BEIJING - SAWES S2000, inovasi terbaru dari China, disebut-sebut sebagai “power bank terbang” raksasa yang mampu mengalirkan listrik ke 1.500 rumah tangga hanya dari energi angin. Teknologi ini langsung menyita perhatian dunia karena dinilai menjadi terobosan baru dalam sistem pembangkit listrik tenaga angin.
Perangkat bernama lengkap Stratospheric Airborne Wind Energy System (SAWES) S2000 ini dikembangkan oleh perusahaan energi asal Beijing, Beijing Lin Yunchuan Energy Technology. Sistem tersebut menggabungkan balon udara berisi helium dengan turbin angin dalam satu unit pembangkit listrik udara.
SAWES S2000 diklaim sebagai sistem pembangkit listrik tenaga angin kelas megawatt pertama di dunia yang beroperasi di ketinggian. Konsepnya sederhana namun revolusioner: memanfaatkan angin kencang di lapisan udara atas untuk menghasilkan listrik secara lebih stabil dan efisien.
Terbang di Ketinggian 2.000 Meter
Secara desain, SAWES S2000 berbentuk menyerupai balon udara raksasa. Dimensinya mencapai panjang 60 meter, lebar 40 meter, dan tinggi 40 meter. Meski berukuran besar, sistem ini mampu terbang hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan tanah.
Di bagian tubuh balon dipasang kincir angin yang berfungsi sebagai turbin. Saat diterpa angin di ketinggian, turbin tersebut berputar dan menghasilkan energi listrik. Listrik kemudian dialirkan ke darat melalui kabel transmisi khusus.
Dalam uji terbang pada 24 Januari 2026, SAWES S2000 berhasil menghasilkan listrik sebesar 385 kWh. Daya sebesar itu disebut cukup untuk memasok kebutuhan sekitar 1.500 rumah tangga dengan konsumsi normal.
Jika dianalogikan, kapasitas energi yang dihasilkan disebut setara dengan mengisi penuh hingga 90.000 unit ponsel pintar secara bersamaan
Langsung Terhubung ke Jaringan Listrik Nasional
Salah satu keunggulan utama SAWES S2000 adalah kemampuannya langsung terhubung ke jaringan listrik utama nasional. Artinya, energi yang dihasilkan dari angin di udara bisa langsung disalurkan secara stabil ke sistem distribusi listrik tanpa perlu proses konversi tambahan yang rumit.
Pendiri sekaligus Kepala Teknologi Beijing Lin Yunchuan Energy Technology, Weng Hanke, menyebut sistem ini menjadi terobosan penting bagi perusahaannya. Ia mengklaim teknologi transmisi yang digunakan memiliki efisiensi lebih tinggi, termasuk penggunaan sistem tegangan menengah arus searah (DC) untuk meminimalkan kehilangan daya.
Media China menilai inovasi ini berpotensi membuka akses listrik ke wilayah terpencil, termasuk pulau-pulau yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional.
Lebih Ringkas dan Minim Dampak Lingkungan
Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga angin konvensional yang membutuhkan menara tinggi dan lahan luas, SAWES S2000 dinilai lebih ringkas dan fleksibel. Karena mengandalkan balon udara, sistem ini tidak memerlukan fondasi besar atau area darat yang luas.
Struktur yang relatif kompak membuatnya berpotensi dipasang di wilayah perkotaan padat penduduk yang minim lahan kosong. Selain itu, dampak lingkungannya disebut lebih kecil dibanding turbin angin darat tradisional.
SAWES juga dirancang untuk bertahan dalam kondisi cuaca buruk. Hal ini membuka peluang pemanfaatan dalam situasi darurat, seperti saat terjadi bencana alam. Sistem ini diproyeksikan mampu menyediakan pasokan listrik sementara ketika jaringan utama terganggu.
Solusi Transisi Energi Terbarukan?
Di tengah krisis iklim global dan kebutuhan transisi energi bersih, SAWES S2000 dinilai bisa menjadi alternatif baru dalam pengembangan energi terbarukan. Dengan memanfaatkan angin di lapisan udara lebih tinggi—yang cenderung lebih stabil dan kuat—efisiensi pembangkitan listrik dapat ditingkatkan.
Selain untuk pasokan listrik rumah tangga, teknologi ini juga disebut berpotensi digunakan untuk kebutuhan pemetaan cerdas dan keamanan perkotaan.
Meski masih dalam tahap awal pengembangan dan uji coba, kehadiran SAWES S2000 memperlihatkan ambisi China dalam memimpin inovasi energi masa depan.
Apakah “power bank terbang” ini benar-benar akan menjadi solusi revolusioner bagi kebutuhan listrik global? Dunia kini menunggu implementasi skala besarnya dalam beberapa tahun ke depan.
Editor : Ichaa Melinda Putri