JAKARTA - Ancaman perang dunia ketiga kembali menjadi sorotan setelah Presiden RI Prabowo Subianto mengingatkan potensi eskalasi konflik global yang bisa berujung pada perang nuklir. Kekhawatiran soal perang dunia ketiga ini dinilai bukan sekadar spekulasi, melainkan sinyal serius dari dinamika geopolitik internasional yang kian memanas.
Pengamat hubungan internasional, Nasir Tamara, menilai peringatan tersebut harus dipahami sebagai informasi strategis. Menurutnya, sebagai kepala negara sekaligus panglima tertinggi, Prabowo memiliki akses langsung pada informasi tingkat tinggi dari para pemimpin dunia.
Nasir menyebut, ancaman perang dunia ketiga berpotensi membawa dampak luar biasa jika sampai melibatkan senjata nuklir. Ia mengingatkan, pada Perang Dunia II dengan teknologi yang jauh lebih sederhana saja, korban jiwa mencapai sekitar 50 juta orang. Apalagi jika perang modern melibatkan hulu ledak nuklir yang berpotensi memicu “winter nuklir” atau musim dingin nuklir selama puluhan tahun.
Iran dan Ukraina Jadi Titik Rawan
Dalam analisisnya, Nasir menyoroti dua titik konflik yang berpotensi menjadi pemantik perang dunia ketiga, yakni Iran dan Ukraina.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran disebutnya sebagai salah satu risiko terbesar saat ini. Ia menyinggung pengerahan armada Amerika Serikat ke wilayah Laut Arab dan Teluk Persia, termasuk kapal induk bertenaga nuklir yang dilengkapi pesawat tempur serta sistem rudal modern.
Di sisi lain, Iran juga menggelar latihan militer besar-besaran di kawasan Teluk Persia dan mengeluarkan peringatan keras terhadap pihak mana pun yang dianggap menghalangi. Sinyal-sinyal ini dinilai sebagai bagian dari eskalasi militer yang berbahaya.
Sementara itu, konflik antara Rusia dan Ukraina juga tetap menjadi sumber ketegangan global. Meski belum sampai pada penggunaan senjata nuklir, perang tersebut tetap menjadi pemantik potensial jika melibatkan kekuatan besar lain secara langsung.
Pola Lama, Ancaman Baru
Nasir membandingkan situasi saat ini dengan pola sebelum invasi Amerika Serikat ke Irak pada era Saddam Hussein. Saat itu, isu senjata pemusnah massal menjadi alasan utama pembentukan koalisi internasional.
Ia menilai pola serupa bisa saja terjadi dalam konteks Iran, terutama terkait isu pengembangan program nuklir. Namun, ia juga menekankan bahwa Iran memiliki pengalaman panjang konflik sejak revolusi 1979 serta kapasitas militer yang tidak bisa dianggap remeh.
Menurutnya, potensi konflik langsung antara Amerika Serikat dan Iran akan membawa dampak jauh lebih luas dibanding konflik regional biasa, mengingat posisi Amerika sebagai super power global.
Indonesia Harus Perkuat Ketahanan Nasional
Menghadapi kemungkinan eskalasi perang dunia ketiga, Nasir menekankan pentingnya kesiapan nasional Indonesia. Ia menyebut penguatan persatuan dalam negeri sebagai langkah pertama yang mutlak dilakukan.
Menurutnya, konflik politik internal yang tajam justru akan melemahkan daya tahan nasional. Dalam situasi global yang tidak menentu, Indonesia harus memastikan stabilitas domestik tetap terjaga.
Selain itu, kesiapan militer juga dinilai penting. Penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista), pelatihan berkelanjutan bagi prajurit, serta kesiapan logistik dan infrastruktur pertahanan menjadi faktor kunci.
Nasir bahkan menyinggung pentingnya mobilisasi nasional jika situasi benar-benar memburuk. Dalam skenario terburuk, perang modern—terutama yang melibatkan senjata nuklir—akan berdampak pada seluruh sektor, mulai dari ekonomi, perbankan, hingga industri strategis.
Ia mengingatkan bahwa perang berskala besar belum pernah benar-benar terjadi di era modern dengan teknologi saat ini. Banyak simulasi dilakukan melalui model komputer, tetapi realitas di lapangan bisa jauh lebih kompleks dan destruktif.
Karena itu, ancaman perang dunia ketiga dan perang nuklir tidak boleh dipandang sebagai isu jauh dari Indonesia. Kesiapan nasional, baik dari sisi pertahanan, ekonomi, maupun persatuan sosial, dinilai menjadi fondasi utama untuk menghadapi segala kemungkinan di tengah ketidakpastian global.
Editor : Ichaa Melinda Putri