TRENGGALEK NJENGGELEK-Kampung Naga Tasikmalaya kembali menjadi sorotan publik setelah video kunjungan ke kampung adat tersebut viral di YouTube. Dalam tayangan itu, terlihat jelas bagaimana Kampung Naga Tasikmalaya tetap mempertahankan kearifan lokal di tengah derasnya arus modernisasi.
Untuk mencapai Kampung Naga Tasikmalaya, pengunjung harus menuruni dan menaiki 444 anak tangga. Perjalanan yang cukup menguras tenaga itu terbayar lunas dengan pemandangan kampung adat yang asri, tertata rapi, dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Kampung Naga Tasikmalaya terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung adat ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang konsisten menjaga tradisi leluhur, termasuk menolak penggunaan listrik di lingkungan permukiman.
Tanpa Listrik, Tetap Terang dengan Lampu Cempor
Begitu memasuki area kampung, deretan rumah panggung beratap ijuk langsung menyambut. Atap rumah terbuat dari ijuk pohon aren, sedangkan dindingnya menggunakan bilik bambu. Seluruh rumah memiliki bentuk seragam dan menghadap ke arah yang sama.
Warga setempat menjelaskan bahwa hingga kini mereka menolak pemasangan listrik. Penolakan tersebut bukan karena pemerintah tidak menyediakan fasilitas, melainkan keputusan adat warga sendiri.
“Kalau korsleting bisa kebakaran. Rumah di sini bahannya mudah terbakar,” ujar salah seorang warga dalam video tersebut.
Sebagai pengganti listrik, warga Kampung Naga Tasikmalaya menggunakan lampu cempor berbahan bakar minyak tanah untuk penerangan malam hari. Di luar rumah suasana gelap gulita, namun di dalam rumah tetap ada cahaya sederhana yang cukup untuk beraktivitas.
Tak hanya listrik, fasilitas modern seperti televisi dan internet juga tidak digunakan secara bebas. Kehidupan berjalan dengan ritme alami, mengikuti siklus alam.
Arsitektur Tradisional dan Tembok Batu Tanpa Semen
Keunikan lain Kampung Naga Tasikmalaya terlihat pada konstruksi bangunan dan penataan lingkungannya. Tembok penahan tanah dibuat dari batu kali yang disusun rapi tanpa semen. Batu-batu tersebut dipilih dan ditata secara tradisional agar tanah tidak longsor.
Sawah bertingkat di sekitar kampung semakin memperkuat kesan alami dan harmonis dengan alam. Air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari berasal langsung dari mata air pegunungan. Alirannya jernih dan terasa sangat dingin.
Di area mushola dan masjid, suasana tradisional juga begitu terasa. Tidak ada pengeras suara (toa) untuk azan karena tidak tersedia listrik. Sebagai gantinya, warga menggunakan bedug besar dan kentongan sebagai penanda waktu salat maupun panggilan berkumpul.
Bunyi bedug yang nyaring bahkan disebut bisa terdengar hingga ke jalan raya.
Gotong Royong dan Tradisi Selamatan
Kearifan lokal Kampung Naga Tasikmalaya juga tercermin dalam tradisi sosial warganya. Budaya gotong royong masih sangat kuat. Dalam video tersebut terlihat warga bersama-sama membantu proses pembuatan kue apem untuk acara selamatan.
Bahan yang digunakan pun serba alami, seperti gula aren dan daun pisang sebagai pembungkus. Proses memasak dilakukan menggunakan kayu bakar, tanpa kompor gas.
“Di sini kalau ada selamatan, tetangga pasti datang membantu,” ujar warga setempat.
Anak-anak di Kampung Naga Tasikmalaya pun tumbuh tanpa ketergantungan gawai. Mereka lebih sering bermain layangan dan beraktivitas di alam terbuka, berbeda dengan anak-anak di perkotaan yang akrab dengan gadget.
Destinasi Wisata Budaya di Jawa Barat
Sebagai kampung adat, Kampung Naga Tasikmalaya menjadi simbol perlawanan terhadap modernisasi berlebihan. Namun demikian, kampung ini tetap terbuka untuk wisatawan yang ingin belajar tentang kehidupan tradisional Sunda.
Lokasinya berada di Kecamatan Salawu dan dapat dikunjungi dengan panduan warga setempat. Meski aksesnya harus melalui ratusan anak tangga, pengalaman yang ditawarkan menjadi daya tarik tersendiri.
Kampung Naga Tasikmalaya membuktikan bahwa hidup sederhana tanpa listrik, tanpa internet, dan tanpa bangunan beton bukanlah kemunduran. Justru di situlah nilai harmoni dengan alam dan kebersamaan sosial tetap terjaga.
Di tengah dunia yang semakin digital, Kampung Naga Tasikmalaya hadir sebagai pengingat bahwa tradisi, gotong royong, dan kearifan lokal masih memiliki tempat yang kuat di tanah Sunda.
Editor : Ichaa Melinda Putri