WASHINGTON/BEIJING – Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China kembali memanas, kali ini di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk kepentingan militer. Pemerintah AS selama bertahun-tahun menyuarakan kekhawatiran bahwa Beijing akan memanfaatkan AI untuk memperkuat kemampuan tempurnya.
Kekhawatiran itu menjadi dasar kebijakan pembatasan ekspor cip dan peralatan pembuat cip canggih ke China. Namun belakangan, sikap Washington dinilai mulai melunak. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengizinkan penerbitan lisensi ekspor untuk cip H2 buatan Nvidia ke China.
Cip H2 disebut sebagai salah satu prosesor AI tercanggih yang dipasarkan Nvidia, dengan kemampuan komputasi tinggi untuk pengolahan data skala besar—kemampuan yang relevan dalam pengembangan sistem kecerdasan buatan, termasuk untuk sektor pertahanan.
Drone AI Tiru Perilaku Hewan
Di tengah kelonggaran tersebut, laporan terbaru mengungkap perkembangan teknologi militer China yang memanfaatkan AI secara agresif. Tim peneliti dari Beihang University mengembangkan sistem drone otonom yang dirancang meniru perilaku hewan dalam pertempuran udara.
Dalam model yang dipatenkan pada April 2024, drone defensif diprogram menyerupai elang—menargetkan musuh paling rentan secara agresif dan presisi. Sementara drone penyerang meniru perilaku merpati, bergerak adaptif, menghindari ancaman, dan bertahan di tengah tekanan.
Simulasi 5 lawan 5 menunjukkan drone “elang” mampu melumpuhkan seluruh drone “merpati” dalam waktu sekitar 5,3 detik. Teknologi ini disebut menjadi bagian dari agenda modernisasi militer China dalam pengembangan sistem kawanan drone (drone swarm) otonom.
AI dan Agenda Militer PLA
Pengembangan tersebut selaras dengan visi People's Liberation Army (PLA) yang memandang AI sebagai elemen kunci dalam peperangan masa depan. Sistem senjata tanpa awak dinilai mampu:
Mengurangi ketergantungan pada intervensi manusia
Mempercepat pengambilan keputusan
Meningkatkan presisi serangan
Sejumlah teoritikus militer China bahkan menyebut era AI sebagai revolusi baru dalam peperangan modern. Operasi berbasis kawanan (swarm warfare) diprediksi menjadi metode tempur utama di masa depan, dengan dampak yang disamakan dengan penemuan bubuk mesiu dalam sejarah militer.
Keunggulan Produksi Drone
Dalam konflik modern seperti perang di Ukraina, drone telah menjadi elemen vital. China dinilai memiliki keunggulan industri signifikan, dengan kapasitas produksi lebih dari 1 juta unit drone murah per tahun—jauh melampaui kapasitas produksi Amerika Serikat yang berada di kisaran puluhan ribu unit dengan biaya lebih tinggi.
Selain drone udara, China juga memamerkan robot darat bersenjata yang dijuluki “serigala”, dirancang untuk beroperasi bersama kawanan drone dalam skenario tempur terpadu.
Laporan The Wall Street Journal menyebut sejak 2022 terdapat sedikitnya 930 paten terkait kecerdasan kawanan yang diajukan institusi terafiliasi militer China—dibanding sekitar 60 paten serupa di Amerika Serikat.
Risiko Etika dan Akuntabilitas
Meski menjanjikan keunggulan strategis, para ahli internasional memperingatkan risiko besar sistem senjata berbasis AI yang beroperasi dengan kendali manusia minimal. Keputusan mematikan yang diambil algoritma memunculkan persoalan etika, keselamatan, dan akuntabilitas—terutama dalam kondisi peperangan elektronik yang kompleks.
Beberapa akademisi China sendiri menekankan pentingnya pengawasan manusia dalam pengembangan sistem senjata AI agar tidak menimbulkan konsekuensi yang sulit dikendalikan.
Perkembangan ini mempertegas bahwa AI kini menjadi salah satu medan utama persaingan strategis antara Washington dan Beijing. Seiring kedua negara berlomba membentuk wajah peperangan masa depan, dunia pun menyaksikan babak baru revolusi militer berbasis algoritma.
Editor : Ichaa Melinda Putri