Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Kisah Aham Jalanidhi Sampurna Jati, Pemuda Asal Trenggalek yang Miliki Hobi Ngopi hingga Punya Bisnis Kafe

Titin Ratna Rahayu • Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:44 WIB

Aham Jalanidhi Sampurna Jati berani membuak usaha Panorama Cafe di kampung halamannya di Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.
Aham Jalanidhi Sampurna Jati berani membuak usaha Panorama Cafe di kampung halamannya di Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek.

TRENGGALEK - Selama berkuliah di Universitas Brawijaya Malang, Aham Jalanidhi Sampurna Jati sering kali menghabiskan waktu luangnya di kafe. Dari kafe ke kafe inilah, pemuda asal Kecamatan Dongko, Trenggalek, ini akhirnya tertarik untuk punya usaha kafe di kampung halamannya. Kafe di Desa Sumberbening ini diberinya nama Panaroma Cafe.

Bagaimana dia bisa tertarik dengan bisnis FnB ini? Berikut wawancara Radar Trenggalek dengan Aham.

Bisa diceritakan bagaimana awal mula berdirinya Panaroma Cafe?

Awalnya selama kuliah memang hobi ngopi, waktu mengerjakan tugas, hampir tiap hari, jadi hafal sekama kafe di Kota Malang. Saya rasa di Trenggalek sudah menuju ke sana, sedangkan di tempat saya di Dongko ini belum ada yang seperti itu. Jadi, saya memiliki inisiatif untuk mencoba gitu.

Banyak orang yang ragu. Di Dongko ini ndak laku kalo kafe dikasih makanan-makanan yang agak kekota-kotaan, jadi saya mencoba tantangan itu. Kami memutuskan untuk membuat kafe, tapi makanan disesuaikan dengan kemampuan orang sini.

Jadi, hobi ngopi ini tidak selamanya buruk ya?

Iya memang, seperti saya sebagai masyarkaat Dongko, terutama yang masih memulai karier sebagai pengusaha ini, intinya jangan pernah takut untuk memulai. Apalagi kalau ada stigma-stigma negatif, misalnya kalau setiap malam kok ngopi terus, kok ndak ada manfaatnya begini- begin. Nah, itu jangan dipikirkan, jangan dimasukkan ke dalam hati. Terpenting yang kita lakukan itu ada manfaatnya. Jadi, ngopi bukan hanya sekedar minum kopi, melainkan juga mencari inspirasi dan koneksi.

Akhirnya sudah dibuka sepekan ini. Sejauh ini bagaimana kesannya melihat respon masyarakat?

Alhamdulillah sudah berjalan, pas dibuka tanggal 14 Februari, pas Valentine di Hari Kasih Sayang. Alhamdulillah disambut baik, setiap hari ada customer yang datang. Seminggu ini ternyata juga masih terus berbenah dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.

Tantangan bagi rintisan usaha adalah customer datang atau ramai di awal.

Bagaimana menghindari fenomena demikian?

Nah, ini bagaimana agar kita bisa mengutamakan pelayanan, menjaga kualitas dan rasa makanan yang kita sajikan. Pengawasan kepada tim ini penting agar pelanggan tidak kapok dan kembali datang. Mereka mau repeat order, memesan kembali. Jadi, bagaimana menjadikan Panaroma Cafe ini sebagai rumah kedua bagi pelanggan. Mereka nyaman dan betah ngafe di sini.

Ke depan, apakah juga ada keinginan untuk menjadikan Panaroma Cafe juga nyaman menjadi ruang diskusi bagi masyarakat? Nanti rencananya juga kita sediakan, memfasilitasi anak-anak muda terutama di Kecamatan Dongko ini agar ada pilihan untuk tempat diskusi. Dan juga mungkin ada momen yang tepat, bisa kita kreasikan kegiatan-kegiatan diskusi. (tin/c1/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#kafe #Universitas Brawajiya #trenggalek #Aham Jalanidhi Sampurna Jati