TRENGGALEK NJENGGELEK-Perbatasan Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunung Kidul menyimpan sebuah perkampungan kecil yang nyaris tak terdengar gaungnya. Di lereng Gunung Kotak, tepatnya di wilayah Dusun Nganjir, Kelurahan Karangsari, Kapanewon Semin, terdapat kampung terpencil yang hanya dihuni lima kepala keluarga (KK).
Lokasinya berada di batas administratif antara Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunung Kidul. Secara geografis, kawasan ini dikelilingi perbukitan kapur yang menjadi pembatas alami dua provinsi: Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berawal dari Embung Pakel
Sebelum mencapai kampung kecil tersebut, perjalanan melewati sebuah embung bernama Embung Pakel. Embung ini berada di Kelurahan Karangsari, Semin, Gunung Kidul. Meski terlihat terbengkalai dan sepi, panorama di sekitarnya tetap memanjakan mata—perbukitan hijau membentang dengan latar Gunung Kotak yang menjulang.
Dari embung, jarak menuju kampung hanya sekitar 300 meter. Namun suasananya begitu sunyi. Tak terdengar aktivitas berarti saat siang hari. Rumah-rumah berdiri berjajar sederhana, jumlahnya tak lebih dari enam unit, dan hanya lima yang dihuni.
Meski kecil, kampung ini telah memiliki sebuah musala. Bangunan sederhana tersebut menjadi pusat ibadah sekaligus simbol kebersamaan warga. Walaupun jumlahnya hanya lima KK, salat berjamaah tetap dijalankan.
Satu Keluarga Besar
Menurut keterangan warga, seluruh penghuni kampung ini masih memiliki hubungan kekerabatan. Dahulu, wilayah tersebut hanya dihuni dua kepala keluarga dengan akses jalan berupa setapak. Seiring waktu, jumlah rumah bertambah dan akses jalan mulai membaik, meski tetap menanjak dan berliku.
Mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menanam palawija seperti kacang dan tanaman musiman lainnya. Padi relatif jarang ditanam karena kondisi lahan yang berbukit.
Namun belakangan, warga menghadapi gangguan baru: monyet liar yang turun dari puncak gunung dan merusak tanaman. Diduga karena berkurangnya sumber makanan di hutan, kawanan monyet kini kerap masuk ke kebun bahkan mendekati rumah warga.
Akses Menuju Wonogiri
Dari kampung ini sebenarnya terdapat jalur tembus menuju wilayah Kecamatan Manyaran, Wonogiri. Jika terus menanjak melewati Gunung Kotak, perjalanan bisa sampai ke kawasan Kepuhsari dan sekitarnya. Namun akses tersebut menantang dan memerlukan kehati-hatian ekstra.
Setiap “Minggu Legi”, warga dan keluarga besar yang tersebar di beberapa dusun mengadakan arisan keluarga secara bergilir. Anggotanya mencapai sekitar 20 KK, termasuk yang tinggal di Giriwoyo dan wilayah sekitar. Tradisi ini menjadi perekat hubungan kekeluargaan di tengah keterpencilan.
Potret Kehidupan Mbah Mariam
Dari kampung lima KK, perjalanan dilanjutkan sekitar 3 kilometer menuju pusat Dusun Nganjir yang lebih ramai. Di sana tinggal seorang lansia bernama Mbah Mariam, yang hidup seorang diri di rumah sederhana.
Mbah Mariam tidak memiliki anak dan kini tinggal sebatang kara. Untuk bertahan hidup, ia sesekali bekerja serabutan dan bergantung pada bantuan kerabat sekitar. Kondisi rumahnya sangat sederhana, dengan fasilitas terbatas.
Meski demikian, ia tetap ramah menyambut tamu. Dalam percakapan singkat, ia mengaku tak pernah mengenyam pendidikan formal. “Saya orang bodoh, tidak sekolah,” ucapnya merendah. Namun semangat dan ketegarannya menggambarkan daya tahan masyarakat desa yang kuat menghadapi keterbatasan.
Sunyi yang Penuh Makna
Kampung kecil di Dusun Nganjir ini menjadi potret nyata kehidupan di wilayah perbatasan. Jumlah penduduk yang sangat sedikit, akses terbatas, serta tantangan alam menjadi bagian dari keseharian mereka.
Di tengah modernisasi dan pembangunan yang masif di kota-kota besar, masih ada wilayah yang berjalan dalam ritme lambat—tenang, sunyi, dan sederhana.
Gunung Kotak berdiri kokoh sebagai saksi kehidupan lima keluarga yang memilih bertahan di tanah leluhur mereka. Di balik keterisolasian, tersimpan nilai kekeluargaan, gotong royong, dan keteguhan yang tak mudah tergantikan zaman.
Editor : Ichaa Melinda Putri