Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Skenario Perang Nuklir 2026: New START Berakhir, AS–Rusia–Cina Memanas, Indonesia Terancam Nuclear Winter?

Ichaa Melinda Putri • Senin, 23 Februari 2026 | 21:25 WIB

Skenario Perang Nuklir 2026: New START Berakhir, AS–Rusia–Cina Memanas, Indonesia Terancam Nuclear Winter?
Skenario Perang Nuklir 2026: New START Berakhir, AS–Rusia–Cina Memanas, Indonesia Terancam Nuclear Winter?

JAKARTA - Skenario perang nuklir 2026 kembali mencuat seiring memanasnya hubungan tiga kekuatan besar dunia: Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Kekhawatiran ini menguat setelah kesepakatan pembatasan senjata strategis, New START, dipastikan berakhir pada 5 Februari 2026 tanpa kepastian perpanjangan.

Dalam sejumlah narasi geopolitik, perang nuklir 2026 bukan lagi dianggap wacana usang era Perang Dunia II. Ketegangan baru muncul dari rivalitas kekuatan besar, tekanan terhadap program nuklir Iran, hingga potensi perlombaan senjata setelah berakhirnya New START.

Di bawah kepemimpinan Donald Trump yang kembali menjabat sejak 2025, Washington disebut mendorong kesepakatan nuklir baru yang lebih “modern” dan melibatkan Tiongkok. Namun Beijing menolak proposal tersebut. Sementara Moskow disebut berulang kali membuka komunikasi untuk melanjutkan perjanjian lama.

Jika tidak ada kesepakatan baru, batas maksimal 1.550 hulu ledak nuklir per negara sebagaimana diatur dalam New START tidak lagi mengikat. Artinya, baik Amerika Serikat maupun Rusia berpotensi meningkatkan arsenal nuklirnya tanpa pembatasan formal.

Tekanan terhadap Iran dan Eskalasi Global

Ketegangan lain muncul dari isu nuklir Iran. Washington dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap Teheran, termasuk pembatasan pengayaan uranium dan pengerahan kekuatan militer di kawasan Teluk Persia. Langkah ini disebut bertujuan menjaga stabilitas Timur Tengah dan melindungi sekutu seperti Israel.

Namun, langkah tersebut juga memicu respons keras dari Iran. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa satu gesekan kepentingan saja bisa memicu eskalasi lebih luas, terutama jika melibatkan kekuatan nuklir lain.

Di luar tiga poros utama, negara seperti Korea Utara terus mengembangkan program nuklirnya. Bahkan negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang mulai mempertimbangkan opsi pertahanan yang lebih mandiri di tengah ketidakpastian keamanan kawasan.

Tren ini mengindikasikan kembalinya perlombaan senjata nuklir, menjauh dari semangat denuklirisasi global.

Dampak Perang Nuklir 2026 bagi Indonesia

Meski Indonesia bukan negara pemilik senjata nuklir, dampak perang nuklir 2026 tetap bisa dirasakan. Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya telah mengingatkan bahwa dalam simulasi perang dunia yang melibatkan nuklir, negara yang tidak terlibat pun tetap terdampak.

Secara langsung, Indonesia memang tidak berada di pusat konflik seperti Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Namun paparan partikel radioaktif dapat menyebar lintas batas melalui atmosfer. Partikel ini berpotensi merusak sel dan DNA, meningkatkan risiko kanker, hingga menyebabkan sindrom radiasi akut.

Lebih jauh, ancaman “nuclear winter” atau musim dingin nuklir menjadi momok serius. Debu radioaktif yang terlempar ke atmosfer bisa menghalangi sinar matahari dalam jangka panjang. Para ahli memperkirakan efek ini dapat berlangsung puluhan tahun.

Dampaknya bukan hanya pada suhu global, tetapi juga pada ketahanan pangan. Gagal panen massal, gangguan rantai pasok, hingga krisis ekonomi global bisa terjadi. Indonesia sebagai negara agraris dan bagian dari ekonomi dunia tentu tidak kebal terhadap efek domino tersebut.

Politik Bebas Aktif di Tengah Ancaman

Menghadapi ketidakpastian ini, Indonesia menegaskan kembali politik luar negeri bebas aktif. Pemerintah menyatakan tidak akan bergabung dalam pakta militer mana pun, demi menjaga posisi netral dan mendorong perdamaian.

Prinsip “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak” kembali ditegaskan sebagai fondasi diplomasi Indonesia. Namun, sikap netral juga membawa konsekuensi: Indonesia harus memperkuat pertahanan dan ketahanan nasional secara mandiri.

Skenario perang nuklir 2026 memang belum tentu terjadi. Namun dinamika geopolitik yang memanas, berakhirnya perjanjian pembatasan senjata, serta meningkatnya rivalitas global menjadi peringatan bahwa stabilitas dunia tidak lagi sekuat sebelumnya.

Harapan global tentu satu: agar diplomasi dan negosiasi tetap menjadi pilihan utama. Sebab jika perang nuklir benar-benar pecah, dampaknya tidak mengenal batas negara dan generasi.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#nuclear winter #Prabowo Subianto #perang nuklir 2026 #New START #Amerika Serikat Rusia Cina