TRENGGALEK NJENGGELEK-Jalur alternatif Dieng via Desa Gerlang–Pekasiran kini semakin diminati wisatawan. Selain menawarkan udara dingin khas pegunungan, rute ini menyuguhkan panorama alam spektakuler, termasuk pemandangan Telaga Sidringo yang dikenal sebagai telaga tertinggi di Jawa Tengah.
Perjalanan dimulai dari Desa Gerlang, Kabupaten Batang, yang berbatasan langsung dengan Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Jalur alternatif Dieng ini menjadi pilihan menarik bagi pengendara yang ingin menikmati suasana alam berbeda sebelum memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Sepanjang perjalanan, hamparan ladang sayuran mendominasi sisi kanan dan kiri jalan. Mayoritas warga Desa Gerlang menggantungkan hidup dari sektor pertanian, seperti kentang, kubis, dan daun bawang. Pickup pengangkut hasil panen serta ojek sayur kerap terlihat melintas, menambah dinamika aktivitas ekonomi di kawasan pegunungan tersebut.
Panorama Telaga Sidringo dari Ketinggian
Memasuki wilayah Banjarnegara, pengunjung akan disambut Telaga Sidringo yang berada di ketinggian sekitar 2.000–2.400 meter di atas permukaan laut. Telaga ini kerap disebut sebagai telaga tertinggi di Jawa Tengah.
Dari tepi jalan, telaga memang sebagian tertutup pepohonan. Namun, ketika menemukan celah pandang, hamparan air yang tenang berpadu dengan lanskap perbukitan menciptakan pemandangan memukau. Di area atas tersedia loket masuk dan area parkir. Bahkan, wisatawan juga bisa berkemah di sekitar kawasan telaga.
Cuaca cerah menjadi momen terbaik menikmati panorama. Gunung-gunung seperti Gunung Sindoro, Gunung Kembang, hingga Gunung Perahu tampak menjulang dari kejauhan. Uap tipis dari sejumlah kawah aktif di kawasan Dieng juga terlihat mengepul, menghadirkan aroma belerang khas pegunungan vulkanik.
Jalan Menikung dan Tantangan Medan
Kondisi jalan di jalur alternatif Dieng ini sebagian sudah dicor dan sebagian beraspal. Namun, lebar jalan relatif sempit dengan turunan serta tikungan tajam. Pengendara diimbau memastikan kondisi rem kendaraan prima, terutama saat melintasi turunan berkelok yang langsung menghadap jurang.
Meski menantang, sensasi berkendara di ketinggian dengan latar desa-desa Kecamatan Batur yang terlihat dari bawah menjadi pengalaman tersendiri. Banyak wisatawan memilih berhenti sejenak untuk berfoto dengan latar hamparan perbukitan dan lahan pertanian bertingkat.
Aktivitas petani yang bekerja di ladang juga menjadi daya tarik tersendiri. Lanskap agraris berpadu dengan udara dingin menciptakan suasana tenang sekaligus eksotis.
Kisah Kelam Dusun Tertimbun Longsor
Di balik keindahan jalur alternatif Dieng ini, tersimpan kisah sejarah kelam. Tepatnya di wilayah Desa Pekasiran, terdapat cerita tentang Dusun Lagetang yang pernah tertimbun longsor pada masa lampau, diduga terjadi pada era kolonial.
Berdasarkan cerita warga setempat, ratusan penduduk—sekitar 300 lebih jiwa—menjadi korban ketika longsor besar dari perbukitan menimbun satu dusun secara keseluruhan. Karena keterbatasan evakuasi pada masa itu, para korban akhirnya terkubur di lokasi tersebut.
Kini, di titik yang diyakini sebagai lokasi dusun lama, berdiri monumen peringatan sebagai penanda tragedi tersebut. Area di atasnya telah berubah menjadi lahan pertanian yang ditanami sayuran. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu bencana alam yang membekas dalam sejarah masyarakat setempat.
Cerita rakyat pun berkembang seiring waktu, meski sebagian memunculkan pro dan kontra karena bersinggungan dengan tradisi dan budaya lokal. Namun, keberadaan monumen menjadi pengingat bahwa keindahan alam pegunungan juga menyimpan potensi bencana.
Rute Menuju Kepakisan dan Dieng
Setelah melewati Desa Pekasiran, perjalanan berlanjut ke Desa Kepakisan yang masih berada di Kecamatan Batur. Dari titik ini, akses menuju kawasan utama Dieng semakin dekat.
Jalur alternatif Dieng via Desa Gerlang–Pekasiran tak hanya menawarkan efisiensi rute, tetapi juga pengalaman visual yang berbeda dibanding jalur utama. Kombinasi telaga, kawah, ladang sayur, serta kisah sejarah lokal menjadikan perjalanan lebih bermakna.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang, pemandangan pegunungan yang luas, serta sentuhan cerita sejarah, jalur ini layak dipertimbangkan. Namun tetap utamakan keselamatan, terutama saat melintasi medan yang menurun dan berkelok.
Keindahan dan cerita di perbatasan Batang–Banjarnegara ini menjadi bukti bahwa setiap perjalanan menuju Dieng bukan sekadar soal destinasi, melainkan juga pengalaman yang membekas di sepanjang jalan.
Editor : Ichaa Melinda Putri