 100 derajat Celsius. Untuk tetesan minyak pertama saja, perlu menunggu sekitar dua setengah jam.

Meski harga minyak nilam cukup tinggi di pasaran, proses panjang dan ketergantungan pada cuaca menjadi tantangan. Saat hujan turun, kualitas nilam menurun dan proses pengeringan terhenti.

Minimnya fasilitas pendidikan juga menjadi persoalan. Di desa ini tidak tersedia SMA. Sejumlah pemuda memilih berhenti sekolah dan membantu orang tua menyuling nilam.

Desa Sungai di Aceh Selatan

Potret serupa terlihat di Desa Alue Kejurun, Kecamatan Manggamat, Kabupaten Aceh Selatan. Dari 13 desa di kecamatan tersebut, tiga hanya bisa diakses melalui jalur sungai menggunakan longboat.

Perjalanan sejauh 17 kilometer menyusuri Sungai Kluet memakan waktu dua hingga tiga jam. Jika arus deras atau debit air dangkal, penumpang harus turun agar perahu tidak karam.

Desa Alue Kejurun dihuni lebih dari 70 kepala keluarga. Meski listrik sudah masuk setahun terakhir, sinyal telepon belum tersedia.

Mayoritas warga menggantungkan hidup dari berkebun coklat dan kopi. Buah coklat dipanen sepanjang tahun, lalu dijemur sekitar satu minggu sebelum dijual. Ongkos perahu Rp50 ribu per penumpang dan Rp30 ribu per karung hasil tani kerap menggerus keuntungan petani.

Selain bertani, warga juga mencari ikan di sungai. Saat musim tertentu, hasil tangkapan melimpah. Namun ketika air keruh atau arus deras, jala sering ditarik dalam kondisi kosong.

Jauh dari Sentuhan Pembangunan

Baik Desa Likuwalanapo maupun Desa Alue Kejurun menghadapi tantangan serupa: akses terbatas dan biaya distribusi tinggi. Hasil bumi yang melimpah belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan warga karena terhambat transportasi dan minim fasilitas.

Di tengah pesatnya pembangunan di perkotaan, kehidupan di desa-desa terpencil ini masih berjalan dengan cara tradisional. Warga berharap akses jalan, jembatan, dan transportasi yang lebih layak agar hasil nilam, coklat, kopi, hingga perikanan bisa memberi nilai ekonomi lebih besar.

Selama infrastruktur belum memadai, mereka akan terus bertahan dari apa yang disediakan alam—menyusuri sungai, melintasi hutan, dan meniti jembatan rapuh demi sekadar menyambung hidup.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Aceh Selatan #Kolaka Timur #nilam #Desa Likuwalanapo #Desa Alue Kejurun