JAKARTA - Perdebatan soal peran nuclear dan renewable energy dalam transisi energi global kini memasuki babak baru. Jika dulu keduanya kerap diposisikan sebagai pesaing, kini tren industri menunjukkan arah sebaliknya: nuclear dan renewable energy justru dipandang sebagai kombinasi ideal untuk menjawab lonjakan kebutuhan listrik dunia.
Diskusi para pelaku industri energi global menegaskan, permintaan energi diproyeksikan meningkat drastis dalam dua dekade ke depan. Bahkan, sejumlah proyeksi menyebut kebutuhan energi global bisa melonjak dua kali lipat hingga 2050. Dalam konteks inilah, nuclear dan renewable energy disebut harus berjalan beriringan.
Laporan dan analisis dari berbagai lembaga energi internasional memperlihatkan, penetrasi energi terbarukan seperti surya dan angin memang tumbuh sangat cepat. Biaya pembangkitan listrik dari renewable energy juga terus turun signifikan. Namun, di balik keunggulan itu, ada tantangan besar yang belum sepenuhnya teratasi: intermitensi atau ketidakstabilan pasokan.
Intermitensi Jadi Tantangan Renewable Energy
Energi surya dan angin sangat bergantung pada kondisi alam. Ketika matahari tidak bersinar atau angin tidak bertiup, produksi listrik otomatis menurun. Untuk mengatasi ini, sistem kelistrikan membutuhkan kapasitas cadangan seperti baterai skala besar atau penyimpanan hidro.
Dalam sistem dengan penetrasi renewable energy hingga 60–80 persen, biaya justru bisa meningkat tajam. Pasalnya, negara harus membangun kapasitas pembangkit berlebih serta infrastruktur penyimpanan energi dalam skala besar. Pada titik inilah nuclear dan renewable energy dianggap saling melengkapi.
Energi nuklir menawarkan keunggulan berupa pasokan listrik stabil (baseload) tanpa emisi karbon tinggi. Saat renewable energy mengalami fluktuasi, pembangkit nuklir bisa menjaga kestabilan jaringan listrik. Kombinasi ini dinilai mampu menciptakan sistem energi rendah karbon yang andal sekaligus efisien.
Data terbaru menunjukkan sekitar 40 persen listrik rendah karbon global saat ini dihasilkan oleh pembangkit nuklir. Angka tersebut menegaskan bahwa nuklir tetap menjadi pilar penting dalam bauran energi rendah emisi.
Kebangkitan Reaktor Modular dan Micro Reactor
Salah satu inovasi yang kini menjadi sorotan adalah pengembangan small modular reactor (SMR) dan micro reactor. Teknologi ini dirancang lebih kecil, fleksibel, serta dapat diproduksi di pabrik secara standar—berbeda dengan pembangkit nuklir konvensional yang memerlukan proyek konstruksi besar dan mahal.
Micro reactor bahkan hanya menghasilkan sekitar 1 megawatt listrik per unit, namun dapat ditingkatkan kapasitasnya dengan menempatkan beberapa unit dalam satu lokasi. Keunggulannya, reaktor ini bisa dipasang di wilayah terpencil, kawasan industri, atau daerah dengan keterbatasan jaringan listrik.
Pendekatan “behind the meter” memungkinkan listrik diproduksi langsung di dekat pengguna, tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan distribusi nasional. Hal ini dianggap solusi atas bottleneck terbesar dalam transisi energi: distribusi listrik dan keterbatasan grid.
Selain itu, ukuran reaktor yang kecil membuatnya lebih mudah diproduksi massal di pabrik. Standarisasi ini diharapkan mampu menekan biaya dan mempercepat waktu pembangunan, dua faktor yang selama ini menjadi kritik utama terhadap energi nuklir.
Tantangan Biaya dan Regulasi
Meski demikian, pembangunan reaktor besar di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, sempat menghadapi lonjakan biaya hingga dua kali lipat dari proyeksi awal. Para analis menilai persoalan ini bukan soal teknologi, melainkan proses konstruksi dan perizinan yang kompleks.
Kepastian kebijakan (policy certainty) disebut sebagai kunci utama. Tanpa arah kebijakan energi jangka panjang yang jelas, investor akan ragu menanamkan modal pada proyek berskala besar dan berjangka panjang seperti nuklir.
Forum global seperti COP28 juga menunjukkan adanya dukungan lebih luas terhadap energi nuklir sebagai bagian dari solusi iklim. Sejumlah negara mulai menetapkan target ekspansi kapasitas nuklir untuk melengkapi renewable energy.
Soal Emisi dan Jejak Karbon
Dalam hal jejak karbon, baik nuclear maupun renewable energy berada pada level emisi yang sangat rendah dibanding batu bara atau gas. Beberapa negara dengan kombinasi optimal antara nuklir dan energi terbarukan bahkan mampu mencatat emisi sekitar 10 gram CO2 per kWh, jauh lebih rendah dibanding negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Artinya, perdebatan bukan lagi soal memilih salah satu, melainkan merancang bauran energi paling tepat sesuai kondisi masing-masing negara. Faktor potensi surya, angin, hidro, hingga kesiapan industri dan regulasi menjadi penentu utama.
Dengan proyeksi lonjakan kebutuhan energi global, pertanyaan kini bukan lagi apakah nuclear dan renewable energy bisa bekerja bersama. Pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat integrasi itu dapat diwujudkan demi menjaga stabilitas pasokan, menekan emisi, dan memastikan biaya energi tetap terjangkau.
Editor : Ichaa Melinda Putri