Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Review Garmin Forerunner 55: Smartwatch Minimalis Build in GPS Harga Rp 1,8 Jutaan, Masih Layak Jadi Daily Driver?

Edo Trianto • Senin, 23 Februari 2026 | 15:50 WIB

Review Garmin Forerunner 55: Smartwatch Minimalis Build in GPS Harga Rp 1,8 Jutaan, Masih Layak Jadi Daily Driver?
Review Garmin Forerunner 55: Smartwatch Minimalis Build in GPS Harga Rp 1,8 Jutaan, Masih Layak Jadi Daily Driver?

TRENGGALEK JENGGELEK - Garmin Forerunner 55 kembali menarik perhatian setelah harganya turun di kisaran Rp 1,8–1,9 jutaan. Smartwatch minimalis dengan build in GPS ini menjadi salah satu seri paling terjangkau dari Garmin, namun tetap membawa identitas kuat sebagai sportwatch untuk pelari.

Garmin Forerunner 55 bukan model terbaru, tetapi masih banyak diburu karena reputasi brand dan daya tahannya. Dengan harga yang kini lebih ramah kantong, banyak pengguna mulai membandingkannya dengan smartwatch lain di kelas Rp 1 jutaan, bahkan menjadikannya kandidat daily driver.

Lantas, dengan spesifikasi yang ditawarkan dan pengalaman pemakaian dua mingguan, apakah Garmin Forerunner 55 masih layak dibeli di 2024?

Desain Minimalis, Ringan, dan Nyaman Dipakai

Dari sisi desain, Garmin Forerunner 55 tampil dengan model layar bulat (round screen). Ukurannya 42 mm dengan ketebalan sekitar 11–12 mm dan bobot hanya 37 gram. Untuk pergelangan tangan kecil 16 cm, ukurannya terasa pas dan tidak berlebihan.

Material bodinya memang berbahan plastik, tetapi terasa solid dan ringan. Strap 20 mm menggunakan sistem quick release sehingga mudah diganti. Selama pemakaian hampir dua minggu, strap terasa nyaman dan tidak mudah membuat tangan berkeringat berlebihan.

Untuk pengoperasian, jam ini mengandalkan lima tombol fisik tanpa layar sentuh. Bagi sebagian orang mungkin terasa “jadul”, tetapi di outdoor justru terasa presisi. Saat tangan berkeringat, penggunaan tombol lebih akurat dibanding harus swipe layar sentuh.

Layar MIP Jelas di Outdoor, Redup di Indoor

Garmin Forerunner 55 menggunakan layar MIP (Memory in Pixel) reflective display berukuran 1,04 inci dengan resolusi 208 x 208 piksel. Layar ini bukan AMOLED, sehingga tampilannya tidak secerah smartwatch modern.

Namun ada keunggulan penting: semakin terang cahaya matahari, layar justru semakin jelas terbaca. Untuk aktivitas outdoor seperti lari di bawah terik matahari, visibilitasnya sangat baik.

Di dalam ruangan dengan cahaya redup, tampilannya memang sedikit gelap. Meski tersedia lampu latar, tetap tidak semewah layar AMOLED. Layar juga always-on tanpa menguras baterai secara signifikan.

Watch face bisa diganti langsung dari perangkat atau diunduh melalui aplikasi Garmin Connect.

Fitur Olahraga dan GPS

Sebagai lini Forerunner, fokus utamanya tentu pada olahraga, khususnya lari. Mode olahraga yang tersedia meliputi lari outdoor, treadmill, sepeda, cardio, yoga, renang, hingga HIIT.

Koneksi GPS tergolong cepat saat mencari sinyal. Namun dalam pengalaman penggunaan, akurasi jalur GPS terkadang kurang presisi. Garis rute lari sesekali terlihat sedikit keluar jalur.

Sensor heart rate juga menjadi catatan. Saat olahraga, detak jantung kadang terasa kurang stabil dan terkesan lebih rendah dibanding perangkat lain. Auto pause juga dinilai terlalu sensitif dan bisa aktif saat gerakan sedikit melambat.

Meski demikian, untuk penggunaan kasual dan pelari pemula, fitur yang ada masih cukup mumpuni.

Fitur Kesehatan dan Body Battery

Salah satu keunggulan Garmin Forerunner 55 adalah fitur Body Battery. Fitur ini membantu memantau tingkat energi tubuh berdasarkan aktivitas, stres, dan kualitas tidur.

Pemantauan stres, heart rate, dan body battery berjalan real time di latar belakang. Data tidur juga tersedia, meski tanpa skor tidur detail seperti seri yang lebih tinggi.

Sayangnya, perangkat ini belum memiliki sensor SpO2 (kadar oksigen darah) dan tidak mendukung Bluetooth call. Notifikasi pesan dan telepon tetap bisa masuk, tetapi tidak bisa membalas langsung dari jam.

Daya Tahan Baterai

Dalam pemakaian normal satu hari dengan GPS dan sensor aktif, baterai turun sekitar 15 persen. Konsumsi ini wajar mengingat fitur monitoring berjalan terus-menerus.

Garmin Forerunner 55 juga memiliki ketahanan air yang aman untuk berenang dan kehujanan. Tidak ada speaker maupun mikrofon, sehingga lebih fokus sebagai sportwatch ketimbang smartwatch komunikasi.

Masih Layak Jadi Daily Driver?

Dengan harga di bawah Rp 2 juta, Garmin Forerunner 55 menawarkan nilai menarik bagi pengguna yang mengutamakan fitur olahraga dan GPS.

Memang ada kekurangan seperti layar non-AMOLED, tanpa touchscreen, tanpa Bluetooth call, serta sensor heart rate yang kadang kurang presisi. Namun untuk pelari pemula atau pengguna yang ingin sportwatch ringan, minimalis, dan tahan lama, perangkat ini tetap relevan.

Di kelas harga Garmin, Forerunner 55 termasuk yang paling terjangkau. Bagi yang ingin fitur lebih lengkap seperti AMOLED dan sensor tambahan, tentu harus naik ke seri yang lebih tinggi.

Jadi, jika fokus utama adalah olahraga dan monitoring dasar dengan reputasi brand kuat, Garmin Forerunner 55 masih pantas dipertimbangkan sebagai daily driver.

Editor : Edo Trianto
#review Garmin Forerunner 55 #garmin forerunner 55 #smartwatch garmin #harga Garmin Forerunner 55 #Sportwatch AMOLED