BEIJING - Ambisi energi China kian mencuri perhatian dunia. Dari turbin angin yang melayang di langit, lautan panel surya di gurun, hingga bendungan raksasa di Sungai Yangtze, Negeri Tirai Bambu membangun sistem energi bersih dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebagai salah satu konsumen energi terbesar dunia, China selama puluhan tahun bergantung pada batu bara dan minyak. Namun kini, ambisi energi China diarahkan pada transisi besar menuju sumber terbarukan: matahari, angin, dan air.
Skalanya tidak tanggung-tanggung. Pemerintah dan industri setempat membangun proyek-proyek energi dalam ukuran gigawatt (GW) yang melampaui kapasitas banyak negara.
SAWES S2000, Turbin Angin yang Terbang 2.000 Meter
Salah satu inovasi paling ekstrem adalah Beijing Lin Yunchuan Energy Technology dengan proyek SAWES S2000 (Stratospheric Airborne Wind Energy System).
Bentuknya menyerupai kapal udara berisi helium sepanjang 60 meter dengan turbin angin terpasang di tubuhnya. Sistem ini dirancang terbang hingga 2.000 meter, menangkap angin yang lebih stabil dan kuat dibanding permukaan tanah.
Dalam uji coba Januari 2026, sistem ini menghasilkan sekitar 385 kWh listrik dan langsung terhubung ke jaringan nasional. Target desainnya berada di kisaran megawatt, cukup memasok ribuan rumah.
Keunggulannya adalah efisiensi lahan. Karena melayang di udara, sistem ini tidak membutuhkan area luas seperti turbin konvensional. Namun tantangannya juga besar: stabilitas cuaca ekstrem dan ketahanan kabel sepanjang dua kilometer.
Gurun Jadi Lautan Panel Surya 455 GW
Di daratan, ambisi energi China terlihat di wilayah Mongolia Dalam, Gansu, Ningxia hingga Qinghai. Pemerintah membangun sekitar 225 pangkalan energi terbarukan di kawasan gurun dengan target total kapasitas 455 GW—sekitar 60 persen tenaga surya dan 40 persen tenaga angin.
Salah satu yang paling mencolok adalah pangkalan energi di Gurun Kubuki, Mongolia Dalam. Luasnya sekitar 6.800 hektare dengan proyeksi kapasitas 16 GW, cukup untuk lebih dari satu juta rumah.
Di Qinghai, pendekatan unik diterapkan: panel surya dipadukan dengan peternakan domba. Bayangan panel mengurangi penguapan air dan memperlambat angin, membuat vegetasi tumbuh kembali. Rumput menutupi lebih dari 80 persen lahan yang dulu tandus, sementara domba membantu menjaga kebersihan area tanpa mesin.
Di Dunhuang, Provinsi Gansu, berdiri pembangkit surya termal dengan lebih dari 12.000 cermin yang memusatkan cahaya ke menara garam cair setinggi 260 meter. Kapasitasnya 100 MW dengan produksi tahunan sekitar 390 juta kWh serta pengurangan emisi karbon ratusan ribu ton per tahun.
Three Gorges, Raksasa di Sungai Yangtze
Energi air tetap menjadi tulang punggung. Di Sungai Yangtze berdiri Three Gorges Dam, bendungan terbesar dunia berdasarkan kapasitas terpasang, sekitar 22,5 GW.
Bendungan sepanjang 2,3 kilometer dan tinggi 185 meter ini mampu menghasilkan lebih dari 100 TWh listrik per tahun. Selain listrik, proyek ini berfungsi mengendalikan banjir dan meningkatkan navigasi sungai.
Namun proyek ini juga kontroversial. Lebih dari satu juta warga direlokasi, sementara dampak ekologis dan perubahan sedimen menjadi perdebatan panjang.
China juga merencanakan pengembangan bendungan di Sungai Yarlung Tsangpo di Tibet, yang berpotensi melampaui kapasitas Three Gorges. Namun proyek ini sensitif secara geopolitik karena sungai tersebut mengalir ke India sebagai Brahmaputra.
Gansu Wind Power Base dan “Baterai Air” Raksasa
Di sektor angin, Gansu Wind Power Base menjadi salah satu ladang turbin terbesar dunia. Kapasitasnya telah melampaui 10 GW dengan target jangka panjang mendekati 20 GW.
Masalah utama sempat muncul ketika produksi listrik melebihi kapasitas transmisi. China lalu mempercepat pembangunan jaringan ultra high voltage (UHV) untuk mengirim listrik ribuan kilometer ke kota-kota timur.
Untuk menjaga stabilitas sistem, China membangun fasilitas penyimpanan seperti Fengning Pumped Storage Power Station di Provinsi Hebei. Dengan kapasitas 3,6 GW, fasilitas ini disebut sebagai “baterai air” terbesar di dunia.
Saat listrik berlebih, air dipompa ke reservoir atas. Saat permintaan naik, air dilepas kembali melalui turbin untuk menghasilkan listrik dalam hitungan menit.
Ambisi energi China kini bukan hanya soal membangun pembangkit, tetapi menciptakan ekosistem energi raksasa yang terintegrasi—dari langit, gurun, sungai hingga pegunungan.
Pertanyaannya, apakah model ambisi energi China ini akan menjadi standar baru dunia, atau justru memunculkan tantangan global baru di masa depan?
Editor : Ichaa Melinda Putri