TRENGGALEK NJENGGELEK-Lereng Gunung Wilis Tulungagung menyimpan cerita kehidupan yang kontras dengan hiruk pikuk situasi politik nasional. Saat berbagai daerah di Indonesia diwarnai demo dan gejolak, suasana di Desa Gondang Gunung, Kecamatan Pagerwojo, justru terasa adem dan tenang.
Desa Gondang Gunung yang berada di lereng Gunung Wilis Tulungagung ini terletak di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya dikelilingi hutan pinus dan jalan berliku yang cukup ekstrem. Meski aksesnya menantang, desa ini dikenal sebagai sentra durian dan manggis di Kabupaten Tulungagung.
Dengan jumlah penduduk sekitar 2.000 jiwa, mayoritas warga bekerja sebagai petani dan peternak sapi. Udara sejuk khas pegunungan langsung terasa begitu memasuki kawasan ini. Aktivitas warga berlangsung seperti biasa, jauh dari isu-isu panas yang ramai di media sosial maupun layar televisi.
Dua Rumah Terpencil di Tengah Hutan
Di ujung utara Desa Gondang Gunung, terdapat dua rumah yang berdiri menyendiri di tepian hutan kawasan Perhutani Gunung Wilis. Letaknya cukup jauh dari permukiman utama, dikelilingi pepohonan lebat dan lahan perkebunan.
Salah satu rumah tersebut dihuni Mbah Jamuri bersama istrinya. Ia telah puluhan tahun menetap di lokasi itu. Meski ketiga anaknya memilih tinggal di kawasan yang lebih ramai, Mbah Jamuri tetap bertahan di rumahnya yang sederhana di tengah hutan.
Menurut penuturannya, keputusan tinggal di lokasi terpencil bukan karena keterpaksaan ekonomi. Justru sebaliknya, keluarga ini tergolong berkecukupan. Mereka memiliki lahan pertanian sendiri yang ditanami jagung dan berbagai komoditas lain. Selain itu, Mbah Jamuri juga memelihara kambing dan beberapa ekor sapi.
“Di sini biasa saja, sudah terbiasa,” kurang lebih begitu sikap yang ia tunjukkan. Baginya, situasi politik yang sedang panas bukan urusannya. Ia memilih fokus bekerja dan mengurus ternak. Bahkan untuk berjaga malam, ia menggaji seorang warga untuk menemaninya.
Pandangan Mbah Jamuri tentang kondisi nasional juga cukup lugas. Ia mengaku mengikuti perkembangan melalui YouTube, tetapi tidak ingin terlibat dalam perdebatan politik. Baginya, yang terpenting adalah tetap bekerja dan menjalani kehidupan dengan tenang.
Ibu Suratin dan Kebun di Tengah Hutan
Sekitar 200 meter dari rumah Mbah Jamuri, terdapat satu rumah lagi milik Ibu Suratin. Meski sebenarnya memiliki rumah yang lebih layak di Desa Keradinan, ia memilih tinggal di kebun yang berada di kawasan hutan tersebut.
Ibu Suratin merupakan mantan keluarga guru. Tanah di lokasi itu dibeli sejak akhir 1970-an. Kini, ia mengelola kebun berisi tanaman durian, manggis, jeruk, jagung, hingga jahe.
Alasannya sederhana: lebih mudah mengurus kebun jika tinggal di dekatnya. Meski lokasi sepi, ia tidak benar-benar sendirian. Ada pekerja yang membantu sekaligus menjaga di malam hari.
Keputusan tinggal di tengah hutan bukan karena keterbatasan ekonomi. Ia mengaku masih memiliki rumah di desa yang lebih ramai. Namun, suasana tenang dan kedekatan dengan lahan garapan menjadi alasan utama bertahan di sana.
Tak jauh dari rumahnya, terdapat kompleks makam kecil di tengah hutan. Salah satu makam bahkan memiliki tanda salib. Namun, tidak banyak informasi mengenai siapa saja yang dimakamkan di lokasi tersebut.
Semangat Warga di Lereng Gunung Wilis
Dalam perjalanan pulang dari Desa Gondang Gunung, ditemui pula seorang nenek yang masih mencangkul ladang seorang diri. Di usia senja, ia tetap bekerja menanam gandum. Semangatnya menjadi gambaran karakter warga lereng Gunung Wilis Tulungagung yang tangguh dan mandiri.
Kehidupan di desa ini berjalan apa adanya. Tidak ada hiruk pikuk kerusuhan, tidak ada teriakan demo. Warga lebih memilih berkutat dengan ladang, kebun, dan ternak mereka.
Desa Gondang Gunung menunjukkan bahwa di tengah dinamika nasional, masih ada ruang-ruang sunyi yang menawarkan ketenangan. Lereng Gunung Wilis Tulungagung bukan hanya menyuguhkan panorama alam, tetapi juga potret kemandirian warga yang memilih hidup sederhana, fokus bekerja, dan jauh dari kegaduhan.
Editor : Ichaa Melinda Putri