TRENGGALEK NJENGGELEK-Kampung Cibuluh, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, menyimpan potret kehidupan pedesaan yang masih asri dan sederhana. Dikelilingi hamparan sawah serta perbukitan hijau, kampung ini menghadirkan suasana tenang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Perjalanan menuju Kampung Cibuluh bukan tanpa tantangan. Letaknya cukup jauh dari jalan utama, melewati jalur perkampungan dan area persawahan. Namun rasa lelah terbayar lunas ketika tiba di lokasi. Sejauh mata memandang, tampak hamparan padi dan rumah-rumah warga yang berdiri tersebar mengikuti kontur perbukitan.
Di kampung ini, rumah-rumah warga menghadap langsung ke sawah. Ada yang berada di bagian atas bukit, ada pula yang berada di bawah, membentuk kelompok kecil berisi lima hingga enam rumah dalam satu lingkungan.
Warung Seblak dan Kehangatan Warga
Di tengah perkampungan, terdapat warung sederhana yang menjual seblak. Warung ini menjadi tempat berkumpul warga, terutama saat jam makan siang dan sepulang sekolah.
Menjelang waktu zuhur, suasana warung mulai ramai. Anak-anak yang baru pulang sekolah berdatangan dengan berjalan kaki. Jarak rumah ke sekolah cukup jauh sehingga mereka terbiasa menempuhnya tanpa kendaraan.
Harga jual makanan di kampung ini relatif terjangkau. Warga menyadari daya beli masyarakat desa berbeda dengan di kota. “Kalau terlalu mahal, siapa yang mau beli,” ujar salah satu warga.
Selain berjualan seblak, sebagian warga juga memiliki usaha kecil seperti warung kelontong. Usaha ini menjadi tambahan penghasilan di sela aktivitas utama mereka sebagai petani.
Sawah Tak Serempak, Panen Bergiliran
Mayoritas warga Kampung Cibuluh menggantungkan hidup dari pertanian. Padi menjadi komoditas utama. Menariknya, pola tanam di kampung ini tidak serempak. Ada sawah yang sudah panen, ada yang baru tumbuh, dan ada pula yang baru ditanam.
Kondisi ini membuat pemandangan persawahan terlihat beragam warna—dari hijau muda hingga kuning keemasan siap panen.
Sebagian warga juga memelihara ternak seperti domba. Aroma kandang kerap tercium di sekitar rumah, menandakan aktivitas peternakan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Rumah di Puncak dan Lembah
Struktur perkampungan mengikuti kondisi geografis berbukit. Rumah-rumah di bagian atas memiliki panorama luas menghadap sawah dan lembah. Sementara di bagian bawah, rumah-rumah berdekatan dengan akses jalan setapak yang menghubungkan satu keluarga dengan keluarga lain.
Untuk berkunjung ke rumah tetangga, warga harus melewati jalan tanah dan jalur kecil di antara sawah. Meski sederhana, akses ini sudah menjadi bagian dari keseharian.
Beberapa rumah masih menggunakan bahan tradisional, termasuk bilik bambu. Proses pembuatan bilik dilakukan manual. Satu batang bambu dibelah menjadi beberapa lembar, kemudian dijemur selama kurang lebih tiga hari sebelum dirangkai menjadi dinding rumah.
Suasana Religius dan Guyub
Kehidupan sosial di Kampung Cibuluh juga kental dengan nuansa religius. Aktivitas warga menyesuaikan waktu salat. Saat zuhur tiba, kegiatan dihentikan sejenak.
Sapaan khas Sunda seperti “punten” atau “ngiring” masih sering terdengar saat warga saling berkunjung. Keakraban terasa ketika warga saling menyapa tanpa sekat.
Anak-anak bermain di halaman rumah atau berkumpul di warung. Kebersamaan menjadi ciri khas yang masih terjaga.
Tantangan dan Harapan
Meski alamnya indah dan hasil pertanian mencukupi kebutuhan dasar, warga tetap menghadapi tantangan. Akses menuju kampung yang cukup jauh dari pusat kota membuat distribusi hasil tani tidak selalu mudah.
Namun semangat warga tetap terjaga. Mereka menjalani kehidupan dengan sederhana, memanfaatkan lahan sawah, beternak, serta membuka usaha kecil.
Kampung Cibuluh menjadi contoh bahwa di balik perbukitan Bandung Barat, masih ada kehidupan desa yang bertahan dengan nilai kebersamaan, kerja keras, dan kearifan lokal.
Di tengah arus modernisasi, kampung ini menunjukkan bahwa harmoni antara manusia dan alam tetap bisa dijaga. Sawah yang membentang, warung sederhana, serta rumah-rumah bambu menjadi saksi kehidupan yang berjalan apa adanya—tenang, namun penuh makna.
Editor : Ichaa Melinda Putri