Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Xingmazhou, Pulau Tanpa Jembatan di Changsha China: Di Bawah Rel Kereta Cepat 300 Km/Jam, Warga Masih Naik Feri

Ichaa Melinda Putri • Senin, 23 Februari 2026 | 21:30 WIB

Xingmazhou, Pulau Tanpa Jembatan di Changsha China: Di Bawah Rel Kereta Cepat 300 Km/Jam, Warga Masih Naik Feri
Xingmazhou, Pulau Tanpa Jembatan di Changsha China: Di Bawah Rel Kereta Cepat 300 Km/Jam, Warga Masih Naik Feri

CHANGSHA - Xingmazhou, pulau tanpa jembatan di Changsha China, menjadi potret kontras antara modernitas dan kehidupan tradisional. Di tengah derasnya laju kereta cepat yang melintas setiap beberapa menit, sekitar 800 warga di pulau ini masih bergantung pada perahu feri sebagai satu-satunya akses keluar masuk wilayah mereka.

Xingmazhou terletak di tengah Sungai Xiang, membelah Kota Changsha, Provinsi Hunan. Sekilas, tak ada yang menyangka bahwa di balik hiruk pikuk kota modern dengan jaringan kereta cepat canggih, terdapat sebuah “dunia yang hilang” tanpa jembatan penghubung ke daratan utama.

Pulau tanpa jembatan di Changsha China ini hanya bisa diakses menggunakan feri. Tarifnya 5 RMB per orang untuk perjalanan pulang-pergi dan 20 RMB bagi kendaraan. Waktu tempuh penyeberangan hanya sekitar lima menit. Namun bagi warga, perahu tersebut adalah urat nadi kehidupan.

Sejarah Seribu Tahun Xingmazhou

Nama Xingmazhou sudah ada sejak hampir seribu tahun lalu. Pada masa Dinasti Lima dan Sepuluh Kerajaan, Raja Ma Yin menjadikan Tanzhou—nama lama Changsha—sebagai ibu kota. Pulau ini digunakan untuk menggembalakan kuda kerajaan. Dari situlah nama “Xingmazhou” yang berarti “Pulau Kuda Makmur” berasal dan bertahan hingga kini.

Berbeda dengan pulau-pulau lain di Sungai Xiang yang telah berubah menjadi kawasan wisata atau bahkan terbengkalai, Xingmazhou tetap dihuni masyarakat yang menjalani kehidupan pedesaan tradisional.

Mayoritas warga menggantungkan hidup dari pertanian. Mereka menanam padi, sayuran, serta memelihara unggas dan kambing. Tanpa polusi industri, udara di pulau ini terasa lebih bersih dibanding pusat kota. Jalan lingkar sepanjang enam kilometer mengitari pulau, kerap dimanfaatkan untuk berjalan santai atau bersepeda.

Hidup di Bawah Bayang Kereta Cepat

Keunikan paling mencolok dari Xingmazhou adalah keberadaan jalur Shanghai–Kunming High-Speed Railway yang melintang tepat di atasnya. Jembatan rel raksasa dengan 12 tiang pancang berdiri kokoh di tanah pulau.

Setiap tiga menit sekali, kereta melesat dengan kecepatan lebih dari 300 kilometer per jam. Dari atas, penumpang melihat hamparan sawah dan rumah-rumah sederhana. Sementara warga di bawah sudah terbiasa dengan suara “raksasa baja” yang meraung di langit mereka.

Kontras ini terasa nyata: teknologi transportasi paling mutakhir berdampingan dengan moda penyeberangan tradisional. Dua abad seolah bertemu di satu titik geografis yang sama.

Tantangan Hidup Tanpa Jembatan

Namun kehidupan di pulau tanpa jembatan di Changsha China ini bukan tanpa tantangan. Ketiadaan akses darat membuat warga harus menyesuaikan diri dengan jadwal feri yang beroperasi setiap 40 menit pada siang hari.

Bagi warga lanjut usia, setiap kunjungan ke dokter berarti harus menunggu feri. Dalam kondisi darurat, waktu tunggu bisa menjadi faktor krusial. Biaya pengiriman barang juga lebih mahal, sehingga harga kebutuhan pokok sedikit lebih tinggi dibanding wilayah kota.

Minimnya akses turut memengaruhi lapangan kerja. Banyak anak muda memilih merantau ke pusat Kota Changsha demi peluang ekonomi yang lebih baik. Akibatnya, populasi pulau didominasi warga lanjut usia.

Antara Konservasi dan Pariwisata

Dalam beberapa tahun terakhir, Xingmazhou mulai dikenal sebagai “hidden gem” di media sosial. Sejumlah penginapan kecil, area berkemah, dan kabin sederhana mulai dibangun. Meski begitu, suasana desa autentik masih terasa kuat.

Menjelang Tahun Baru Imlek, warga tampak sibuk menggantung lentera merah di depan rumah. Tradisi tetap dijaga, meski modernitas terus melintas di atas kepala mereka.

Pemerintah setempat kini berupaya menyeimbangkan konservasi lingkungan dengan pengembangan wisata. Tujuannya agar pulau tetap lestari, tanpa kehilangan identitas sebagai desa agraris yang tenang.

Bagi pengunjung, Xingmazhou terasa seperti kapsul waktu. Di satu sisi, gemuruh kereta cepat melambangkan kemajuan pesat China. Di sisi lain, kehidupan warga yang sederhana menghadirkan ketenangan khas pedesaan.

Pulau ini menjadi simbol pertemuan dua era: urbanisasi masif dan tradisi yang bertahan. Sebuah ruang di mana masa depan dan masa lalu berjalan berdampingan—dipisahkan hanya oleh rel baja di udara.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#Xingmazhou #Pulau tanpa jembatan #Shanghai Kunming High Speed Railway #Changsha Chin #Kereta cepat China