TRENGGALEK NJENGGELEK-Kampung Legok Nyenang Garut menjadi potret nyata kehidupan warga di pelosok pegunungan Jawa Barat. Berada di Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu, kampung ini hanya dihuni sembilan rumah dengan akses jalan setapak yang curam, licin, dan dikelilingi hutan lebat.
Perjalanan menuju Kampung Legok Nyenang Garut tidaklah mudah. Dari jalan utama, pengunjung harus melewati jalur tanah berbatu, tanjakan ekstrem, hingga turunan tajam yang berisiko jika dilalui saat hujan. Bahkan, sepeda motor tidak bisa mencapai seluruh rumah warga. Beberapa titik hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki menembus hutan.
Lokasinya berada di kawasan perbukitan Cisewu, Kabupaten Garut. Secara administratif, kampung ini masuk wilayah Desa Girimukti. Medannya yang berat membuat kampung tersebut tergolong sangat terpencil.
Akses Sulit, Hanya Ada Satu Jalur
Warga setempat menyebut jalan menuju kampung hanya satu akses utama. Jika ingin bertetangga atau menuju rumah lain, warga harus melewati jalur yang sama—menanjak dan menurun tajam di lereng pegunungan.
Sebagian lahan di sekitar kampung merupakan hak milik warga, meski tak jauh dari situ terdapat kawasan hutan Perhutani. Untuk bertahan hidup, warga membuka sawah di lereng-lereng bukit. Namun, kondisi geografis membuat pembukaan lahan sangat terbatas.
“Terpencil pisan,” ujar salah satu warga saat ditanya mengenai kondisi kampungnya. Ia menyebut hanya ada sembilan rumah di Legok Nyenang. Selebihnya, rumah terdekat berada cukup jauh dan bahkan sudah masuk kampung lain.
Perempuan Tangguh di Tengah Hutan
Di Kampung Legok Nyenang Garut, kehidupan sehari-hari warga bergantung pada sawah, kebun, dan hasil hutan. Salah satu potret ketangguhan terlihat dari seorang ibu yang tetap mengangkut kayu bakar dan membantu mengelola nira, meski suaminya sedang sakit.
Kayu bakar menjadi kebutuhan utama untuk memasak. Air nira dari pohon disadap oleh suami, sementara sang istri membantu mengangkut hasilnya melewati jalur terjal. Aktivitas itu dilakukan setiap hari dengan medan yang sama.
Di rumah lain, seorang ibu tinggal bersama suami dan satu anak yang masih duduk di bangku SMP. Anak tersebut harus berjalan kaki menempuh jalur curam untuk berangkat sekolah. Meski begitu, kampung ini sudah teraliri listrik, meski akses fasilitas umum lainnya masih jauh dari kata mudah.
Bertahan di Tengah Alam Liar
Hutan lebat mengelilingi Kampung Legok Nyenang Garut. Suasana sunyi dan minim penerangan alami membuat perjalanan terasa mencekam, terutama saat sore menjelang malam. Warga mengaku di sekitar hutan masih banyak satwa liar, termasuk ular dan hewan lain yang kerap terlihat jejaknya di tanah.
Kondisi jalan yang licin saat hujan menambah risiko. Beberapa bagian jalur bahkan nyaris seperti tebing, memaksa siapa pun yang melintas untuk ekstra hati-hati. Salah langkah bisa berakibat fatal.
Meski demikian, warga mengaku sudah terbiasa. Mereka memilih bertahan karena lahan pertanian dan sawah berada di sekitar rumah. Pindah ke tempat lebih ramai berarti harus meninggalkan sumber penghidupan.
Motor PCX di Jalur Ekstrem
Salah satu cerita unik dari Kampung Legok Nyenang Garut adalah keberadaan sepeda motor jenis besar yang digunakan warga. Di tengah jalur sempit dan tanjakan ekstrem, ada warga yang setiap hari melintas menggunakan motor matik berukuran besar.
Hal ini menunjukkan kemampuan dan kebiasaan warga dalam menaklukkan medan yang bagi orang luar terasa menakutkan. Bagi mereka, jalur ekstrem sudah menjadi bagian dari rutinitas harian.
Kehidupan di kampung ini berjalan sederhana. Tidak ada hiruk pikuk kota, tidak ada keramaian lalu lintas. Yang ada hanyalah sawah di lereng bukit, rumah kayu sederhana, dan semangat warga yang tetap bertahan di tengah keterbatasan.
Kampung Legok Nyenang Garut menjadi gambaran bahwa di balik indahnya panorama pegunungan Cisewu, ada perjuangan besar warga untuk bertahan hidup. Di tengah medan berat dan akses terbatas, mereka tetap bekerja, menyekolahkan anak, dan menjaga harapan agar kehidupan terus berjalan.
Editor : Ichaa Melinda Putri